Sekantung Es Cendol

Siang terik waktu itu. Menyemburat ribuan kunang-kunang yang berkilau ke segala penjuru rumah-rumah yang berdiri berderet. Marsilam masih saja duduk tepekur di atas beranda rumah. Memandang tembok garasi luar rumah dengan lamun. Entah, ia rasai kelengangan yang mengobar-gobar dalam diri. Menusuk. Menerjang. Merongrong. Membuatnya bagai sesuatu yang memang tiada.

“Mar!” suara seseorang yang menyapa memecah lamunan Marsilam.

Ia melengos, mengecek siapa gerangan yang memanggil dirinya. Sintong, rupanya.

Ah, betul-betul melendot nian kawannya ini,” pikirnya.

Sudah lama ia menjalin hubungan pertemanan dengan Sintong. Sejak masih di bangku SD. Bukan teman sekolah sebetulnya. Teman sepermainan di perumahan.

“Yo, Tong. Nape?”

“Gak apa-apa, cuman silaturahmi ae,” cetus Sintong sambil menyunggingkan sebuah garitan senyuman. Senyum yang membikin Marsilam merasa masih menjadi seorang insan. “Lu keliatan kek capek banget. Abis ngapain?”

“Hah, iya kah? Gak ada. Gak ngapa-ngapain.”

Ia menyadari lamunan yang semenjak tadi bergayut bikin Sintong, kawannya, merasa belas padanya, seolah-olah berpikir: Ini Marsilam napa ya? Kok keliatan lagi bad mood?

“Eh, lu mau ini gak? panas banget lho hari ini,” sekonyong-konyong, Sintong menyodorkannya sesuatu.

Sebuah plastik kresek. Marsilam berharap bahwa isinya sesuatu yang menyegarkan—dingin. Berjam-jam ia menelantarkan mulutnya. Kerongkongannya apalagi, kerontang bagai padang pasir yang gersang.

“Es cendol, etdah …” kata Sintong, merayunya.

Lekas Marsilam menjemput plastik kresek yang disodori Sintong itu, mengambil satu kantung es cendol beserta sedotannya. Perlahan ia melepasi karet yang mengikat kantung es cendol itu, memasukkan sedotan begitu terbuka.

Bagai orang yang amat haus ia menyedot es cendol itu dalam-dalam. Kerongkongannya yang begitu kerontang berkisar menjadi luruh-sejuk. Nikmat minuman yang ia teguk mengalir begitu tangkas. Lautan yang berbau wangi, lautan yang meniduri air liurnya.

“Enak, Mar?” suara Sintong kembali menggema, memecah kembali renungannya.

“Eh … Enak kok. Enak.” Marsilam menjawab dengan terbata-bata kikuk.

Disedotnya lagi itu es cendol. Tiada yang mengalir di lidah maupun kerongkongan. Habis! Habis! Marsilam termangu.

Hatinya berusik “Sudah dipuaskan kehausan yang menggelora dalam dirinya. Jadi, untuk apa lagi minum sebuah lagi? Jangan loba!” 

Kemudian ia masih saja mempertahankan kemanguannya.

Bulan demi bulan telah berlewat. Dunia di luar tampak arus yang mengalir begitu deras—arus perubahan. Menelisik tiap rumah, tiap penghuni. Pula menyelimuti perumahan Marsilam. Tapi, baginya, perubahan itu tak dapat menguasai. Menyentuh dirinya pun apalagi.  Berbulan-bulan ia telah menahan. Menahan perasaan yang memang tidak seharusnya untuk ditahan. Tidak baik. Namun, pada akhirnya, perasaan itu menerobos bendungan dirinya. Hari itu tergopoh-gopoh ia berjalan. Berjalan meniti lorong yang senyap-sunyi betul di malam hari.

Sepelan-pelannya ia bersuara, “Tong, Tong, Tong. Elu di mana, Tong?”

Tiada yang menyahut. Jalanan itu makin terasa kesunyiannya. Begitu meresap, bahkan sampai ke diri Marsilam. Melongok ke bawah, Marsilam menjadi nanap. Ia melihat tangannya sedang memegang sekantung es cendol. Padahal ia sama sekali tidak membeli barang sebuah pun hari ini. Lagi pula, toko-toko sudah pada bertutupan. Apa masuk akal jika ia membeli minuman ini?

“Mar? Mar, Mar. Kenapa, Mar?” dari dalam gumpalan gelap yang melayang, Sintong melangkah memandangnya.

Marsilam membisu sejenak. Ia amati betul-betul kawannya. Tangan satu menenteng sekantung es cendol, dan tangan satunya lagi mendekap sebuah kepala tengkorak. Kepala tengkorak!

“Lu napa bawa te…ngkorak, Tong?” dengan segala kemalu-maluan juga kegigilan Marsilam bertanya.

Tengkorak, o, tengkorak, selalu saja membuatnya menggigil hebat. Sintong tiada menggubris. Ia hanya tersenyum. Senyum yang menjanggalkan. Perlahan tapi pasti, Marsilam melihat tubuh Sintong mulai lenyap bagai pasir berdesir.

“Tong, Tong, Tong! Jangan tinggalin gue, Tong! Tong …” tersedan-sedan ia memohon. Apa lacur, pasir badani perlahan tertiup. Diembus oleh angin. Angin yang menjilat Marsilam juga.

Subuh-subuh betul kala itu. Bagai orang kehujanan, seorang anak berkacamata terjaga dengan tubuhnya yang kuyup oleh peluh. Matanya berkunang-kunang. Napasnya terengah-engah. Beranjak dari kasur, ia menyambar ponsel yang tergeletak di atas meja belajar, kemudian menyalakannya.

Sejenak ia berpikir. Berpikir ingin melakukan apa dengan ponselnya. Begitu terbayang, ia menekan layar ponsel. Galeri. Menggulir, menggulir, akhirnya ia menemukan yang dicarinya. Sebuah foto di mana ia bersama kawannya sedang tertawa.

 “Sintong … Semenjak lu meninggal gegara kecelakaan, gue kesepian banget. Rasanya, gak satu pun yang bisa ganti lu sebagai teman gue. Tapi, mau kek mana lagi. Hidup mesti gue jalani. Kagak bisa tuh gue nangis terus-terusan.”

Sungai kecil mengalir lamat-lamat di atas pipinya. Ia mendekap ponselnya erat-erat. Rasanya, ia mendekap Sintong, kawannya. Kawannya yang setia. 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!