Sudah hampir satu dekade saya menghabiskan hidup di atas jok motor sebagai driver ojek online (ojol). Membelah kemacetan, berpanas-panasan, hingga kehujanan sudah menjadi bagian dari keseharian saya. Sepuluh tahun tentu bukan waktu yang sebentar untuk sekadar mencari nafkah. Bagi saya, jalanan juga merupakan guru yang mengajarkan banyak hal, terutama tentang beragam karakter manusia.
Dari ribuan wajah penumpang yang pernah menggunakan jasa ojol dan duduk di jok belakang motor yang saya kendarai, ada satu pola yang seolah tidak pernah berubah: kalimat-kalimat sakti yang keluar dari mulut pelanggan. Bagi mereka, kalimat tersebut mungkin terdengar sepele. Namun, bagi kami para driver, ucapan itu terkadang menjadi ujian kesabaran tingkat tinggi.
Nah, berikut ini tiga kalimat sakti pelanggan yang kerap membuat driver ojol mengelus dada.
Salah satu ujian kesabaran dalam dunia per-ojolan adalah ketika penumpang berkali-kali mengirim pesan melalui aplikasi agar segera dijemput. Namun, begitu driver tiba di lokasi, eh, penumpangnya justru belum siap sama sekali. Dengan santainya, keluarlah kalimat sakti tersebut.
Perlu dipahami, bagi kami para driver ojol, waktu adalah uang. Setiap menit yang dihabiskan untuk menunggu penumpang yang masih berdandan atau sibuk menyiapkan barang berarti berkurangnya kesempatan untuk mengambil pesanan lain. Apalagi, kami bekerja dengan sistem yang sangat bergantung pada waktu dan jumlah orderan yang bisa diselesaikan.
Karena itu, meminta dijemput secepat mungkin ketika diri sendiri belum siap bukan sekadar tindakan yang kurang bijak. Kebiasaan tersebut juga menunjukkan kurangnya penghargaan terhadap waktu orang lain.
Kalau memang belum siap berangkat, jangan buru-buru menekan tombol pemesanan, atuh! Kasihan abang drivernya harus “bersemedi” di pinggir jalan hanya untuk menunggu kamu selesai berdandan dan bersolek.
Hampir sama dengan kalimat pertama, ucapan ini juga menjadi salah satu kalimat paling horor bagi kami para driver ojol. Begitu permintaan tersebut keluar dari mulut penumpang, tekanan pun bertambah. Driver harus tetap berkonsentrasi mengendarai motor, tetapi di saat yang sama juga menghadapi tuntutan untuk segera sampai ke tujuan.
Situasi seperti ini tentu tidak nyaman. Fokus pengendara bisa terganggu karena harus memikirkan keselamatan di jalan sekaligus menghadapi desakan penumpang yang sedang terburu-buru. Padahal, keselamatan seharusnya tetap menjadi prioritas utama.
Perlu diingat, kalau kalian terlambat bangun atau memiliki jadwal kereta dan pesawat yang terlalu mepet, itu merupakan persoalan manajemen waktu yang perlu kalian evaluasi sendiri. Bukan berarti driver ojol tidak boleh membantu mengejar waktu, tetapi kami juga tidak bisa mengubah kondisi jalan sesuka hati.
Motor memiliki keterbatasan kecepatan dan kemampuan bermanuver. Belum lagi, ada jalan berlubang, lampu merah, kemacetan, serta berbagai kondisi lain yang tidak bisa diprediksi. Oleh sebab itu, meminta driver mengebut bukanlah solusi yang bijak.
Jangan sampai karena ingin menutupi keterlambatan sendiri, kalian justru mendesak orang lain mengambil risiko di jalan. Naik ojol itu tujuannya sampai ke tempat tujuan dengan selamat, bukan mengikuti lomba balap dadakan.
Jadi, kalau memang punya jadwal penting, usahakan berangkat lebih awal. Ingat, abang ojol bukan mesin pengendali waktu yang bisa membuat kalian tiba di tujuan secepat kilat.
Wahai kaum mageran, ada satu hal yang perlu dipahami ketika memesan makanan melalui layanan food delivery: lokasi pengantaran mengikuti ketentuan layanan dan akses yang berlaku di tempat tujuan. Untuk hotel atau apartemen, pengantaran bisa saja perlu dilakukan di lobi, meja resepsionis, atau titik serah terima yang telah ditentukan.
Namun, terkadang ada pelanggan yang meminta makanan diantarkan langsung ke depan kamar, bahkan ketika akses menuju kamar tidak semudah yang dibayangkan. Nah, di sinilah persoalan mulai muncul.
Bagi driver ojol, memasuki area privat seperti hotel atau apartemen bisa menjadi urusan yang cukup panjang. Kami mungkin harus mencari tempat parkir terlebih dahulu, melapor kepada petugas keamanan, menyerahkan identitas, hingga menunggu lift yang antreannya terkadang terasa tidak berkesudahan.
Belum lagi jika tempat tersebut menerapkan aturan khusus bagi kurir. Waktu yang seharusnya bisa digunakan untuk menyelesaikan pesanan lain justru habis untuk mengurus proses pengantaran.
Karena itu, jadilah pelanggan yang memahami keadaan. Jika aturan gedung mengharuskan makanan diserahkan di lobi atau meja resepsionis, ikutilah ketentuan tersebut. Setelah itu, kalian bisa mengambil pesanan di titik yang sudah disepakati.
Selain memudahkan driver, cara ini juga membantu proses pengantaran berjalan lebih tertib. Tentu saja, prosedur setiap hotel atau apartemen bisa berbeda, sehingga komunikasi antara pelanggan dan driver tetap diperlukan.
Intinya, jangan sampai keinginan untuk serba praktis justru membuat pekerjaan orang lain menjadi jauh lebih rumit. Memesan makanan memang mudah, tetapi menghargai tenaga orang yang mengantarkannya juga tidak kalah penting.
Itulah tiga kalimat sakti pelanggan yang kerap membuat kami para driver ojol mengelus dada. Mungkin bagi sebagian orang, ucapan-ucapan tersebut terdengar biasa saja. Namun, jika terjadi berulang kali, dampaknya bisa cukup terasa bagi orang yang setiap hari menggantungkan penghasilan dari jalanan.
Kami memahami bahwa setiap pelanggan memiliki kesibukan dan kebutuhannya masing-masing. Begitu pula dengan driver ojol yang harus membagi waktu, menjaga keselamatan, dan berusaha menyelesaikan pesanan sebaik mungkin.
Oleh karena itu, tidak ada salahnya kita mulai membiasakan diri untuk lebih menghargai waktu, tenaga, dan kondisi orang lain. Jika belum siap, pesanlah ketika sudah siap. Kalau sedang terlambat, jangan meminta driver mengambil risiko. Sementara itu, jika memesan makanan ke gedung dengan aturan khusus, pahamilah prosedur pengantarannya.
Pada akhirnya, hubungan antara pelanggan dan driver ojol bukan sekadar transaksi untuk mengantar seseorang atau mengirimkan makanan. Ada manusia yang sedang bekerja dan berusaha mencari nafkah di balik setiap layanan yang kita gunakan.
Sekali dua kali, mungkin kami masih bisa memaklumi. Namun, bukan berarti kebiasaan yang merepotkan orang lain perlu terus diulang.
Jadi, bagi siapa saja yang sudah membaca artikel ini dan kelak menggunakan jasa ojek online, yuk, lebih bijak dalam memperlakukan driver. Sebab, terkadang, menghargai orang lain tidak membutuhkan uang tambahan. Cukup dengan bersikap sopan, memahami keadaan, dan tidak menjadikan kepentingan pribadi sebagai beban orang lain.
Aa-Aa milenial pangais bungsu. Lahir dan tinggal di Bandung. Bekerja sebagai driver ojek online. Membelah kemacetan pagi-pagi, berkelahi dengan debu, dan menjadi petugas kebersihan di siang hari. Malamnya menulis. Penulis lepas di berbagai media.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!