

Ada perempuan yang diam-diam memandanginya dari balik cermin. Lelaki itu tak pernah tahu hal lain soal perempuan itu. Yang jelas, setiap kali ia menyisir rambutnya yang panjang, ada sesosok perempuan tersenyum dari balik cermin.
Tatkala ia menata buku-buku di lemari, si perempuan mengulurkan tangannya ke luar cermin, tapi segera menyelinap saat si lelaki berbalik badan.
Ia pura-pura tak tahu jika si perempuan sering mengintipinya dari balik cermin. Ia sengaja bersikap seolah-olah tak ada apa-apa, dan sesekali mengusap cermin seolah hanya membersihkan debu.
Kondisi kamarnya kian berantakan dari hari ke hari. Jarang sekali disapu. Baju-baju tercecer di atas kasur, handuk dan cucian dibiarkan menumpuk sejak kemarin, dan sebatang rokok yang belum sempat ia matikan ditinggalkan begitu saja dan pergi ke kampus tanpa beban sama sekali.
Perempuan itu pun celingukan dari balik cermin. Melirik ke kanan dan ke kiri, lalu bergumam dan bergeleng-geleng.
“Jorok banget, sih.”
Ia pun menjulurkan lehernya keluar, kemudian tangannya, hingga seluruh tubuhnya terbang pelan-pelan layaknya seekor katak yang sedang berenang. Diambilnya sapu yang berada di samping pintu. Ia mematikan rokok yang membakar gelas plastik dan mengeluarkan bau sangit. Baju-baju pun dirapikan dengan hati menggerutu. Terakhir, ia semprotkan pengharum ruangan apel yang tak pernah dipakai sejak dibeli si lelaki dua bulan lalu.
Si lelaki selalu pulang malam. Ia tak pernah betah di kamar kos. Seusai kuliah ia langsung menyasar warung-warung di pinggiran kota. Menikmati pemandangan motor yang berlalu-lalang. Jarang sekali ia nongkrong bersama teman-temannya. Ia selalu menyepikan diri dalam ramai. Ia gemar mendatangi keramaian saat tak ada satu pun orang yang ia kenal di sana.
Kunci pintu berdecak. Si perempuan mengintip dengan mata sayu dan mulut yang angop.
Lelaki itu hanya tersenyum melihat kamarnya tiba-tiba bersih dan rapi. Ia pandangi cermin itu lekat-lekat. Tatapannya tertuju pada kepala perempuan yang mulai oleng. Sikunya bertumpu pada jendela cermin, lalu segera ambruk ke dalam.
Meski melihat wajah perempuan, ia sebenarnya tak pernah benar-benar mengenal sebuah wajah. Di cermin, wajahnya dan wajah perempuan itu seolah menyatu bagai lukisan surealis. Inilah yang membuat lelaki itu jengkel dan sangat ingin tahu. Sebenarnya siapa perempuan itu? Siapa namanya? Arwah gentayangan dari manakah ia berasal?
Jam pun menunjukkan pukul dua belas lebih sepuluh menit. Si lelaki seketika merebahkan badannya dan dibuai mimpi tanpa membasuh muka, dalam posisi meringkuk ke kiri.
Begitu alarmnya berdering subuh-subuh, ia sama sekali tak berkedip. Kupingnya buntu. Si perempuan sangat terganggu dengan dering alarm itu. Ia pun melompat keluar dari cermin dengan rambut acak-acakan seperti singa liar. Diambilnya ponsel itu, lalu dipepetkan ke telinga buntu si lelaki.
“Biar mampus kau!”
Sepuluh menit kemudian ponsel itu menjerit lagi. Si perempuan menggigit keras gerahamnya. Rupanya dugaannya keliru. Kuping buntu tetaplah buntu. Ia sudah kebal. Kesunyian hidup telah menyublimkan segala yang bersuara.
“Arghhh. Dasar lelaki brengsek!” perempuan itu langsung membanting ponsel ke muka si lelaki.
Si lelaki gelagapan seketika, memandang sipit sekitar, lalu beranjak ke kamar mandi sambil mengusap-usap keningnya yang pening.
Sebelum berangkat kuliah, lelaki itu menulis di sebuah buku yang terbuka di meja belajar, “Hai perempuan gaib. Kau tak perlu sembunyi-sembunyi di balik cerminku. Kalau berani keluarlah. Sungguh kurang ajar kau menyelinap di sana tanpa izin.”
Membaca tulisan itu, si perempuan pun tertantang untuk menemui si lelaki. Malam ini ia berniat melampiaskan seluruh geramnya pada lelaki yang malas dan jorok itu.
Di depan mata yang lelap, di sanalah ia masuk dan mengetuk pintu mimpi yang ternyata tak dikunci.
Setelah menyusuri hutan dan alang-alang yang penuh debu dan pasir, tibalah ia di hadapan sebuah gua. Di kening gua itu tertulis “Lorong Kesunyian”, ia yakin lelaki itu pasti ada di ujung lorong. Dalam mimpi, setiap yang di depan mata itulah pasti jalannya.
“Halo, apakah kau mendengar suaraku?”
Sungguh aneh. Di sini tak ada gema. Tak ada pantulan suara.
Di lorong kesunyian, tak ada yang bisa didengar selain suara sunyi. Sementara, si lelaki masih asyik merokok sambil bersandar di kursi panjang.
“Haloo! Haloo!” Perempuan itu berteriak lebih keras. Tetapi sayang, semakin keras ia berteriak, semakin tak terdengar suaranya.
Ia pun kesal dan tak lagi berteriak. Ia mulai takut. Bagaimana jika ternyata lelaki itu tak ada di sana? Bagaimana jika ia tersesat dan tak bisa kembali ke dalam cermin?
Si lelaki pun mulai berjalan ke arah yang berlawanan. Dengan mata terpejam dan tanpa membuka mulut. Hanya kaki yang berjalan lamat-lamat. Ia merasa ada yang bersuara di ujung sana. Batin si perempuan yang sunyi itu terdengar bersemilir.
Suara-suara aneh pun mendatangi si perempuan. Suara yang tak umum ia dengar. Seperti bunyi denging yang datang tiba-tiba. Semacam frekuensi antara empat sampai lima ratus Hz yang dikirim melalui gelombang yang tak bisa ditangkap oleh telinga. Suara yang hanya mampu didengar oleh diam; dengan mulut terkatup, mata dibenam, kepala menunduk, dan kaki yang berhenti gusar. Ia pun mulai mengerti tentang cara kerja suara di lorong kesunyian.
Ia lalu membalas melalui gelombang yang sama. Suara mereka pun beresonansi. Serupa bunga bugenvil mulai tumbuh merayapi dinding lorong. Lampu-lampu sebesar kelengkeng pun berpendar di sela dedaunan. Suara mereka beresonansi semakin kuat. Getarannya membuat cahaya menyilaukan mata meski sama-sama terpejam. Akan tetapi, ia tak mungkin banyak bergerak. Itu hanya membuat situasi semakin rumit dan gelap. Ia harus tenang. Dan harus sunyi, seperti halnya si lelaki.
Akan tetapi, perempuan itu tak tahan dan tak ambil peduli. Ia lantas berlari ke depan, hingga cahaya sekitarnya pun jadi redup. Dengan terus berlari ke depan, ia yakin pastilah akan sampai ke tempat si lelaki. Tubuh mereka pun akhirnya bertabrakan dan tersungkur.
“Kau siapa? Siapa namamu?”
“Aku tak bisa melihat wajahmu! Kau sangat gelap!” teriak si lelaki di garis batas antara cahaya dan kegelapan.
“Dasar pemalas! Sampai kapan kau terus-terusan begini, hah?!”
“Ayo keluar dari lorong ini! Sampai busuk kau takkan pernah bisa melihat dunia!”
Mereka pun saling berteriak. Meski sebenarnya tak saling mendengar satu sama lain.
Perempuan itu lama-lama tak betah dengan situasi aneh semacam ini. Ia lalu menarik tangan si lelaki dan berlari keluar lorong yang ternyata tak pernah bisa ia capai. Lorong itu menjadi tiada berujung baginya.
Si lelaki terbangun. Mimpi pun tertutup rapat bersama perempuan cermin yang tak habis-habisnya memarahi si lelaki.
Denanyar, 17 Januari 2026
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!