Salah satu kebohongan terbesar yang kita telan bulat-bulat ketika masih kecil adalah kalimat: “Kalau sudah gede, kamu bebas menentukan jalan hidupmu sendiri.” Padahal, ketika dewasa, kita sama malah kehilangan banyak kebebasan. Iya, kenyataannya, semakin dewasa, pilihan kita justru semakin menyusut hingga ke titik nadir. Terutama dalam urusan memilih lingkaran pertemanan.
Dulu, waktu zaman sekolah atau kuliah, kita adalah raja atas preferensi sosial kita sendiri. Kalau kita tidak cocok dengan si A yang hobi pamer, kita tinggal geser duduk ke sebelah si B. Kalau satu kelas isinya orang-orang menyebalkan semua, kita punya opsi ekstrem untuk menjadi manusia kuper yang mojok di perpus sambil pasang earphone. Aman. Dunia berputar sesuai kendali kita.
Namun, begitu kita lulus dan resmi menyandang status sebagai “warga masyarakat”, hak prerogatif untuk memilih teman itu mendadak hangus terbakar. Di lingkungan sosial orang dewasa, Anda dipaksa berteman dengan siapa saja yang kebetulan lahir atau membeli tanah di dekat rumah Anda. Suka tidak suka, mau tidak mau. Kita harus terima itu.
Sebagai introvert garis keras, saya memang cukup kewalahan tinggal di desa, apalagi saya (sayangnya) sering diundang ke acara tahlilan. Yak, saya khatam betul dengan siklus penyiksaan batrai sosial ini. Tahlilan di desa itu formatnya selalu dua babak. Pertama adalah doa bersama yang khusyuk, dan babak kedua adalah festival ngerumpi setelah nasi ludes dimakan.
Di babak kedua inilah status introvert saya diuji. Sebagai anak muda yang isi kepalanya mungkin berbeda frekuensi, saya hampir pasti akan berakhir dengan mbatin, “iki pembahasan opo seh?”
Apalagi jika bersama bapak-bapak, pasti ada saja humor khasnya. Anda pasti tahu jenis humor yang saya maksud. Iya, humor yang premisnya kalau tidak tentang poligami, mengolok-olok berat badan temannya sendiri, ya tebak-tebakan garing.
Sialnya, di tengah situasi itu, saya tidak bisa langsung bangkit berdiri mengambil berkat, lalu pulang begitu saja sambil bilang kalau humor mereka tidak bermutu. Tentu saja tidak. Ini lingkungan desa. Masak iya saya mau kelihatan antisosial di tengah acara sosial?
Maka, senjata terbaik saya adalah kepura-puraan yang paripurna. Saya akan ikut tersenyum sambil mengangguk-angguk dan memasang wajah berbinar-binar, seolah-olah obrolan tentang humor seksis dan burung perkutut itu adalah topik paling revolusioner abad ini.
Kalau tingkat ketidakcocokan itu sudah mencapai level akut, misalnya ketika gerombolan ibuk-ibuk di sebelah mulai mengeluarkan humor mesum terselubung atau gosip rumah tangga orang yang dosisnya terlalu tinggi, melarikan diri secara fisik tetaplah mustahil.
Satu-satunya cara melarikan diri yang sah dan tidak melanggar hukum adat desa adalah bermain HP. Ini adalah benteng pertahanan terakhir anak muda di tengah kepungan serawung warga.
Iya, biasanya saya akan membuka layar HP, scrolling Medsos, atau sekedar membuka projek kerjaan yang sudah rampung. Pokok macak serius seolah-olah sedang membaca email penting dari CEO perusahaan multinasional.
Sejauh ini, sok sibuk dan sok asyik sendiri dengan gawai adalah trik agar orang-orang tua itu maklum. Strategi ini lumayan berhasil memotong alur interaksi tanpa harus memicu konflik antar tetangga.
Harus diakui bahwa lingkungan dewasa memang menyebalkan karena memaksa kita menurunkan standar selera obrolan demi sebuah kata suci bernama: Serawung (berbaur).
Kita mengorbankan kenyamanan ego kita untuk mendengarkan hal-hal yang tidak penting, demi menjaga harmoni kehidupan bertetangga. Karena kita tahu, hidup di masyarakat tidak bisa sendirian.
Nanti kalau rumah kita kemalingan, atau amit-amit kita meninggal dunia, yang pertama kali datang menolong bukan lingkaran pertemanan keren kita di Medsos atau kawan tongkrongan ngopi di kota, melainkan bapak-bapak bermata kantuk yang humornya garing dan ibuk-ibuk tukang gosip itu.
Jadi, ya sudahlah. Malam Jumat besok kalau ada undangan tahlilan lagi, saya akan datang lagi. Saya akan duduk manis, menyiapkan stok senyum palsu terbaik, memosisikan HP di kantong yang mudah dijangkau, dan bersiap tertawa paling keras saat ada bapak-bapak yang melontarkan jokes garing tentang susahnya hidup di bawah kendali istri.
Anggap saja itu pajak tahunan yang harus dibayar demi kelangsungan hidup yang damai di lingkungan pedasaan. Semoga saja saya kuat, atau mungkin malah terbiasa.
Introvert yang baik. Tinggal di Lamongan.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!