Bentangan Sajadah dan Isme-Isme yang Diam-Diam Kita Pelihara

Masjid menjelang salat Jumat adalah ruang eksperimen sosial gratis paling unik. Alih-alih hanya melihat salat sebagai ritual ibadah, saya justru penasaran dengan perilaku jemaahnya. Menurut saya, orang yang berjemaah dapat dijadikan subjek riset kecil-kecilan. Bukan sekadar interaksi manusia dengan Tuhan yang saya saksikan; di luar pandangan itu, ada interaksi unik dengan tempat ibadah dan sesamanya. Dari sanalah muncul suatu tesis tentang perilaku orang yang berjemaah.

Secara ruang lingkup, saya memanfaatkan jeda waktu krusial antara iqamah dan takbiratul ihram. Di menit kritis itulah, sebuah benda sederhana bernama sajadah bertransformasi menjadi penanda “isme-isme” terselubung yang dianut oleh pemiliknya.

Untuk mengabsahkan riset kecil-kecilan ini, tentu Jumat adalah waktu terbaik. Mengapa? Ya, karena jemaahnya melimpah sampai tumpah ruah ke teras. Berbeda dengan waktu salat lainnya yang safnya suam-suam kuku, jemaah Jumat itu konsisten ramainya—mungkin ada dorongan kewajiban, atau boleh jadi karena iming-iming berburu nasi berkah setelah salam. Setelah melakukan “penelitian” selama minimal tiga kali Jumatan, saya berhasil memetakan “isme-isme” jemaah berdasarkan bentangan sajadahnya. Alhasil, saya menemukan gambaran umum “isme” yang mereka anut seperti ideologi, politik, sosial, dan keyakinan. Dari gambaran umum itu, lahirlah empat paham yang saya nikahkan dengan penggunaan sajadah, yaitu kapitalisme, sosialisme, individualisme, dan pragmatisme.

“Isme-isme” itu diasosiasikan melalui empat golongan. Golongan pertama adalah penganut kapitalisme sajadah. Ciri utamanya, sajadah ukuran jumbo dihamparkan secara vertikal dan penuh. Kalau Adam Smith masih hidup, mungkin beliau akan bingung kenapa teorinya nyasar di saf-saf salat. Bukan karena mereka sedang berdagang, melainkan karena logikanya mirip: ruang pribadi harus diupayakan dan dipertahankan seluas mungkin.

Penganut ini menganggap bahwa teritorial dari ujung rumbai bawah sampai atas adalah kekuasaan kepemilikan mutlak yang tidak boleh diakuisisi oleh pihak asing. Efek sampingnya lumayan ngeri: saf jadi renggang dan susah rapat. Sebuah jarak yang konon langsung diisi oleh rombongan setan yang ikut saf gratisan. Ditambah lagi, jemaah lain biasanya nggak tegaan untuk menginjak sajadah yang wangi nan berkilau.

Golongan kedua adalah mereka yang menggunakan sajadah secara horizontal alias melintang. Cara ini sering saya temukan di masjid perkotaan dan dominan terjadi di daerah-daerah. Ada asal-usul terbentuknya pola ini. Sebelum ada karpet masjid yang empuk dan lembut sebagai alas sujud para jemaah, dahulu hanya terdapat sajadah hasil sumbangan masyarakat, dan penggunaannya dihampar memanjang lalu dibuat sambung-menyambung agar jemaah di belakang kebagian alas.

Meski kadang warna dan coraknya sudah bermutasi, setidaknya dahi dan hidung jemaah tidak kedinginan menyentuh ubin. Senasib sepenanggungan memunculkan watak sosialisme, bahwa sajadah ini bisa dirasakan jemaah lain. Doktrin golongan ini sangat jelas: “Sama rata, sama rasa.” Kelemahan tipe ini adalah ketika jemaah di sebelah kanan dan kirinya tidak tahu diri dan mendominasi ruang, si sosialis akan pasrah terimpit di tengah-tengah sajadahnya sendiri demi asas keadilan sosial bagi jemaah di samping kiri dan kanannya.

Golongan ketiga paling menarik karena kelahirannya terasa seusia dengan Gen Z, yaitu paham individualisme sajadah. Praktik individualisme ini diterapkan beberapa orang dengan cara melipat sajadah hingga seperempat ukuran. Meskipun sama-sama self-centered dengan kapitalisme sajadah, tipe individualisme tidak bermaksud memperluas wilayah pribadi.

Tipe jemaah ini tetap memperhatikan hak dan etika dalam memperlakukan jemaah lain. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa individualisme yang dianut adalah individualisme etis yang tetap mengedepankan eksistensi orang lain. Mungkin singkatnya begini: “Urusan kenyamanan dan keamanan dahiku selesai, dan aku tidak mengganggu hak jidatmu.” Sangat mencerminkan manusia modern yang ogah ribet, tetapi tetap sopan dan santun. Mereka mandiri, efisien, dan praktis.

Keempat, ada pula kelompok pragmatis. Mereka tidak membawa sajadah. Bukan karena sedang mendekonstruksi makna alas salat, melainkan ada anggapan rasional bahwa masjid di era sekarang sudah menyediakan karpet yang tebal dan wangi. Namun, kalkulasi golongan pragmatis ini kadang meleset. Perlu diketahui, beberapa masjid di daerah tidak sepenuhnya menggunakan karpet.

Golongan pragmatis ini pun akhirnya terpecah menjadi dua cabang. Pertama, tipe ambisius yang kadang telat datang, tetapi tetap berebut saf demi mendapatkan kenyamanan karpet lembut. Kedua, tipe pasrah tanpa beban yang fokus pada ibadahnya saja; salat di atas ubin tanpa alas pun jadi, yang penting kewajiban selesai dan cepat pulang.

Fenomena bentangan kain ini sebenarnya memperlihatkan ruang ibadah bertransformasi menjadi panggung yang menunjukkan dunia kecil dari realitas sosial. Kita sering kali diajarkan untuk menyatukan hati dan merapatkan barisan saat khotbah berkumandang. Namun, begitu iqamah selesai dan semua orang menatap ke bawah, ego manusiawi yang dibalut dalam bentuk kain tenun, beludru, hingga sajadah kalcer bermerek lokal mulai berbicara dengan kosakatanya sendiri. Sajadah tidak lagi sekadar menjadi pembatas antara sucinya tempat sujud dan najisnya tanah, melainkan pembatas kelas, ego, dan kenyamanan masing-masing kepala.

Mengamati “isme-isme” di atas sajadah ini memang terdengar receh. Namun, dari selembar kain beralas sujud, kita bisa melihat bagaimana sifat asli manusia terbawa sampai ke rumah Tuhan, mulai dari yang egois ingin menguasai lahan sampai yang pasrah menerima keadaan tanpa alas. Jadi, saat Jumatan, Anda termasuk penganut isme yang mana? Jangan-jangan, Anda tipe pragmatis yang cuma modal nekat mengincar karpet empuk di saf depan? Atau tipe yang mengincar nasi berkahnya saja?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!