Kekasih, lihatlah—
hari-hari kita disesaki rencana demi rencana,
waktu menjelma makhluk bergigi yang menelanku bulat-bulat,
membuat jarak antara aku, kau, dan segala yang kita sebut “kita.”
Kesibukan,
adalah alasan sebab esok harus kita genggam,
masa depan ini harus kita taklukkan,
agar tak jadi budak keadaan, agar cinta ini tak cuma impian.
Tapi sialnya, aku benci kebosanan yang datang,
menyelinap di antara notifikasi dan lambatnya waktu pada siang,
menggerogoti kebebasan kita, membuatmu ragu,
membiarkan rindu mengutuk jarak yang sebenarnya semu.
Jadi mari kita lawan—
Meski berbalut keluhan, dan berselimut ketundukan,
Lalu mencuri waktu di antara kesibukan,
dan menertawakan lelah, dengan merayakan kita di sela perjuangan.
Bilang pada bosan, ia tak akan menang,
karena kau dan aku, bukan hanya sepasang nama dalam produktivitas jam kerja,
tapi dua pemberontak yang menolak tenggelam,
dua pejuang yang menulis cinta di antara perang melawan sembilan ke lima.
Tangerang Selatan, 2025
setiap malam manusia dipaksa untuk tidur nyenyak
sementara bayang-bayang manusia lain
kerap kali mengganggu tidur-tidur yang memang terbatas
ah, manis sekali bayang kau malam tadi
laksana unggas merak bermekar
berkilauan diterpa sinar rembulan dan lampu neon yang redup di jalanan
manisku, mau kah kau duduk lebih lama bersamaku?
melihat deru jalan menghantam
keringat kering bercampur debu para pekerja
yang mengejar bayang-bayang
yang mengganggu pula
dan pulang ke rumahnya
Selamat malam pria lelah yang memikul tulang belulang yang tajam dan keras
hidup sudah tinggal menghitung waktu untukmu memenangkan hidup
keringat badai dalam musim hujan di akhir tahun
dan kemarau sudah kau lewati
percayalah, besok akan lebih baik
percayalah.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!