Surat Terbuka untuk Seorang Rakanda yang Bawa-bawa “Janda” di Posternya

1,259

Assalamualaikum, Kanda? Gimana kabarnya? Semoga selalu sehat dan selalu dinaungi kebahagiaan. Sebagai aktivis yang membela rakyat dari kedzaliman memang harus pandai merawat kesehatan tubuh dan pikiran.

Bersamaan dengan surat ini kami ingin menyampaikan terima kasih karena sudah turun bersama-sama untuk menolak Undang-Undang Cipta Kerja (CILAKA) Omnibus Law bersama kawan-kawan mahasiswa dan buruh lain. UU Cilaka memang harus dilawan, harus diberantas sampai tuntas karena kita semua akan terkena imbas—seperti yang dikatakan orator tadi.

Kami tahu, beberapa dari kalian (atau malah semua) mungkin tersinggung jika disebut aktivis seksis. Sebab kalian pasti ikut merasa mengawal isu yang sangat darurat sehingga tindakan apapun yang dilakukan adalah langkah lain untuk menyampaikan aspirasi.

Kebetulan, tadi siang kami dan kawan-kawan lain mendapati salah satu dari ratusan kader insan cita yang hadir saat itu, sedang asyik mengangkat poster bertuliskan “Hidup Janda, Berikan Kami Janda Muda!”

Sontak kami kaget karena kata-kata pada poster itu mengandung tendensi yang buruk. Kami sudah tegur, malah semakin kencang berteriak janda. Kalau dirasa itu bukan masalah, mungkin ada yang salah dengan cara pandangmu terhadap perempuan, padahal ya kami juga manusia, kok dibikin kayak orang minta barang atau makanan.

Kami sih mau husnudzzon saja. Mungkin kanda yang sudah pinter itu sempat lupa, biar kami segarkan ingatannya?

Memangnya kenapa dengan kata Janda dan guyonan sejenisnya?

Kata ‘Janda’ sendiri menurut kamus berarti perempuan yang tidak bersuami lagi karena bercerai ataupun ditinggal mati suaminya. Pada awalnya, kata ini bermakna netral, namun lama kelamaan mengalami pembusukan seiring stigma yang dilekatkan.

Selama ini kami memang selalu melihat stigma dan komentar sinis tentang janda, bahkan menjadi bahan olok-olok di media sosial, belakang truk, meme yang bertebaran di grup whatsapp sampai poster tuntutan aksi, persis seperti yang kami lihat pada hari itu. Mungkin bagi mereka yang menjadikan ini guyonan tentu menyenangkan, tetapi bagi yang memikul status tersebut tentunya amat menyakitkan.

Kami juga tidak paham kenapa ada orang yang melaberi cap negatif terhadap kelompok ini. Bukankah tidak mudah menjadi perempuan kepala rumah tangga harus menanggung beban sendirian baik secara moral dan ekonomi, eh, malah ditambah jadi bahan guyonan pula. Sepertinya sulit sekali Janda untuk keluar dari lingkaran kekerasan. Bukan begitu, kanda?

Sebagai organisatoris yang menjunjung tinggi nilai-nilai organisasi dan keislaman, kami rasa kawan-kawan semua sudah paham, bahwa upaya untuk membela kemanusiaan tidak bisa setengah-setengah. Kalau mau membela, ya setarakan semuanya, bukan malah menurunkan salah satu gender.

Oke deh, kami terima kalau kawan-kawan menganggap kami tidak asik atau terlalu serius, kan namanya juga bercanda. Tapi serius deh, kami nggak bisa menemukan letak kelucuan dari poster itu. Pilihannya ada dua, antara melakukan objektifikasi perempuan secara sadar atau ya selera humor kalian saja yang payah.

Akihirnya inilah yang kami lakukan. Poster itu kami foto, lalu diunggah ke sosial media, responnya bagaimana?

Ya tentu saja banyak yang marah juga, bukan hanya kami. Kawan-kawan lain juga menemukan sesuatu yang tidak beres dalam poster itu. Itu berarti, surat ini adalah surat terbuka dari kami yang marah, bukan dari satu kelompok saja.

Kalau memang sedari awal ingin menghapuskan penindasan, alangkah lebih bijaksana kalau bisa melihat penindasan juga ada di sekitar kita. Kami yakin, beberapa peserta dari ribuan yang hadir saat itu juga ada yang berstatus Janda. Wah, kalau mereka lihat poster pasti sakit hati.

Kami harap, dengan adanya surat ini bisa menjadi titik terang bahwa, derajat seseorang tidak akan naik hanya karena melihat orang lain atas dasar statusnya. Mungkin kedepannya, semua pelaku aksi bisa bekerja sama untuk mengadakan kelas menulis poster aksi dan literasi gender tentunya, agar kejadian siang tadi tidak terulang lagi.

Wassalamualaikum,

Dari kami, Perempuan-perempuan yang marah.

Ps: Kami tunggu surat balasannya, di nyimpang ya kak. Silakan dikirim via ayomenyimpang@gmail.com

Leave A Reply

Your email address will not be published.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More