

Pagi itu semua warga melakukan aktivitasnya seperti biasa, tak terkecuali di sebuah kampung Kosambi. Kampung itu berada tepat di belakang masjid Al Mujahidin yang berdiri di tepi jalan Raya Pantura.
Meskipun termasuk ruas jalan Pantura, Kosambi tak begitu dekat lokasinya degan pesisir.
Ayam masih berkokok dan mulai mencari makan di pekarangan rumah pemiliknya, sampai pekarangan tetangganya.
Orang-orang itu sibuk-sibuk sekali.
Ada Ceu Iran yang sedang menjemur pakaian dan semerbak harum molto jadi menuang di udara.
Ada juga Ceu Neng yang baru selesai mengantar dan menjajakan nasi uduk ke sekolah, dan terakhir ada Ceu Ihat yang sedang menggendong-gendong Upi, anak ketiganya yang masih tiga tahun.
“Ceu Neng, telur baladonya masih ada?”
“Aduh, sudah habis semua, Ceu.”
“Alhamdulillah ya.”
“Belum masak, ya?”
“Iya belum masak, ini semalam si Upi demam, ngagebret.”
“Oh, pantesan … coba atuh dikompres pakai bawang,”
Ceu Ihat kali ini sediit kesal dan sinis. Ceu Neng itu seperti sedang bicara dengar orang yang baru jadi ibu saja!
Upi itu anak ketiga dan sudah apsti lah Solihat tahu tata cara menurunkan demam ala orang tua dengan kearifan lokal dan bumbu dapur!
“Ck. Udah ….. Segini juga udah mendingan, Ceu … Udah turun demamnya, cuman udah jam segini takut kosong perutnya.”
“Oh, ini atuh sop ya sop. Nanti tungguin Si Kuntring. Ke mana ya si Kuntring teh udah jam segini belum datang juga.”
Ceu Neng masuk dan membereskan baskom-baskomnya. Ketiga tetangga itu kemudian melanjutkan aktivitasnya menunggu si Kuntring.
Si Kuntring tidak diketahui nama aslinya. Yang orang tau, ia adalah tukang sayur keliling yang berasal dari Tasik.
Setiap berkeliling, Si Kuntring selalu memakai kaos belang putih-biru muda, topi merah, memakai ras pinggang warna hitam, sambil mengayuh sepeda gerobak sayurnya.
Si Kuntring tidak punya pengeras suara di gerobaknya seperti Rujak Si Abang, yang bunyinya begini.
Rujak, rujak …
Dari Sabang sampai Merauke
Rujak si Abang memang oke
Sangat terasa khasnya, tidak percaya?
Boleh coba, cuma gope, kok!
Maka, si Kuntring selalu berteriak kira-kira, “Yeuuuuuuuuuu!”
Nada awalnya sering berubah, kadang dari G, C, kadang tiba-tiba jadi Bb#7
Pagi itu, si Kuntring datang lebih lambat dari biasanya. Ia kesulitan menyeberang jalan besar, perempatan Kosambi.
Tentu saja! Semua rang kesulitan menyeberang perempatan. Beragam truk molen, kontener, selalu menjadi sesuatu yang menakutkan di ruas jalan Pantura itu.
Makanya, si Kuntring adalah pilihan tepat untuk warga Kosambi yang cenderung tak bisa menyeberang!
“Yeuuuuuuuuuu!”
“Ceu Ihat, ini si Kuntring baru datang!”
Teriak Ceu Neng sambil menyembul-nyembulkan kepalanya ke halaman Ceu Ihat.
Ceu Ihat datang dari balik pintu membetulkan kain samping gendongan. Di gendongan, Upi mulai tidak bisa diam. Sepertinya dia agak linglung dan energinya mulai muncul lagi habis sakit, mamayu.
“Aduh, kamu teh mau gimana, sih? Susah ini Mama, hoh … “
Upi yang memang enggan menjawab itu terus menyundulkan kepalanya yang bau bawang ke sana dan ke sini
“Yeuuuuuuuu!”
Si Kuntring sampai di tengah halaman. Ceu Iran, Ceu Neng, dan tetangga-tetangga lain langsung mengerubunginya.
Solihat tak terkecuali. Sambil mencoba mengendalikan Upi, Solihat melangkah memakai sandal basah bekas menyiram tanaman. Dikarenakan anaknya yang semakin tak terkendali, Solihat hampir terpeleset.
“Astagfirullahaladzim ieu budak!”
Solihat pun semakin merongrong, tapi matanya terus melihat gerobak si Kuntring. Terong ungu, bayam, kangkung, jagung semi, jagung kuning, kotak gabus berisi ikan hidup, paketan sayur yang diplastik menggantung, dan beragam bawang-bawangan sedang dipilih orang-orang. Tunggu.
Solihat melihat turubuk!
Turubuk!
Ya, benar! Itu turubuk!
Sangat enak disayur santan!
Turubuk adalah sayur paling mantap yang sudah sangat jarang ditemukan. Turubuk tumbuh di hutan-hutan, dan turubuk itu hanya sedikit! Sekitar dua ikat saja!
Gawat! Turubuk itu sudah dipegang-pegang Ceu Yoyoh, tetangganya yang lain. Yang satu ikat lagi, sudah dilihat-lihat oleh Ceu Neng yang bawel itu!
Takut ketinggalan, Solihat berjalan cepat.
Upi semakin tak bisa diam, dan begitu sampai, Solihat langsung melepaskan kain samping gendongannya. Melepaskan si Upi yang bau bawang itu berjalan ke mana saja, terserah. Solihat harus segera mengambil turubuk dan membayar si Kuntring sebelum diambil orang.
Kalau ada yang bilang gerobak sayur itu tempat menggosip, itu adalah bohong, atau setidaknya, itu tak terjadi di Kosambi. Setiap orang yang mau berbelanja tidak punya waktu untuk bergosip dan begitu heboh berbicara,
“Ini berapa?”
“Yang ini berapa?”
“Kurangin atuh, Tring!”
“Santan mana?”
“Ketumbar mana?”
“Kunyit tak ada?”
Kira-kira begitu, lah.
Solihat langsung masuk ke dalam barisan dan mengambil turubuk. Tak perlu dipegang-pegang dulu, turubuk selalu enak dan kalau ada ulat tinggal dibuang. Begitu pikirnya.
Ia lantas memasukkan turubuk itu ke baskomnya, memegang baskom itu kencang agar tak diambil orang. Kemudian Solihat mencari santan, memilih bawang merah, cabe rawit, dan bahan lain untuk membuat sayur santan turubuk yang sudah wangi di pikirannya.
Solihat sudah selesai dengan belanjaannya. Kini ia harus menunggu giliran untuk membayar. Sudah terbayang betapa enak sayur turubuk itu dipadukan dengan nasi hangat yang baru saja matang dan asapnya masih tipis-tipis.
Setelah membayar, Solihat lalu memasuki dapurnya. Ia segera mencuci tangannya, mengambil baskom berlubang untuk mencuci bawang-bawangan, cabai, dan segala rempah yang diperlukan.
Betapa senang hatinya. Telaten betul ia mencuci tiap rempah. Pokoknya, kali ini ia akan memasak turubuk santan yang enak sekali.
Begitu selesai mencuci rempah, Solihat lalu mencuci tangannya. Air mengalir mengenai kulit yang kini punya bau bawang di sela kukunya.
Segera ia menciprat-cipratkan air dan mengelap ke dasternya, tapi, ia malah mengenai samping gendongan yang masih menempel ke lehernya.
Ia mengelap-ngelap tangan basahnya ke samping itu.
Kenapa menggantung samping di lehernya?
“Astaghfirullohaladzim! Upi!!!”
“Si Upi di mana?!” Solihat baru menyadari anaknya hilang dari gendongan.
Kepalanya langsung buyar, sudah tak ada turubuk di kepalanya.
Solihat berlari ke luar rumah. Beberapa ibu-ibu masih berdiri dan membicarakan isu flu burung. Solihat berteriak panik sambil melotot, ia melihat ke sana-ke sini, ke bawah dan ke atas untuk mencari Upi. Hatinya berdegup kencang.
Saat ini memang bukan musim penculikan anak, dan tentu saja Solihat lebih takut jika Upi ke jalan raya. Sebab penculik nampaknya tak mau mengambil anak congekan yang bau bawang.
“Upi! Upi astagfirullohaladzim!”
Suaranya menggema kencang membuat ibu-ibu langsung menyadari yang sedang terjadi.
“Atuh ke mana Ceu?”
“Tadi mah digagandong, da.”
“Makanya hati-hati kalau belanja,”
“Kok bisa lupa?”
“Ah, di dapur kali.”
“Coba sini saya lihat ke jalan.”
Beberapa ibu-ibu hambur untuk mencari si Upi. Ada yang mencari ke tepi jalan raya, ada yang ke tempat wudu masjid, dan beberapa masih berdiri sambil mencari di sekitar selokan.
Si Kuntring yang baru mau melaju itu pun kebingungan. Ia bingung mau menolong atau tidak. Sedangkan, ia masih harus membereskan sayurnya setelah diobrak-abrik pembeli.
Si Kuntring pun memutuskan untuk segera membereskan sayurnya. Ia menata kembali bayam, kangkung, jagung, dan si Kuntring mengangkat kotak styrofoam untuknya menyimpan lele.
Memang, semenjak isu flu burung merebak, ia sengaja membeli lele agak banyak. Sebab penjualan ayam pun menurun.
Tadi pun banyak ibu-ibu yang membeli lele, dan karena lele itu masih hidup, maka ia simpan lele itu di bawah, tidak di gerobaknya.
Supaya tak bau amis.
Ia sedikit bingung ketika mengangkat kotak itu. Pasalnya, ia ingat betul banyak yang membeli lele. Namun, ketika ia hendak menyimpan kotak di gerobak sayurnya, kotak itu terasa berat sekali.
Si kotak sudah di atas gerobak. Kuntring lalu ingin menghitung uangnya, jangan-jangan saking banyak dan ributnya pembeli, ada yang tidak bayar, atau malah celakanya, ada yang tidak jadi beli dan mengobok-obok saja.
Ketika uang itu sudah ia ambil dari tas pinggangnya, ia lalu membuka kotak itu.
Betapa terkejutnya si kuntring ketika membuka kotak!
“Astagfirullah!”
Si Upi yang kuyup sedang memainkan ikan di dalamnya sambil ketawa-tawa!
Menulis puisi, prosa, melukis, dan bermusik tipis-tipis. Bukunya sudah 4, As Blue As You (2022), Jayanti (2023), Notes of The Lost Sheep (2024). dan Yusuf dan Sapi Betina (2025). Suka pamer dan suka bikin pameran.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!