Wednesday, February 21, 2024
Cart / Rp0
No products in the cart.

Kenalan Penulis: Budi Hikmah

2 tahun saya hengkang dari tongkrongan, saya gak jadi apa-apa. Awokwok. Tapi belum genap 2 bulan saya nongkrong lagi, wuidih pencapaian saya udah bisa operasi sesar.

Saya hengkang sekitar 2020-2022 awal, setelah itu saya balik ke rangkulan Farid melalui Ilman. Nah, di 2021 ini Budi Hikmah nerbitkan buku. Yang berarti, saya tidak ada di sana. Saya juga belum kenal secara pribados, tapi di medsos kayanya saya dan Budi udah follow-an minggu kemarin. Kalau saya liat dari pengantarnya, sih. Budi teh kenal sama Rey gak sih? Rey yang suka berantem sama gue:( ah ya itulah. Tapi barusan saya beneran baca bukunya Budi, dan lucu.

Ya lucu selayaknya tongkrongan Farid pada umumnya. Jenaka ke filsuf-filsufan. Masa, Budi bilang etimologi manusia teh “Mana Nu Sia”. Kalau kamu nanyea mana naonna? Kamu bertanyea-tanyea? Ya coba deh beli dan baca buku ini. Lucu, serius. Tapi kzl juga pas Budi bilang asbabun nuzul kata ‘human’ adalah ‘who man?’ alias ‘saha maneh (laki-laki)?’ tapi kalau cewek jadinya apa coba huhu.

Menarik, sih. Ngomong-ngomong cocoklogi, saya jadi penasaran dan pengen ketemu sama Mas Budi. Btw, ternyata Budi itu katanya orang Cikampek loh. Maaf ya, kayanya saya belum jadi orang Cikampek karena belum foto di tulisan I Love Cikampek. Kata Andrut, kalau belum foto di tulisan I Love Cikampek berarti belum jadi orang Cikampek. Ya saya sih gapapa dan sejujurnya lebih bangga jadi wargi Dago. Yeay! Eh lanjut, saya teh ketemu Budi teh pengin bahas asbabun nuzul kata jorok seperti ng*we. Apakah benar itu berasal dari kata ‘cewek’. Selayaknya kita nyebut ngopi untuk ‘aktivitas meminum kopi’ dan kata ‘itu’ untuk menyebut ‘ngapa-ngapain cewek’ ya I know itu cocoklogi yang seksis dan toxic tapi sejujurnya ku penasaran beneran, gak ada maksud apa-apa selain untuk memvalidasi kalau penindasan terhadap perempuan sudah ada sejak dulu sebagaimana katanya per-empu-an. Aaah pokoknya gitu, lah.

Di bukunya, Budi juga bahas Enam Masa Kehidupan Manusia. Baca BAB ini bikin saya inget kata Ayah saya. Katanya, manusia yang gak mau ibadah itu makhluk yang paling ingkar janji. Padahal, dulu sebelum diturunin ke bumi, calon makhluk tuh ditanya sama Tuhan

 

Tuhan: “Heh sia mau ibadah gak?”

Calon : “Enggak ah.”

Triiiiing. Jadilah kecoa.

Tuhan: “Heh sia mau ibadah gak?”

Calon : “Mau, Ya Tuhan.”

Triiing. Jadilah manusia.

Tuhan: “Heh sia mau ibadah gak?”

Calon : “Mau Ya Tuhan, sekalian mau nerbitin buku di Pustakakipress.”

Triiiing. Jadilah Budi Hikmah.

           

Ya kira-kira begitulah. Next, saya baca soal Anak Sastra. Memang bener, sih. Anak Sastra tuh kadang suka mikirin hal yang gak penting-penting amat dipikirin seperti Kecenderungan Tipe Kepribadian pada Tim #BuburDiaduk dan Tim #BuburTidakDiaduk dalam Upaya Berkenalan dengan Diri Sendiri misalnya (?) Ya begitulah. Kalau ada yang ribet, kenapa harus yang simple? Lagian kalau orang lain bisa, kenapa aku harus juga?

Besides, anak sastra kan bingung pasti tuh mikirin mau kerja jadi apa. Nah selagi mengisi kekosongan waktu, saya rasa anak sastra suka mikirin yang gak penting. Lagian, siapa yang kaya dari menjual buku? Banyak sih. Kecuali Arin pokoknya.

Pokoknya, baca buku ini bikin kamu bakal banyak bilang “Oh iya, ya.” “Eh heeh ketang.  bener,” atau banyak lah. Meskipun saya gak terlalu ngerti bahasa Sunda lama dan arab-araban, tapi gakpapa. Buku ini tetap seru buat dibaca~

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Welcome Back!

Login to your account below

Create New Account!

Fill the forms below to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Login dulu, lur~

Nyalakan Mimpimu!