Asap hitam membumbung tinggi, menggumpal pekat di udara, terlihat jelas bahkan dari ratusan meter jauhnya. Ledakan mengguncang Istana Presiden. Dentuman keras memecah pagi, menyisakan kepanikan dan jeritan di semua tempat.
Dua anak tergeletak di jalan memegang kepalanya yang berlumuran darah. Supir pembawa bus sekolah tergeletak di depan kendaraannya. Potongan tubuh tiga orang penjaga pos gerbang berserakan di jalan raya.
Mobil presiden yang baru masuk ke istana tak hancur sama sekali. Ia masuk lima menit lebih cepat sebelum bom meledak. Seluruh televisi menyiarkan berita peledakan itu 24 jam tanpa henti. Hampir semua siniar di Youtube juga mulai menayangkan episode khusus insiden ledakan tersebut. Narasumber dengan kepakaran masing-masing silih berganti membahasnya dari berbagai sudut pandang. Selama sepekan berita itu terus menjadi sorotan utama.
***
Seperti biasa, Abi selalu membacakan cerita-cerita nabi sebelum tidur. Dalam remang cahaya dan intonasi pendongeng kelas wahid, suara serak Abi mengantarkan kisah-kisah itu seperti nyata. Aku bahkan tahu rasanya ketika air bah akan menyapu seluruh daratan, lalu aku bergegas ke kapal bersama berpasang-pasang binatang ketika ia menceritakan kisah Nabi Nuh, dan aku mampu membayangkan berjalan di Laut Merah yang terbelah sebagai pengikut Nabi Musa Ketika ia dikejar-kejar Firaun.
“Ada kisah apa lagi malam ini, Bi?”
Pertanyaan yang rutin aku lontarkan di kala kami selesai makan malam. Piring dan gelas telah tercuci dan sisa makan disimpan untuk sarapan pagi. Tak ada televisi. Ruangan sebesar lima kali lima ini cuman cukup untuk tidur dan selebihnya tempat penyimpanan barang dan rak buku. Tempat mencuci piring dan tempat tidur berada pada satu ruang yang sama tanpa sekat. Namun, tanpa basa-basi Abi bilang,
“Tak ada cerita malam ini, Ubaid.”
Dari rautnya aku tahu bahwa keadaan tidak baik-baik saja. Matanya berbinar. Belum sempat membalas ucapannya, ia melanjutkan,
“Tapi ada kabar yang harus kamu tahu. Hari ini situasi makin rumit. Perkumpulan sudah berhenti memberikan bantuan penuh. Beras sekantung yang diperoleh pertiga hari dipangkas setengahnya. Dan semua orang masih tetap pada pendirianya untuk tetap menolak bantuan negara.”
Baru kali ini Abi bicara dengan tidak semangat. Biasanya ia akan sangat antusias. Misalnya, kemarin ia bercerita tentang Perkumpulan cabang luar negeri yang berhasil mengambil alih pemerintahan. Abi bahkan sampai menguraikan air mata tanda haru saat itu.
Kendati aku tidak memahami betul perkataan Abi soal ini, tetapi kepiawaiannya bercerita saat itu membuat aku membayangkan suatu keadaan dalam imajinasi Abi yang menginginkan dunia seperti kisah-kisah yang diceritakannya.
Tangan kanan Abi menyetel radio pada frekuensi 107.7 Mhz sembari tangan kirinya memperbaiki tata letak antena radio untuk terhubung pada saluran Perkumpulan. Suara dari radio itu mengumumkan:
“Ya akhi dan akhwat yang dirahmati tuhan yang maha satu. Perkumpulan mengalami perubahan struktur kepemimpinan. Ustaz Abu Jubair dan Ustaz Salman tidak lagi menjadi bagian dari Perkumpulan. Apapun yang dikerjakan oleh keduanya tidak mengatasnamakan Perkumpulan”
Belum kering air mata Abinya, duka lain pun menderanya. Perkumpulan tiba-tiba pecah. Jalan solid yang selama ini dibangun runtuh. Tiga dari lima pimpinan utama memilih jalan berjuang yang lain dan kedua pemimpin lainnya dikeluarkan dari Perkumpulan.
Kabar dari para anggota perkumpulan meyakini hal ini disebabkan karena beberapa waktu lalu, Presiden menjamu pengusaha-pengusaha kelas kakap dan meneken perjanjian yang mengejutkan semua orang. Dengan senyum penuh kemenangan Presiden mengubah undang-undang, bahwa, semua boleh menjadi Presiden meskipun bukan golongan pribumi dan bukan dari kalangan agama mayoritas.
Suara radio tiba pada penghujung pengumumannya:
“Perjuangan tentang haq dan batil adalah perjuangan yang tak akan pernah punya ujung, tapi paling tidak kita selalu punya keberpihakan dalam dunia yang kita tempati hidup ini.”
Semenjak pengumuman itu. Kondisi Perkumpulan berubah total. Mereka yang tidak mengikuti instruksi Perkumpulan dianggap berkhianat. Abi dan beberapa anggota lain telah dianggap membelot karena tetap memilih berjuang dengan kata-kata.
“Ada apa, Abi? Suara di radio itu terdengar seperti sesuatu yang penting,”
Tanpa memberi jawab atas pertanyaanku, ia mengalihkan pandangannya. Aku tidak ingin memberondongnya dengan pertanyaan karena rautnya telah menampung banyak beban.
Di atas tumpukan kardus berlapis kasur lusuh, Abi memperbaiki letak bantalku lalu merentangkan selembar sarung di atas tubuhku. Saat sudah ingin terlelap aku melihat Abi sulit tertidur. Ia membolak-balikkan tubuhnya, terus-menerus. Seperti tak betah dengan pikirannya saat ini.
Dalam suasana itu, tiba-tiba ingatanku jatuh ke masa lalu, saat Abi pasrah melihat Ibu meninggalkan rumah karena sudah tidak bisa menerima kelakuan Abi yang mengharamkan banyak hal.
Abi yang tadinya punya kehidupan normal pun mulai berubah. Dia sudah lebih sering menghabiskan waktu di Perkumpulan ketimbang di rumah. Pertengkaran demi pertengkaran pun dimulai saat satu per satu barang dan perkakas rumah dijual Abi. Setiap kali Ibu marah, dan mempertahankan barang-barang itu, Abi menjawabnya dengan suara yang meninggi dan mata seperti binatang yang siap menerkam mangsanya.
“Barang-barang ini tidak seberapa, kalau agama membutuhkan nyawakupun akan kuberikan,” tegas Abi yang kemudian menyadari telah melukai hati Ibu dan pelan-pelan menurunkan nada suaranya saat Ibu sudah duduk di kursi meja makan. Ibu tidak mengeluarkan sepatah kata lagi, kecuali air mata yang pelan-pelan berubah menjadi keheningan.
Setelah pertengkaran demi pertengkaran yang tidak berujung itu, keduanya memutuskan untuk berpisah. Abi teguh dengan pendiriannya dan Ibu sudah pasrah karena sudah merasa tidak memiliki masa depan dengan Abi.
Rumah dan segala isinya diserahkan ke Ibu yang memenangkan harta itu di pengadilan. Abi hanya memenangkanku, tapi baginya itu sudah lebih dari cukup. Aku yang tidak tahu-menahu tentang pasrah kepada siapa aku akan pergi. Ibu dan Abi tidak ada bedanya. Kasih sayangnya terhadapku sama.
Tahun demi tahun berlalu, hidup dalam kesederhanaan membuat Abi makin khyusuk dalam melakukan segala aktivitasnya. Tak ada aktivitas yang tidak dimulainya dengan doa. Ia juga makin aktif di Perkumpulan. Aku selalu dibawa untuk ikut dalam perkumpulan organisasinya itu. Tidak ada yang aneh. Setiap pertemuan berisi pengajian dengan berbagai topik seputar kisah-kisah nabi hingga ke soal-soal adab seorang muslim.
Setiap hari, kami berkumpul di rumah teman Abi, duduk melingkar mendengarkan ceramah, dan para anak bermain setelahnya. Kami anak-anak selalu disediakan ruangan khusus untuk berkumpul setelah pengajian selesai. Tidak ada yang tampak aneh atau mencurigakan. Semua berjalan seperti pengajian pada umumnya. Namun semakin sering aku ikut, semakin aku menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda.
Di luar sesi pengajian, Abi dan beberapa temannya terlihat lebih sering berbicara dengan suara lirih, seolah membahas sesuatu yang sangat rahasia. Aku tidak terlalu memikirkan hal itu pada mulanya, karena bagiku, Abi dan teman-temannya hanyalah orang yang ingin memperdalam ilmu agama.
***
Tak sampai 48 jam, otak penyerangan ke Istana Presiden telah ditemukan. Intelijen Negara telah melaporkan siapa dalang dari operasi tersebut. Malam itu juga Presiden megeluarkan dekrit yang berisi pembubaran dan pelarangan organisasi Perkumpulan Pembebasan. Presiden memerintahkan polisi rahasia melaksanakan operasi penangkapan seluruh pemimpin dan anggota dari organisasi tersebut.
Abu Mussa ditangkap di Pelabuhan saat ingin menyebrang menuju pulau kecil di perbatasan negara. Abu Nyata dan Abu Alamin masih dalam pencarian. Keduanya masuk ke dalam hutan belantara sementara Abu Jubair dan Abu Salman ditangkap di pondoknya. Abu Jubair dan Abu Salman tidak melarikan diri karena merasa tidak bersalah. Dan seluruh anggota ditangkapi satu per satu. Operasi itu berlansung tidak lebih dari hari. 45 ribu dari 50 ribu anggota di seluruh negeri dilaporkan berhasil ditangkap. Sisanya tidak jelas ke mana rimbanya. Lenyap begitu saja.
***
Gang yang hanya muat untuk dilewati dua motor saat berpapasan itu, terlihat ramai sekali. Semua orang keluar berkerumun. Ada anak kecil berdiri dengan ingusnya yang melumer melongo dan dipundaknya ada tangan ibunya merangkul yang juga ikut menganga.
Ada keurumuan anak muda yang bersorak memberi sumpah serapah. Ada bapak-bapak yang begitu geram tetapi enggan melayangkan pukulan saat menyaksikan Abiku digelandang dua polisi berpakaian lengkap serba hitam dengan belasan polisi lainnya berjalan di depan dan di belakang membentuk formasi siaga. Orang-orang berbisik satu dengan yang lainnya. Meski samar tetapi suara bisik-bisik itu seperti terbawa angin dan sampai ke telingaku: teroris.
Tak ada surat penangkapan. Tak ada kalimat pembukaan. Abiku hanya tertunduk, di kepalanya tersarungkan kain hitam.
Suara-suara prihatin menusuk hingga ke tulangku. Abiku dituduh penghianat negara. Mobil lapis baja melesat pergi. Aku mematung. Tak ada yang datang menyeka air mata atau sekadar menawarkan lengan untuk memeluk kesedihan dan pundak untuk menyandarkan tanda tanya.
Deru mobil tak lagi terdengar. Orang-orang juga bergegas kembali ke dalam rumah menutup pintu mereka rapat-rapat.
Aku kembali ke kamar. Menatapi dinding. Kuambil buku cerita nabi milik Abi dan kugenggam erat. Kepalaku dipenuhi pertanyaan-pertanyaan yang tidak memiliki jawaban dan air mataku seperti tidak tahu berhenti. Lenganku tak lagi mampu menampungnya.
Lahir di Sirindu, Sulawesi Barat. Alumnus mahasiswa jurusan Sastra Inggris di Fakultas Sastra Universitas Muslim Indonesia dan magister Ilmu Komunikasi Universitas Fajar. Bekerja penuh waktu sebagai penulis dan aktif sebagai pegiat literasi. Menulis cerpen di omong-omong.com, magrib.id, semutapi.id, janang.id, tatkala.co, dan kurungbuka.com. Instagram @literacyforhumanity @syafriamasser @puisisyafri
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!