Timun diiris, lalu ditambahkan sedikit garam dan air secukupnya. Setelah itu, simpan dalam wadah tertutup agar timun terfermentasi. Terkadang, aku juga membuat acar dari kubis, selada air, dan kentang.
Tunggu sebentar. Kentang tidak bisa digunakan untuk membuat acar. Kandungan karbohidratnya terlalu tinggi sehingga kentang bisa membusuk. Lagi pula, tidak ada manusia di dunia ini yang mau makan kentang mentah.
“Tahu apa kamu tentang cara membuat acar?”
“Setidak-tidaknya aku tidak lebih bodoh daripada seseorang yang membuat acar dari kentang.”
“Maksudmu aku bodoh? Kamu menghina orang tuamu sendiri? Ayah mengajarimu cara membuat acar agar kamu bisa bertahan hidup.”
“Maksudku bukan begitu. Aku hanya menjelaskan apa yang kupelajari di Fakultas Ilmu Budaya. Bahkan orang-orang Irlandia tidak membuat acar dari kentang-kentang mereka yang melimpah.”
“Jadi, kamu sudah berani meninggikan suara di depan Ayah? Memangnya tahu apa kamu? Ayah lebih tahu tentang apa yang Ayah kerjakan dan buat. Lagi pula, kamu makan dari hasil kerja Ayah. Jadi, berhenti mendebat dan kerjakan apa yang Ayah perintahkan.”
“Ya.”
“Ya, apa?”
“Iya, aku kerjakan. Mana sayur-sayurannya?”
“Ayah meletakkannya di kulkas. Ambil yang ada di dalam plastik merah saja, jangan diacak-acak. Ayah sudah memisahkan sayuran untuk minggu ini dan minggu depan. Kalau sudah selesai, cuci, lalu masukkan ke dalam chiller. Setelah itu, panggil Ayah lagi.”
“Ya, ya, baiklah.”
“Ayah akan pergi sebentar ke rumah Paman Sam. Katanya, dia akan mengadakan pesta untuk merayakan hari jadi pernikahan anaknya. Ngomong-ngomong soal pernikahan, kapan kamu dilamar oleh… siapa namanya? Yudi?”
“Yuri, namanya Yuri, Ayah.”
“Ya, Yuri. Si Yuri itu. Kapan dia akan serius denganmu? Sebaiknya kamu mulai menanyakannya. Laki-laki akan bosan kalau tidak diberi tekanan. Nanti mereka mencari perempuan lain untuk dinikahi.”
“Seperti Ayah, maksudnya?”
“Tidak. Ayah tidak seperti itu. Ibumu yang salah. Dia tidak mau memahami Ayah.”
“Lalu, Ayah menjadikan itu alasan murahan untuk menikahi para penjual tubuh di persimpangan Jalan West Wise?”
“Ibumu itu suka melarang, tidak mau memberikan hak Ayah, dan sok agamis! Bukan berarti Ayah punya hak untuk menikah ke sana kemari seperti anjing.”
“Benar-benar seperti ibumu. Sudahlah, Ayah pergi ke rumah Paman Sam sekarang. Bilang kepada ibumu agar beristirahat dan berhenti memaksakan diri.”
***
“Jadi, ayahmu mulai ribut-ribut lagi?”
“Aku tidak tahu. Aku tidak ingin membicarakannya. Laki-laki itu bangsat.”
“Lalu, menurutmu, Yuri juga begitu?”
“Aku tidak tahu. Aku lelah, sangat lelah. Aku ingin berhenti memperdebatkan masalah sepele, tetapi Ayah terus keras kepala. Kurasa aku tidak akan pernah bisa mengubahnya.”
“Memang tidak ada yang bisa diubah dari orang-orang tua kolot itu. Bahkan ibuku menghinaku dan mencapku sebagai orang gagal hanya karena aku berdandan gothic.”
“Aku tidak menyalahkan ibumu. Aku juga berpikiran begitu.”
“Sialan kau! Setidaknya aku tidak dilarang pulang malam hanya karena ingin merayakan ulang tahun teman.”
“Ha! Sialan. Aku benci orang tua.”
“Ada rokok? Aku belum mendapat uang jajan sejak ibuku berkata seperti itu.”
“Lalu, kamu makan dari mana? Kamu tidak menjual tubuhmu, bukan?”
“Gila saja. Aku tidak serendah itu sampai harus menjual diri. Mungkin bisa dibilang begitu juga, sih. Aku meminta uang kepada orang-orang tua yang ingin ditemani.”
“Itu berbahaya, kau tahu? Tadi pagi aku membaca berita di koran tentang seorang perempuan berusia tiga puluh tahun yang dibunuh oleh seorang lelaki tua yang merasa diperas.”
“Perempuan itu memeras. Aku hanya memetik sedikit demi sedikit.”
“Lakukan sesukamu. Aku sudah mengingatkanmu. Aku hanya punya rokok ini. Memangnya kamu suka kretek murah?”
“Terima kasih. Aku tidak bisa memilih dalam masa-masa sulit seperti ini.”
“Ya, kupikir begitu. Setelah mendengar pemerintah mendeklarasikan keputusan untuk keluar dari Uni Eropa, kurasa negara ini sudah tidak punya harapan. Bahkan roti saja sekarang semahal kopi premium. Aku hanya ingin hidup selama mungkin selagi masih bisa.”
“Aku sempat ditawari pergi ke Asia oleh seorang teman di media sosial. Menurutmu, sebaiknya aku menerima ajakannya?”
“Untuk dijadikan barang dagangan di pasar gelap? Mungkin juga kehilangan kebebasan dan dipaksa bekerja untuk perusahaan ilegal? Kurasa itu ide yang bagus.”
“Benar juga. Sudahlah, aku harus pergi. Yuri sedang menungguku.”
“Mau ke mana kali ini?”
“Entahlah. Dia pria yang penuh kejutan.”
“Menurutmu, apakah akan lebih baik jika aku berhenti saja?”
“Tidak, kamu tidak perlu begitu. Semuanya akan baik-baik saja.”
“Tetapi, Ayah benar-benar sudah membuatku kehabisan kesabaran. Aku tidak ingin terus menjadi anak yang membangkang. Akan lebih baik jika aku berhenti menjadi bagian dari keluarga mereka dan memulai kehidupan baru bersamamu.”
“Sayang, kamu bukan perempuan seperti itu. Kamu tidak boleh berkata demikian. Mereka tetap menyayangimu, hanya saja—”
“Hanya saja Ayah suka menikahi perempuan lain, keras kepala, dan Ibu… Sudahlah, aku lelah, Yuri. Aku ingin hidup bahagia berdua denganmu. Aku hanya membutuhkanmu, dan semuanya akan menjadi sempurna.”
“Bodoh. Aku tidak pernah mengajarimu menjadi seperti itu. Aku tidak ingin kamu menjadi orang jahat hanya karena diperlakukan tidak baik oleh orang tuamu. Kamu harus tetap berbuat baik kepada mereka.”
“Ya, ya, ya… Cium aku. Di sini?”
“Ya.”
“Pea, kamu menangis?”
“Ibu? Sejak kapan Ibu ada di rumah?”
“Baru saja. Kenapa kamu menangis? Apakah seseorang menyakitimu, atau ada sesuatu yang bisa Ibu bantu?”
“Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya sedang butuh waktu sendiri. Ke mana dia?”
“Maksud Ibu, Ayah?”
“Ya, ke mana tua bangka itu? Bukankah seharusnya dia ada di rumah sekarang?”
“Entahlah. Ayah sepertinya membenciku sekarang.”
“Ada apa, Sayang?”
“Kami bertengkar. Ayah bilang aku tidak seharusnya mengenal Yuri, lalu mengusirnya.”
“Tadi pacarmu datang ke sini?”
“Aku tidak akan bisa melihat wajahnya lagi. Aku sudah tidak punya harga diri. Yuri terlalu baik. Aku akhirnya menemukan seseorang yang baik, tetapi Ayah justru mengusirnya.”
“Apa yang sebenarnya terjadi selama Ibu tidak di rumah?”
“Yuri ingin meluruskan masalah antara aku dan Ayah. Dia datang untuk menjadi penengah agar kami bisa menemukan jalan tengah. Namun, di tengah percakapan, Ayah justru menyinggung masalah antara Ayah dan Ibu. Setelah itu, Ayah mulai kehilangan kesabaran. Dia mengusir Yuri dan mengancam akan membunuhnya jika berani datang lagi.”
“Maafkan Ibu.”
“Ini bukan salah Ibu. Semua ini karena Ayah. Aku membenci sifatnya yang selalu ingin menang sendiri. Dia benar-benar manusia gagal. Aku membencinya.”
“Maafkan Ibu, Sayang.”
“Bahkan setelah Ibu berkali-kali memaafkannya, Ayah tidak pernah berhenti mengulangi kesalahan yang sama.”
“Pea, maafkan Ibu.”
*
“Terima kasih sudah mau menemuiku. Aku benar-benar merindukanmu.”
“Aku tidak akan meninggalkanmu. Mungkin selama ini aku terlalu ikut campur.”
“Tidak, sama sekali tidak. Ayah memang sangat keras kepala, sedangkan kamu hanya berniat baik. Sial, aku sampai tidak bisa berkata-kata lagi. Aku sudah tidak punya harga diri. Aku ingin pergi. Bisakah kamu membawaku?”
“Sayangku, Pea, kamu tidak seharusnya seperti itu.”
“Yuri, cukup! Aku sudah mencoba, aku sudah berusaha, tetapi Ayah memang tidak akan pernah berubah. Aku hanya ingin berada di sisimu selamanya. Jadi, tolong genggam tanganku, peluk aku, dan bawa aku pergi bersamamu. Aku… aku ingin menghilang.”
“Pea, baiklah. Namun, bisakah kamu menemui ayahmu sekali lagi? Jika kali terakhir ini dia masih bersikap seperti itu, aku akan membawamu pergi bersamaku.”
“Baiklah, tetapi berjanjilah bahwa ini yang terakhir.”
***
“Ayah, apa Ayah sudah tidur?”
“Belum. Ada apa? Sudah jam berapa ini? Kenapa kamu belum istirahat? Besok kamu kuliah, bukan?”
“Tidak. Aku hanya ingin berbicara dengan Ayah. Kurasa kita sudah sama-sama tahu kesalahan masing-masing. Aku yakin Ayah juga menyadarinya. Kuharap percakapan ini menjadi yang terakhir karena aku benar-benar lelah. Seharusnya kita tidak terus-menerus seperti ini.”
“Kenapa lagi, Pea? Ayah tidak punya tenaga untuk bertengkar. Besok Ayah harus berdagang lagi. Apa kamu sudah menyiapkan acar untuk besok?”
“Belum. Aku tidak ingin bertengkar. Kurasa aku ingin masalah ini berakhir. Bisa, Yah?”
“Baiklah.”
***
“Yuri! Aku menyerah. Bawa aku pergi.”
“Sa-sayang, kenapa kamu datang malam-malam begini?”
“Aku sudah melakukan apa yang kamu inginkan. Aku sudah menurunkan egoku hanya untuk berdamai, tetapi Ayah kembali menghinaku. Kurasa sudah cukup kesabaranku diuji. Sekarang aku akan menentukan arah hidupku sendiri. Tidak akan ada lagi yang mengaturku. Jadi, tolong bawa aku pergi.”
“Pea…”
“Tolong peluk aku dan jangan lepaskan. Aku sudah tidak sanggup lagi. Aku menyerah menghadapi orang-orang keras kepala. Aku hanya ingin hidup damai, dan kamu adalah satu-satunya kedamaian yang kumiliki.”
“Baiklah, aku tidak akan melepaskanmu. Terima kasih karena sudah berjuang dan berusaha. Maafkan aku. Seharusnya aku tidak memaksamu menghadapi semua ini. Kamu aman bersamaku.”
***
Setidaknya, begitulah cerita yang bisa kusampaikan.
Soal Yuri, kurasa ada sesuatu yang janggal tentang dirinya. Entah mengapa, dia terasa terlalu sempurna.
“Karena cerita ini memang dikarang untuk menghibur. Semakin sedikit yang dipahami orang-orang, semakin baik.”
“Aku membenci cara berpikirmu. Jadi, apakah kita akan menganalisis cerita ini? Aku tidak ingin menangani bagian yang sulit. Minggu lalu kamu sudah membebaniku dengan tugas praktik. Namun, ada satu hal yang membuatku penasaran: mengapa acar?”
“Semakin sedikit yang kamu tahu, semakin baik.”
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!