Di atas kursi berlapis janji
mereka tersenyum seperti pagi,
sementara di bawah baliho tinggi
perut-perut tetap sunyi.
Entah ribuan janji mana lagi
yang katanya akan ditepati.
Kami sekonyong-konyong menengadah,
mencari ujung dari segala resah.
Adakah akhirnya?
Ah, tentu tidak ada.
Setelah kursi berhasil digenggam,
kami hanya bayangan yang dipendam;
dipojokkan oleh gemerlap kekayaan,
menonton harta kami berubah jadi kemewahan.
Suara rakyat tinggal gema,
dipakai saat ramai saja.
Sesudah itu kami dilupakan,
seperti debu di pinggir jalan.
Tanah gersang itu menunggu.
Lubang bak danau,
Dikeruk, diisi, lalu kabur.
Maklum.
Lumrah.
Tahu, harga bebatuan hitam
“alih-alih namanya baru bara.”
Berantakan, hancur.
Sini, kuperbaiki.
Bencana.
Sekitar arah jam 9,
Pahlawan mulai datang.
Diiming-imingi makanan gratis.
Bukannya bukan lahan pekerjaan meluas,
Malah satu keluarga berkuasa
Di pekerjaan yang sama.
Clue setiap berpidato
Berbobot,
Tong sampah terlalu penuh.
“Terlalu cerdas,
Akhirnya bodoh.”
Kastil itu dipimpin
Oleh para bandit-bandit kotor.
Sejauh ini yang paling jauh.
Bobroknya tuh
nggak bisa ditutup.
Busuknya tuh kebaikan,
sampai negeri tetangga.
Untuk ladang sawit yang banyak,
jangan diperhitungkan.
Kalian itu berutang budi.
Heee…
Padahal dirimu buat lubang
dan pura-pura menjadi penyelamat.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!