Kalau Semua Dianggap Toxic Positivity, Apa Perlu Bilang ‘Mati Aja Deh!’

173

Akhir-akhir ini kita sering dijejali dengan ungkapan toxic positivity yang mengacu pada dorongan kalimat positif yang justru merusak kondisi psikologis seseorang. Ketika kondisi psikologis seseorang berada dalam keadaan tidak baik karena alasan tertentu, kita disarankan untuk tidak segera membuat kalimat-kalimat bernada positif.

Saya tentu setuju saja dengan ungkapan ini. Dalam keadaan pikiran kacau, ditambah permasalahan yang menumpuk entah bisa jadi dari masalah finansial yang banyak mendera saat ini  yang kemudian menjalar menjadi masalah pada semua aspek kehidupan, eh kita disuruh berpikir positif. Ungkapan, tenang saja semua akan berakhir, kita masih bisa menghadapinya bersama hingga masih banyak yang lebih menderita daripada kita, adalah ungkapan yang justru bisa jadi mendorong kita lebih putus asa.

Tapi susahnya, ketika ada seorang kawan yang menceritakan kesusahan hidupnya pada kita yang sama sekali belum pernah mengalami kesulitan yang sama. Sebagai seorang kawan agar tidak dicap sebagai  kawan yang jahat pastinya kita sebisa mungkin memberi nasehat  ye kan. Nah,  nasehat pastinya mengarah ke kalimat positif. Tapi tanpa kita sengaja justru kita terjerumus dalam toxic positivity.

Ungkapan toxic positivity saat ini semakin banyak dipakai untuk menyebutkan segala macam nasehat yang sesungguhnya mendorong untuk berpikir positif. Ini tentu membuat siapa saja insecure donk untuk ngasih nasehat.

Sebenarnya sejauh mana sih kalimat positif itu dianggap toxic? Atau jangan-jangan semua nasehat yang mengarah pada kalimat positif itu toxic?

Semakin kencang gaung toxic positivity ini semakin banyak generalisasi pada kalimat positif yang dianggap toxic. Padahal, sesungguhnya kalimat positif yang kita berikan pada orang lain murni karena kita ingin orang itu bangkit.

Supaya kita tidak memukul rata semua kalimat positif itu adalah toxic, ada beberapa hal yang bisa kita jadikan acuan agar tidak sedikit-sedikit kita sebut nasehat positif sebagai toxic.

Pertama, orang yang kita ajak curhat. Saya percaya ketika seseorang mencoba menceritakan kesulitan hidup yang ia alami, orang itu sudah kenal betul dengan teman yang ia curhati. Baik dari latar belakangnya hingga segala  jenis sudut pandangnya. Bisa dipastikan ia adalah orang yang sangat dekat.

Sehingga kalimat positif yang meluncur dari mulut  si  kawan   ini tidak  akan langsung dianggap toxic. ‘aku kenal kamu, aku yakin kamu bisa hadapi  ini’, ‘bangkitlah kawan kamu pasti bisa!’ tentu menurut saya, ini justru terdengar begitu positif dan menenangkan ye kan.

Kedua, nasehat dari orang yang berpengalaman. Jika masalah hidup yang kita alami adalah berkaitan  urusan rumah tangga dan kita menceritakan  pada orang yang  juga pernah mengalami permasalahan sama, nasehat positif yang kita terima pasti rasanya beda dengan nasehat dari  orang yang belum  pernah mengalami masalah yang sama.

Kita mengenal istilah penyintas atau istilah yang kita berikan pada orang-orang yang sudah berhasil berjuang atau tengah berjuang dari sebuah ancaman atau hal yang membahayakan hidup. Penyintas KDRT yang berjuang atau sudah  berhasil melawan tindakan kekerasan rumah tangga adalah orang-orang yang mungkin juga ada di sekitar  kita.

Ketika  permasalahan kekerasan rumah  tangga  yang kita  hadapi dan kita mendapat saran  atau nasehat positif dari penyintas dengan permasalahan yang  sama, maka nasehat positif itu pastinya bisa menjadi sumber semangat untuk bangkit dan berbuat mencari solusi. Ada kekuatan dan energi yang jelas kita dapatkan dari dorongan positif para penyintas ini.

Ketiga, nasehat dari ahli. Jika permasalahan hidup sudah menyeret kita pada lingkup ketidakstabilan mental, maka yang dibutuhkan adalah konsultasi pada ahlinya, bisa psikolog atau ahli khusus permasalahan yang kita hadapi. Anjuran hingga dorongan-dorongan positif yang diberikan oleh pakar atau ahli pastinya bisa memberikan pencerahan yang lebih baik.

Dirundung permasalahan  hidup yang semakin lama semakin kompleks membuat siapa saja bisa berpikir bahwa dirinya tak berguna hingga berpikir bahwa hidup adalah kesia-siaan belaka.

Dorongan untuk berpikir positif semakin dianggap tidak mungkin, justru dianggap menyakiti. Kalau sudah begini, bisa jadi kita memilih diam, tak berkata apa-apa. Iya sih kalau teman  kita masih dalam batas kesedihan yang wajar, jika sampai mau  bunuh diri tentu  tanpa berpikir panjang kita akan menyeru  pada kalimat positif.

‘Hidupmu berharga,  ayo donk jangan mati!’, ‘Jangan putus asa!’, ‘Kamu bisa menghadapinya!’, hingga seruan positif lainnya. Nah jika kalimat begini masih dianggap toxic positivity apa iya kita harus berseru,’Ya udah lah mati aja deh dirimu!’

Leave A Reply

Your email address will not be published.