Pernah nggak sih kamu cuma mau scroll media sosial buat hiburan, eh malah jadi mikirin hidup sendiri? Habis lihat teman yang sudah kuliah di kampus impian atau orang yang kelihatannya selalu bahagia, tiba-tiba muncul pikiran, “Hidup dia kok enak banget ya, kenapa aku nggak?”
Menurutku, hal ini cukup sering terjadi. Sekarang kita bisa tahu kegiatan orang lain cuma lewat Instagram atau TikTok. Kita melihat mereka liburan, punya teman baru, atau mendapat pencapaian tertentu. Padahal, yang kita lihat itu cuma bagian yang mau mereka tunjukin. Kita nggak selalu tahu masalah yang mereka hadapi di balik layar.
Lucunya, kita sering membandingkan kehidupan kita yang kita tahu semuanya, termasuk masalah dan kekurangannya, dengan kehidupan orang lain yang cuma kita lihat dari beberapa postingan. Akhirnya, kita merasa tertinggal, padahal kita belum tentu tahu keadaan mereka yang sebenarnya.
Media sosial sebenarnya nggak selalu buruk. Kita bisa mendapat informasi, hiburan, dan tetap terhubung dengan teman. Tapi kalau terlalu sering melihat pencapaian orang lain, kita bisa tanpa sadar menjadikan hidup mereka sebagai ukuran untuk menilai diri sendiri.
Misalnya, ada teman seangkatan yang sudah diterima di kampus impian, sementara kita masih mencari jalan yang cocok. Kita mungkin ikut senang, tapi di sisi lain juga merasa sedih karena belum mendapatkan hal yang sama. Perasaan itu manusiawi. Yang jadi masalah adalah kalau kita terus merasa kurang dan menganggap diri sendiri gagal cuma karena orang lain lebih dulu mencapai sesuatu.
Kita juga biasanya cuma melihat hasil akhirnya. Kita melihat seseorang berhasil, tapi nggak tahu berapa kali dia gagal sebelumnya. Kita lihat orang yang punya banyak teman, tetapi nggak tahu apakah dia pernah merasa kesepian. Jadi, menurutku membandingkan hidup dari apa yang terlihat di media sosial memang kurang adil.
Saat membahas hal ini, aku teringat pada John Dewey, tokoh pragmatisme dan psikologi fungsional. Salah satu ide Dewey adalah bahwa pengalaman dan interaksi dengan lingkungan berpengaruh pada proses manusia belajar dan berpikir.
Dewey memang tidak secara khusus membahas kebiasaan membandingkan diri lewat media sosial seperti sekarang. Namun, ide tentang pengalaman bisa dipakai sebagai sudut pandang untuk memahami fenomena ini. Apa yang kita alami berulang kali bisa memengaruhi cara kita melihat sesuatu.
Contohnya, seseorang yang setiap hari melihat postingan tentang pencapaian orang lain, lama-lama menganggap kalau hidup yang sukses harus terlihat seperti itu. Punya banyak teman, sering ke tempat bagus, dan selalu bahagia. Padahal, hal itu belum tentu benar. Bisa jadi, cara pandangnya terbentuk karena hal yang terus-menerus dia lihat.
Menurutku, pengalaman bukan cuma sesuatu yang terjadi, tapi juga bisa menjadi bahan untuk berpikir dan belajar. Saat kita sadar bahwa media sosial hanya menunjukkan sebagian kecil dari kehidupan seseorang, kita bisa mulai mempertanyakan penilaian kita sendiri. Kita nggak harus langsung percaya kalau hidup kita lebih buruk cuma karena orang lain terlihat lebih bahagia.
Setiap orang punya keadaan dan proses yang berbeda. Dua orang yang baru lulus SMA, bisa saja punya perjalanan yang berbeda. Salah satunya sudah diterima di kampus yang diinginkan, sedangkan yang lain masih berusaha atau masih bingung memilih. Apakah orang yang belum sampai di sana berarti gagal? Menurutku, nggak sesederhana itu.
Kadang kita terlalu cepat menilai diri sendiri. Ketika teman berhasil lebih dulu, kita merasa seharusnya sudah berada di titik yang sama. Padahal, ada hal yang bisa kita usahakan dan ada juga keadaan yang tidak sepenuhnya bisa kita kendalikan.
Membandingkan diri sebenarnya bagus kalau membuat kita termotivasi. Misalnya, melihat teman rajin belajar membuat kita ingin memperbaiki kebiasaan belajar. Dari situ, kita bisa mengambil pelajaran dari orang lain, bukan malah menyalahkan diri sendiri. Kalau yang terjadi justru kita merasa semakin buruk tanpa melakukan apa pun, mungkin kita perlu ubah cara menanggapinya.
Kalau dikaitkan dengan Dewey, pengalaman dapat menjadi kesempatan untuk belajar jika kita mau memikirkannya kembali. Jadi, saat melihat keberhasilan orang lain, kita bisa bertanya apa yang dapat dipelajari, bukan hanya bertanya kenapa hidup kita tidak sama dengan hidup mereka.
Menurutku, kita nggak perlu berhenti menggunakan media sosial sepenuhnya. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana kita menggunakannya dan bagaimana perasaan kita setelah melihat berbagai konten. Kalau tiap kali buka media sosial kita malah merasa nggak cukup baik, kita bisa mulai membatasi konten yang membuat kita terus membandingkan diri.
Kita juga perlu punya pengalaman di luar layar, seperti mencoba kegiatan baru, belajar sesuatu, atau menghabiskan waktu dengan teman. Dengan begitu, hidup kita nggak cuma diisi dengan melihat kehidupan orang lain. Kita bisa mengenali hal yang kita sukai dan memahami kemampuan diri melalui pengalaman sendiri.
Berkembang juga nggak harus soal pencapaian besar. Bisa saja hari ini kita berhasil menyelesaikan tugas yang sempat ditunda atau berani mencoba hal yang dulu membuat kita takut. Mungkin nggak terlihat menarik di media sosial, tetapi tetap berarti buat diri kita.
Pada akhirnya, kita perlu membedakan antara terinspirasi oleh orang lain dan merasa harus menjadi seperti mereka. Kita boleh mengagumi pencapaian seseorang, tetapi bukan berarti kita harus punya kehidupan yang sama supaya hidup kita berharga.
Kadang kita mungkin masih merasa iri, menurutku itu wajar. Yang penting, jangan sampai perasaan itu membuat kita lupa menjalani kehidupan sendiri. Kalau kembali ke pemikiran John Dewey, pengalaman bisa menjadi kesempatan untuk belajar dan mengembangkan cara berpikir, termasuk pengalaman saat kita merasa tertinggal.
Jadi, kalau suatu hari kita membuka media sosial dan berpikir, “Kok hidup orang lain kayanya lebih bahagia ya?”, coba berhenti sebentar dan tanya ke diri sendiri: apakah kita benar-benar ingin menjalani hidup seperti mereka, atau kita hanya merasa tertinggal karena melihat mereka sudah mencapai sesuatu?
Tidak semua yang terlihat lebih baik harus kita miliki. Dan tidak semua hal yang belum kita capai berarti kita gagal. Kadang, kita perlu berhenti sebentar melihat kehidupan orang lain supaya bisa kembali memperhatikan kehidupan sendiri.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!