Author: Qirani Revolusiana Syahnaida
Pandangan Generasi Milenial Terhadap Kemalasan Gen Z
Analisis Teori Pembelajaran Sosial: Julian Rotter
Pernah nggak denger kalimat seperti “anak zaman sekarang itu gampang sekali untuk
menyerah”,”baru kerja sebentar saja sudah meminta libur”, atau “dulu kami saja lembur tanpa
mengeluh” kalimat semacam ini sering sekali dilontarkan oleh generasi milenial jaman
sekarang dengan kelahiran (sekitar 1981-1996) kepada generasi z yang notabenya lahir pada
tahun (sekitar 1997-2012) (Dimock,2019). Di kantor, di media sosial, bahkan di ruang
keluarga, label “gen z malas” sudah menjadi stereotip yang cukup populer di kalangan generasi
milenial.
Menurut data badan pusat statistik(2021), Gen Z dan generasi milenial adalah termasuk dua
kelompok terbesar dalam struktur penduduk Indonesia. Artinya, hubungan dan cara pandang
antara keduanya sanhgat berpengaruh di dunia kerja dan kehidupan sosial.
Pertanyaannya, apakah Gen Z benar-benar malas, atau pandangan itu hanya hasil perbedaan
pengalaman dan nilai antargenerasi? Untuk menjawabnya, artikel ini memakai teori
pembelajaran sosial (Social Learning Theory) dari Julian B. Rotter. Teoi ini cocok dikarenakan
ia tidak melihat perilaku sebagai sifat bawaan, melainkan hasil interaksi antara harapan ,nilai
tujuan, dan situasi yang dihadapi oleh seseorang.
Menurut Julian Bernard Rotter (1916-2014) adalah psikologi asal Amerika yang di kenal lewat
tori pembelajaran sosial dan konsep “locus of control”. Dalam bukunya yaitu “Social Learning
and Clinical Psychology (1954)”, ia menjelaskan bahwa kepribadian itu di bentuk lewat
interaksi seseorang dengan lingkungannya. Perilaku di pelajari dari pengalaman, terutama
pengalaman mendapat penguatan (renforcement), bukan hanya dorongan dari dalam diri.
Ada empat konsep utama dalam teori Rotter ( Feist, Feist Roberts, 2018;Schultz, 2017):
1. Potensi perilaku (beharior potential) yaitu kemungkinan seseorang yang melakukan
suatu perilaku tertentu dalam situasi tertentu pula.
2. Harapan (expectancy) yaitu keyakinan subjektif bahwa suatu perilaku akan
menghasilkan penguatan atau hasil yang tertentu.
3. Nilai penguatan (reinforcement value) yaitu seberapa berharga hasildari nilai penguatan
tersebut bagi setiap individu. Dua orang bisa menilai hasil yang sama dengan bobot
yang sangat berbeda.
4. Situasi psikologis (psychological situation) yaitu cara individu memaknai sesuai
dengan situasi di sekitarnya. Yang menentukan perilaku adalah situasi seperti yang di
persepsikan, bukan situasi objektif.
Rotter merumuskannya secara sederhana yaitu potensi perilaku di tentukan oleh harapan akan
hasil dan nilai hasil tersebut dalam situasi yang dimaknai individu. Artinya orang yang
bersemangat dan berusaha ketika ia percaya usahanya berubah dan menganggap berharga
dengan hasilnya sendiri.
Menurut Rotter (1966) juga memperkenalkan locus of control, yaitu keyakinan umum tentang
sumber kendali atas hasil hidupnya. Orang dengan locus of control internal percaya bahwa
hasil ditentukan oleh usaha dan kemampuannya sendiri. Sedangkan orang dengan locus of
control eksternal percaya bahwa hasil di tentukan oleh faktor luar sepertinasib, keberuntungan,
atau kekuasaan pihak lainnya.
Mengapa Milenial Menganggap Gen Z Malas?
1. Harapan yang menurun terhadap hasil usaha
Salah satu hal yang paling sering luput dilihat adalah turunannya harapan (expectancy) bahwa
kerja keras otomatis akan membuahkan hasil. Banyak anak muda saat ini menghadapi harga
rumah yang sangat melonjak, biaya hidup yang naik, dan persaingan kerja yang sangat ktat.
Dalam bahasa Rotter, ketika seseorang berulang kali melihat bahwa usaha tidak sebanding
dengan hasil maka harapannya akan turun dan potensi perilaku untuk berusaha keras juga ikut
menuurun.
Hal ini sejalan degan temuan Twenge,Zhang,dan Im (2004), yang menunjukkan bahwa lewat
meta-analisis bahwa locus of control generasi muda di Amerika bergeser makin eksternal dari
tahun 1960 hingga 2002. Temuan ini berasal dari konteks Amerika sehingga tidak bisa
langsung di generalisasikan ke Indonesia, tetapi menunjukkan bahwa keyakinan tentang
sumber kendali bisa berubah mengikuti kondisi sosial seseorang.
Jadi sebagian yang tampak sebagai rasa “malas” mungkin bukan kurangnya kemauannya,
melainkan keragun bahwa usaha akan menghasilkan sesuatu. Orang yang merasa hasil nya
ditentukan oleh faktor dirinya (misalnya koneksi atau kondisi ekonomi) cenderung kurangnya
motivasi, dan itu cir-cir ocus of control eksternal.
2. Perbedaan nilai penguatan (reinforcement value)
Konsep nilai penguatan menjelaskan bahwa orang yang bersedia berusaha untuk suatu hal
yang ia anggap berharga. Penelitian Twenge,Campbell,Hofmfman, Dan Lance (2010)
menemukan bahwa generasi yang lebih myda cenderung memberi bobot lebih besar pada
waktu luang dan lebih rendah pada nilai kerja instrinsik dan sosial dibanding generasi milenial.
Studi ini juga berbasis data Amerika, tetapi polanya membantu kita untuk memahami
pergeseran nilai.
Bagi banyak Gen Z, work-life balance, kesehatan mental, fleksibilits, dan maknan pekerjaan
punya nilai penguatan lebih tinggi daripada gaji besar dengan jam kerja yang panjang.
Sebaliknya, bagi banyak nya milenial, stabilitas dan kemajuan karier yang mungkin lebih
bernilai. Karena nilai penguatannya yang berbeda, bentuk usahanya pun berbeda. Gen Z
mungkin terlihat sangat “kurang berusaha” menurut standar milenial, padahal mereka
mengarahkan usaha ke hal lain yang menurut mereka lebih bernilai, misalnya membangun
usaha sampingan, belajar skill daring, atau menjaga kesehatan mental.
3. Locus of control tidak semua Gen Z eksternal
Penting di catat, label “Gen Z malas” adalah generalisasi. Dalam teori Rotter, locus of control
adalah dimensi individual, bukan ciri satu generasi secara menyeluruh. Banyak Gen Z justru
sangat internal yaitu mereka aktif membangun bisnis daring, mengejar beasiswa, menjadi
kretor konten, dan belajar mandiri. Di sisi lain ada juga milenial yang sangat eksternal. Jadi
varisi dalam satu generasi seringlebih besar daripada perbedaan antar generasi.
4. Peran media dan stereotip
Pandangan milenial tentang Gen Z juga dibentuk media sosial yang menyebarkan potongan
cerita viral, mislnya karyawan muda yang resign mendadak atautren quiet quitting. Dalam
kerangka Rotter, pengalaman tidak lngsung ini ikut membentuk harapan dan persepsi tentang
situasi. Milenial yang jarang berinteraksi mendalam dengan Gen Z mudah menyimpulkan
bahwa seluruh generasi itu sama, padahal itu hanya sampel kecil yang paling mencolok.
Analisis ini bukan berarti mengkritik milenial sepenuhnya salah. Rotter sendiri menekankan
bahwa perilaku adalah hasil interaksi individu dan situasi. Artinya, ada kemungkinan sebagian
Gen Z memang kurang terlatih menghadapi kerja berat karena kemudahan tekhnologi dan
lingkungan yang serba instan. Namun, menyebut seluruh generasi “malas” tetap kurang adil
karena mengabaikan konteks, harapan, dan nilai yang membentuk perilaku mereka.
Solusinya adalah komunikasi dua arah. Milenial perlu memahami bahwa standar usaha bisa
berbeda karena nilai dan situasi yang berbeda. Gen Z perlu menyadari bahwa dunia kerja tetap
menuntut tanggung jawab, dan penguatan sering datang setelah proses yang panjang.
Organisasi bisa membantu dengan memperjelas hubungan antara usaha dan hasil, misalnya
lewat target yang transparan, apresiasi yang konsisten, dan kesempatan berkembang. Dengan
begitu, harapan akan hasil usaha meningkat dan motivasi ikut naik.
KESIMPULAN
Berdasarkan teori pembelajaran sosial Julian Rotter, anggapan milenial bahwa Gen Z malas
dapat di pahami sebagai hasil perbedaan riwayat penguatan, harapan, nilai penguatan, dan
situasi psikologis antara dua generasi. Milenial tumbuh dengan keyakinan bahwa kerja keras
akan membuahkan hasil, sementara Gen Z menghadapi situasi yang membuat hubungan usaha
dan hasil terasa kurang pasti, serta memberi bobot lebih pada keseimbangan hidup dan
kesehatan mental. Karena itu, perilaku yang tampak sebagai “malas” bisa jadi merupakan
bentuk penyesuaian terhadap situasi dan nilai-nilai yang berbeda.
Sebagai mahasiswa, kita bisa belajar bahwa menilai perilaku orang lain perlu melihat
konteksnya . Daripada saling menyalahkan, memahami cara pandang tiap generasi akan
membuat kerja sama lebih sehat dan produktf.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pusat Statistik. (2021). Hasil sensus penduduk 2020. Badan Pusat Statistik.
Dimock, M. (2019). Defining generations: Where Millennials end and Generation Z begins.
Pew Research Center.
Feist, J., Feist, G. J., & Roberts, T.-A. (2018). Theories of personality (9th ed.). McGraw-Hill
Education.
Rotter, J. B. (1954). Social learning and clinical psychology. Prentice-Hall.
Rotter, J. B. (1966). Generalized expectancies for internal versus external control of
reinforcement. Psychological Monographs: General and Applied, 80(1), 1–28.
Schultz, D. P., & Schultz, S. E. (2017). Theories of personality (11th ed.). Cengage Learning.
Twenge, J. M., Campbell, S. M., Hoffman, B. J., & Lance, C. E. (2010). Generational
differences in work values: Leisure and extrinsic values increasing, social and intrinsic values
decreasing. Journal of Management, 36(5), 1117–1142.
Twenge, J. M., Zhang, L., & Im, C. (2004). It’s beyond my control: A cross-temporal meta
analysis of increasing externality in locus of control, 1960–2002. Personality and Social
Psychology Review, 8(3), 308–319.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!