Nurima Santi

Nurima Santi memegang tasbih dan secangkir kopi setelah mendapati kabar bahwa istrinya mati dalam sebuah kecelakaan pagi tadi. Santi menuangkan kopi panas ke celana dalamnya. Wajahnya tetap datar, walau tubuhnya bergetar kesakitan. Ia berniat ingin tampak gemetar saat melihat mayat sang istri yang kepalanya terbelah dan tanpa bola mata, tapi Santi tak bergetar sama sekali.

Tangannya dengan santai mengelus bibir Alea—istrinya—yang masih utuh, perlahan tangannya turun ke leher, dada, pusar, hingga ke selangkangannya. Di sanalah, tangan Santi bergetar.

“Sudirman,” gumam Santi, “apakah Sudirman, seorang pria yang telah kau bebaskan dari impoten berhasil membuatmu jatuh cinta?” Santi meraba kemaluannya sendiri dengan tangan yang satu lagi. “Penis yang baru bisa berdiri itu lebih kau sukai dari penisku yang telah kau nodai, benarkah begitu, Alea?” Kini, kedua tangan Santi meraba dua lubang yang ada di wajah sang istri. “Kau sudah mati, lalu siapa yang akan menggantikanmu nanti?”

Saat tangannya mulai meraba kepala Alea yang terbelah, sebuah percikan muncul di kepala Santi. Ia tiba-tiba mengingat persis kejadian kemarin malam saat Alea sedang berbahagia mendapati bahwa penis Sudirman baru saja bisa berdiri. Tidak pernah ia lihat terang binar di mata sang istri sebelumnya. Kali itu Alea tidak lagi peduli dengan Santi yang duduk mematung sambil meneguk secangkir kopi. Alea dan Sudirman bercinta begitu hebatnya, meninggalkan Santi dalam sebuah kedamaian yang selalu dia idam-idamkan.

“Apakah matamu akan berbinar lagi kalau kusetubuhi seperti Sudirman menyetubuhimu?” batin Santi yang melepas celana dalamnya, mencoba tidak melupakan apa pun dari adegan percintaan yang baru saja dia tonton kemarin malam. Gerakan demi gerakan, detik demi detik, semuanya diulangi Santi dengan begitu presisi. Pada istrinya yang sudah mati.

Santi merasa ingin mengoyak-ngoyak tubuhnya sendiri, membuat tubuhnya menyatu dengan sang istri, sesuatu yang tidak pernah dia bayangkan dalam kurun waktu lima tahun sejak pernikahannya dengan Alea. Bahkan, Alea sempat ragu bahwa suaminya itu berselera dengan wanita. Untuk menjawab dugaannya itu, Alea menghampiri Santi yang sedang memeluk lututnya sendiri di atas ranjang—menatap kosong ke dinding yang dihinggapi bintik-bintik merah kecil.

“Kenapa kau tak pernah menggigit leherku, meremas dadaku, atau menyetubuhiku?” tanya Alea dengan dada yang terbuka. Dan seperti biasanya, Santi hanya akan menggeleng, lalu berkata, “Aku tidak tahu.” Merasa dugaannya belum terjawab sama sekali, Alea mendekati Santi, menarik rok mininya, “Kau tidak mau mencobanya, sekali saja?” tawar Alea, seorang wanita yang matang secara fisik.

Tak mungkin ada pria normal yang akan menolak, pikir Alea. Santi tak menjawab, dia hanya menatap bintik merah yang kerlap-kerlip di dinding kamar mereka. “Ingat Santi, aku harus mencatat semua hal tentangmu, semua,” kata “semua” ditekan dengan tempo yang begitu pelan, “atau kau mau seorang pria? Aku bisa minta pada pimpinan kalau kau mau.”

“Aku tidak mau pria.”

“Setubuhi aku kalau begitu. Kau tahu kan, Santi. Aku mencintaimu, jadi cintai aku,” Kedua tangan Alea mendorong kedua bahu Santi, memerangkapnya di atas ranjang, “Ayo, tunjukkan padaku. Caramu menyetubuhi seorang wanita.”

Untuk yang pertama kali, tepatnya pada tahun keempat pernikahan mereka, suami-istri itu akhirnya menggunakan ranjang sesuai fungsi hewani. Seperti biasa, Alea akan menulis segala hal yang terjadi, dia sudah begitu mahir menulis hingga bisa menulis dalam posisi bercinta sekalipun. Sedangkan Santi, bahkan dalam kondisi bercinta sekalipun masih menatap bintik-bintik merah yang semakin banyak di dinding kamar mereka.

Minggu pagi, seperti biasa sebuah koran akan datang ke rumah, dengan judul besar di tengah-tengah koran: Nurima Santi, Manusia Tak Berhati/Oleh Alea. Santi akan membaca tiap topik serial wawancara yang ditulis istrinya dengan khidmat, sesekali dengan secangkir kopi, sesekali juga ditemani sebatang rokok. Alea cuti menjadi istri di hari Minggu, meninggalkan Santi di rumah yang dihinggapi bintik-bintik merah kecil, sendiri menikmati hari, atau mencari hal-hal yang bisa menghilangkan kedataran pada wajahnya sendiri, dengan syarat: Tidak boleh membuatnya mati.

Dulu sekali, setiap hari Santi akan keluar, mencari hal-hal yang bisa menghilangkan kedataran pada wajahnya sendiri. Tapi setelah sebuah kejadian yang dapat menghilangkan kedataran di wajahnya, Santi memilih untuk mencari hal-hal yang hanya melibatkan dirinya sendiri.

Kejadiannya sudah cukup lama, saat itu Santi ingin berjalan-jalan santai saat hari jadi pernikahannya dengan Alea. Kota yang dia kunjungi sudah tentu dipenuhi banyak bintik merah kecil yang bisa kau temui pada lampu jalan, jalanan, bahkan celana dalam seorang penyapu jalanan. Tidak ada yang boleh terlewat dari gerak-geriknya. Hari itu Alea belum merasakan yang namanya cuti menjadi istri setiap hari Minggu, dia mengikuti Santi yang terus berjalan, tanpa tujuan.

Alea bertanya banyak hal, “Kau ingin ke mana? Kenapa ke sana? Apa yang sedang kau rasakan?” Dan Santi akan tetap menjawab, “Aku tidak tahu.” Wajah datar itu, tidak ada keraguan di dalamnya.[1]

Hari sudah hampir berakhir, orang-orang pimpinan selalu siap siaga tanpa kenal lelah. Kopi, bir, hingga wiski siap sedia untuk dinikmati. Penjaga toko berwajah tegang saat Santi menatap ke dalam toko mereka, seorang anak akan diangkut oleh orang tuanya, Alea meminta sebuah mobil dari pimpinan karena lelah berjalan. Santi belum berhenti, setidaknya sampai senja telah berakhir, diganti oleh kegelapan yang melahap bumi sejenak sebelum disinari lampu toko, lampu rumah, dan tentunya, lampu jalanan.

Di bawah lampu jalananlah Santi memutuskan untuk berhenti, setelah melihat seorang pria tua menatap lampu jalanan yang menyilaukan mata di balik kacamatanya.

“Ada apa?” tanya Santi.

Pria tua itu terkejut, memutar kepalanya dengan susah payah untuk menatap Santi. Pria tua itu sempat memperbaiki posisi kacamatanya yang tidak berubah posisi sebelum berkata, “Ada bintik-bintik merah di lampu jalanan itu. Apa kau tahu itu apa, Nak?”

“Itu kamera.”

“Ka … me … ra? Apa itu kamera?”

“Ya, kamera.”

Butuh sekitar 20 detik sebelum pria tua itu kembali berusaha memutar wajahnya dengan susah payah menatap lampu jalanan yang ada di atas kepalanya, “Kamera ya kamera! Kau benar!” Dia tertawa, sontak disahuti tawa pula oleh Santi. Dalam 0,5 detik setelahnya, hantaman seribu cahaya yang berasal dari bintik-bintik merah kecil di seluruh kota menghantam Santi, dan juga si pria tua yang langsung tersungkur tak berdaya. Mati.

Alea yang baru saja beristirahat sambil mencecap wiski berdecak kesal, memegang kedua pinggulnya. “Astaga, bagaimana aku bisa mewawancarai orang mati?”

Santi mematung. Tangan, kaki, hingga matanya tak bergerak sama sekali. Detik demi detik setelahnya, kota itu disinari hantaman cahaya dari berbagai arah, membuat beberapa orang tua dan anak-anak di kota itu mati. Disebabkan Santi.

Santi bertanya-tanya, kenapa semua itu bisa terjadi?

Ia berjalan mundur, dari ingatannya yang sudah berlalu. Pada hari di mana ia bertemu Alea, atau lebih tepatnya, dipertemukan dengan Alea. Di sebuah ruangan berbentuk kubus, tanpa pintu yang benar-benar nyata, tanpa aliran udara, napas Alea dan Santi beradu pada ruangan itu, dipisahkan oleh sebuah kursi dan meja yang terbuat dari besi. Tangan Santi terborgol, tubuhnya tak berbusana.

“Halo, Santi,” ucap Alea dengan begitu lembut. Dengan alasan ruangan yang panas, ia membuka beberapa kancing kemejanya, “Perkenalkan, aku Alea, mulai hari ini aku adalah istrimu, orang yang akan terus ada di sisimu, mencatat segala hal tentangmu,” Senyumnya terasa hangat, kedua tangan Alea terbuka seakan sangat menerima seorang remaja berumur 18 tahun menjadi suaminya. “Mohon kerja samanya, ya.”

Di dada Alea, ada tanda pengenal, Santi melihat umur Alea di sana, tertera angka “29 tahun” lalu matanya beralih ke seluruh ruangan, mendapati hanya ada tiga bintik merah kecil di sana.

Santi tidak bernafsu melihat seorang wanita yang telah menerimanya sebagai seorang suami. Ia terlalu fokus pada ruangan berbentuk kubus itu, lalu kepalanya jatuh, tepat pada penisnya yang baru.

“Sudirman jadi impoten gara-gara penis baruku,” ucapnya dengan lirih, memeriksa kemaluannya, “Aku harus membantu Sudirman sembuh, aku harus.” Santi memasukkan kalimat itu ke kepalanya, menatanya dengan benar, karena ia ingat betul bagaimana semasa sekolah Sudirman pernah jatuh cinta pada dirinya, yang kadang memakai rok mini, dan kadang memakai celana jins panjang.

Santi berada di tengah-tengahnya, dan ia begitu sabar dengan hal yang tengah ia jalani, ia percaya bahwa nanti kelaminnya akan tinggal satu, dan ia sudah diperbolehkan jatuh cinta. Seperti janji pimpinan yang diberikan kepada Santi kecil.

“Aku mencintaimu, San,” ucap Sudirman, pada malam Tahun Baru. Ia sudah membeli baju baru, parfum mewah, juga celana dalam yang baru, “Tanggalkanlah pakaianmu itu, tak peduli apa pun yang mereka katakan padaku. Aku percaya bahwa hatimu itu juga berdetak untukku.”

Santi tak bereaksi, wajahnya datar, tanpa ketakutan, tanpa kegelisahan, tanpa kegairahan. Saat pakaiannya mulai ditanggalkan dengan paksa oleh Sudirman entah kenapa ia hanya diam, seakan-akan tidak tahu apa yang benar dan apa yang salah dari sana, menurutnya, Sudirman mencintainya, hendak menyetubuhinya, itu saja. Saat celana dalamnya hendak ditanggalkan, barulah Santi menahan Sudirman yang sudah dipenuhi kegelisahan.

“Aku mencintaimu, San.”

Tangan Sudirman berhasil menanggalkan celana dalam Santi. Ia melihat dua buah kelamin di selangkangan Santi. Penisnya gagal berdiri, dan tak bisa berdiri lagi semenjak hari itu. Dengan pakaian yang telah ditanggalkan, mereka berdua pergi, meninggalkan satu sama lain.

Santi pulang tanpa satu kain pun tertinggal di tubuhnya yang cokelat. Angin menerpa tubuhnya, juga dua buah kelaminnya. Di atas kepalanya ada bulan yang tengah bersinar terang, membuat Santi teringat pernah bertanya kenapa kulitnya tak seterang bulan pada seseorang. Yang dia ingat sebagai ayah, juga sebagai ibunya.

“Kenapa aku tidak berkulit putih?” tanya Santi kecil. Dalam keadaan bugil.

“Karena kau dilahirkan seperti itu.”

“Bagaimana aku lahir?”

“Kau lahir dari kelamin seorang wanita.”

“Caranya?”

“Kepalamu merobek kelaminnya.”

“Bagaimana bentuk kelamin wanita?”

“Di sana, di selangkanganmu.”

“Yang mana?” Santi menatap kedua kelaminnya.

Orang itu menunjuk kelamin di bawah kelaminnya yang satu lagi. “Yang ini.”

“Lalu ini? Fungsinya?” tanya Santi sambil menunjuk kelaminnya yang satu lagi.

“Untuk mengisi bayi lewat kelamin wanita.”

Santi mengangguk paham, sedari kecil ia memang terkenal cerdas. Otaknya mampu memahami banyak hal kecil sejak kecil, juga hal besar sejak kecil. Lalu Santi bertanya sekali lagi: “Aku ini apa?”

“Manusia.”

[1] Terinspirasi dari buku puisi: Puisi ini tidak ada keraguan di dalamnya; karya Nawirul Haqqi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!