Kalau kamu merasa dirimu paling labil karena sering berubah pikiran sewaktu kecil, tunggu sampai kamu menengok daftar panjang cita-cita Upin dan Ipin. Karakter duo kembar botak ini seperti punya lemari katalog masa depan yang tak ada habisnya. Mulai dari cerita ruang angkasa hingga di lapangan hijau. Ambisi mereka saat dewasa terus berubah-ubah dari musim ke musim, menunjukkan bahwa urusan cita-cita mereka penuh ketidakkonsistenan.
#1 Upin dan Ipin bercita-cita menjadi pemain sepak bola yang membela Malaysia
Cita-cita pertama Upin dan Ipin adalah menjadi pemain sepak bola profesional yang membela Timnas Malaysia. Cita-cita mereka terungkap di musim ke-4 yang berjudul “Anak Harimau”.
Cerita bermula di Kedai Uncle Muthu. Trio bapak-bapak Kampung Durian Runtuh, yaitu Tok Dalang, Ah Tong, dan Muthu, tengah sibuk berdiskusi tentang Piala Dunia yang diselenggarakan di Afrika Selatan. Dengan penuh antusias, mereka memprediksi tim juara piala dunia.
Di tengah obrolan seru itu, Upin dan Ipin yang sedang asyik bermain tiba-tiba ikut nimbrung dengan pernyataan mengejutkan: “Malaysialah!” Pernyataan polos itu membuat trio bapak-bapak terkejut. Mereka menjelaskan bahwa jangankan juara, Malaysia bahkan belum pernah lolos ke Piala Dunia satu kali pun.
Upin kemudian bertanya kepada Tok Dalang, “Agak-agaknya kena kita tunggu besar ya, Tok?” Mendengar itu, trio bapak-bapak tertawa serempak, lalu memotivasi Upin dan Ipin untuk makan banyak-banyak biar cepat besar. Mereka juga menyemangati si kembar agar bersungguh-sungguh memperjuangkan cita-cita menjadi pemain sepak bola demi membela Malaysia.
#2 Upin bercita-cita menjadi astronaut, sedangkan Ipin ingin menjadi ilmuwan pembuat roket
Di musim ke-4 pada episode berjudul “Bila Besar Nanti”, si kembar botak, Upin dan Ipin, mengungkapkan cita-cita mereka untuk menjadi astronaut dan ilmuwan pembuat roket. Cerita ini bermula dari tugas sekolah yang diberikan Cikgu Jasmin; seluruh murid kelas Aman diminta menggambar cita-cita masing-masing.
Awalnya, si kembar botak kebingungan menentukan cita-cita mereka. Hingga suatu sore, saat mereka berdua duduk di teras rumah sambil memandang langit, inspirasi itu muncul. Upin dan Ipin memutuskan untuk menggambar langit, roket, dan sosok astronaut sebagai cita-cita mereka.
Keesokan harinya, di kelas Aman, para murid mempresentasikan gambar cita-cita mereka. Ehsan diperlihatkan ingin menjadi seorang koki terkenal. Fizi bercita-cita ingin menjadi petugas kebersihan. Sementara itu, Jarjit ingin menjadi wartawan.
Tiba giliran Upin dan Ipin presentasi. Dengan kompak, mereka membentangkan gambar cita-cita mereka secara bersamaan. Upin bercita-cita menjadi seorang astronaut, sedangkan Ipin ingin menjadi ilmuwan yang menciptakan roket.
#3 Upin dan Ipin bercita-cita menjadi pemadam kebakaran
Si kembar Upin dan Ipin kembali menunjukkan ketidakkonsistenan mereka dalam memilih cita-cita. Kali ini, mereka berdua ingin menjadi petugas pemadam kebakaran, sebagaimana terlihat pada musim ke-6 yang berjudul “Sedia Menyelamat”. Episode ini menceritakan diadakannya simulasi pencegahan dan penyelamatan kebakaran di Tadika Mesra.
Di lapangan sekolah, petugas pemadam memberikan penyuluhan tentang pencegahan kebakaran dan langkah-langkah yang harus dilakukan jika kebakaran terjadi. Setelah menjelaskan, petugas pemadam kebakaran kemudian bertanya kepada semua murid, “Siapa yang bercita-cita menjadi pemadam kebakaran?” Semua murid kompak mengacungkan tangan, termasuk Upin dan Ipin.
Keesokan harinya, Upin dan Ipin bermain peran menjadi petugas pemadam kebakaran. Berbekal kostum ala pemadam yang seadanya, mereka memadamkan setiap api yang mereka temui, seperti memadamkan api unggun teman-temannya yang sedang bermain hingga kompor di Kedai Uncle Muthu. Bukannya mendapat pujian, aksi berlebihan Upin dan Ipin justru menimbulkan kekacauan. Keduanya pun dikejar-kejar hingga akhirnya menyadari kesalahan mereka.
#4 Upin dan Ipin ingin menjadi tentara karena terinspirasi Abah
Di musim ke-8 pada episode berjudul “Upin dan Ipin Kesayanganku”, si kembar botak kembali menunjukkan ketidakkonsistenan mereka dalam memilih cita-cita. Kali ini, mereka bercita-cita menjadi tentara karena terinspirasi oleh almarhum Abah.
Ceritanya, secara tidak sengaja Upin dan Ipin menemukan kamar rahasia berisi kenangan kedua orang tua mereka. Keesokan harinya, Upin dan Ipin mengajak Kak Ros ke kamar rahasia tersebut untuk melihat buku kenangan itu. Kak Ros membaca lembar demi lembar buku catatan kasih sayang dari orang tua mereka hingga menangis tersedu-sedu.
Tangisan Kak Ros menarik perhatian Opah. Upin dan Ipin menjelaskan bahwa Kak Ros menangis setelah membaca buku kenangan tentang kedua orang tua mereka. Opah kemudian meminta Upin dan Ipin mengambil sebuah peti di bawah lemari karena ingin menunjukkan sesuatu.
Dari peti itu, Opah mengeluarkan seragam tentara milik almarhum Abah, lengkap dengan baret dan lencana bertuliskan “Abdul Salam”. Melihat seragam peninggalan ayahnya, Upin dengan semangat langsung mencobanya dan bertekad ingin menjadi tentara seperti Abah. Tak mau kalah, Ipin juga memakai baret tentara yang kebesaran hingga menutupi matanya, sambil menyatakan tekad serupa untuk mengikuti jejak sang ayah.
Poin-poin di atas menjadi bukti betapa seringnya Upin dan Ipin bergonta-ganti cita-cita. Jika kita melihatnya dari perspektif psikologi anak, hal ini sebenarnya sangat manusiawi. Di usia mereka yang baru menginjak 5 tahun (dan tidak pernah bertambah tua selama puluhan musim tayang), wajar jika mereka masih labil. Jangankan anak kecil yang dunianya penuh imajinasi, kita yang sudah dewasa pun sering kali masih bingung menentukan arah dan tujuan hidup.
Aa-Aa milenial pangais bungsu. Lahir dan tinggal di Bandung. Bekerja sebagai driver ojek online. Membelah kemacetan pagi-pagi, berkelahi dengan debu, dan menjadi petugas kebersihan di siang hari. Malamnya menulis. Penulis lepas di berbagai media.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!