Eksploitasi Berkedok Passion: Ketidakrasionalan Rekrutmen Content Writer Freelance yang Dibayar per View

Sore itu, layar monitor saya menampilkan salah satu pengumuman rekrutmen content writer freelance di sebuah platform lowongan kerja. Sebagai orang yang cukup sering melamar pekerjaan freelance di bidang kepenulisan, apa saja saya kerjakan selagi itu urusan mengolah kata. 

Saya coba apply. Tidak berselang lama saya dinyatakan diterima tanpa tes apa-apa. Tentu saya senang. Namun, setelah ikut zoom untuk pembekalan, saya terbelalak. Sebab, di sana baru dijelaskan kalau penulis akan dibayar berdasarkan jumlah tayangan, dengan tarif Rp3 per view.

Saya merenung agak lama, mengulang kalkulasi sederhana di dalam kepala. Tiga rupiah. Artinya, jika tulisan saya dibaca oleh 10 orang, saya baru mendapatkan uang sebesar Rp30. Jika dibaca 100 orang, hasilnya Rp300. Benar-benar angka yang tidak masuk akal. Maksud saya, untuk sekadar mendapatkan harga satu gorengan saja, artikel itu harus dibaca oleh ratusan orang terlebih dahulu.

Jan, saya masih tidak percaya, logika macam apa yang digunakan oleh pengelola media untuk mematok harga sebuah karya tulis seharga debu begini?

 

Ketika Kerja Penulis Hampir Tak Ada Harganya

Perlu diakui bersama bahwa seorang penulis yang bertanggung jawab tidak sekadar mengetik kata demi kata secara asal. 

Ia harus melakukan riset bahan, memverifikasi data, menyusun jalan pikiran agar runtut, hingga mengedit tata bahasa agar enak dibaca. Proses itu menyita waktu, daya pikir, listrik, kuota internet, bahkan secangkir kopi.

Artinya kita semua akan sepakat jika sebuah media menginginkan jumlah views yang tinggi, jalan yang benar adalah merekrut penulis secara profesional. Iya, penulis tenanan. Berikan mereka fasilitas, kontrak yang adil, serta kompensasi yang layak agar mereka bisa menghasilkan tulisan yang berbobot dan menarik pembaca secara organik.

Bukan malah membuka rekrutmen massal tanpa seleksi lalu memberikan skema gaji yang lebih mirip hinaan ketimbang penghargaan.

Sialnya, praktik tidak manusiawi ini sering kali tidak dilakukan oleh media-media kecil yang baru belajar beroperasi. Banyak dari mereka justru media yang sudah punya nama besar, berumur, dan memiliki rekam jejak panjang di industri informasi. 

Di situlah letak kecongkakan yang nyata. Dengan berlindung di balik nama besar almamater medianya, mereka merasa berhak membayar keringat orang lain dengan nominal yang menghina akal sehat.

 

Romantisasi Semu dan Menjual Mimpi

Hal yang paling membuat nurani saya mengeluh adalah bagaimana media-media ini mengemas eksploitasi tersebut dengan narasi-narasi manis.

Mereka menjual romantisasi semu ini dalam kalimat ndakik-ndakik seperti: “Kalian berpotensi mendapatkan hingga satu juta rupiah per artikel!” Namun, potensi itu dipagari oleh target jumlah views yang syaratnya hampir tidak mungkin dicapai oleh penulis individu tanpa sokongan algoritma dan promosi besar-besaran dari media itu sendiri.

Ketika target itu gagal dicapai dan penulis hanya membawa pulang uang beberapa ratus rupiah, mereka sudah siap mengeluarkan kalimat-kalimat anti kemapanan duniawi: “Nggak apa-apa, jangan mengejar uangnya dulu. Selagi masih muda, anggap saja ini tempat latihan menulis, mengasah passion, dan membangun portofolio.”

Ah, tai. Bagi saya kalimat di atas tak lebih dari strategi manipulatif untuk mendapatkan tenaga kerja dengan harga sepotong gorengan. Sasarannya pun sangat jelas, yaitu para fresh graduate dan penulis pemula yang masih lugu. Mereka yang sedang gundah mencari pijakan karir diimingi-imingi portofolio semu di media ternama, tanpa menyadari bahwa waktu dan energi mereka sedang diperah demi keuntungan media semata.

 

Tak Perlu Memaklumi Praktik Jahat Ini

Kita tidak bisa terus-menerus memaklumi praktik kerja yang merendahkan martabat manusia seperti di atas. Pun jika sebuah industri media sedang mengalami masa sulit atau efisiensi anggaran, carilah solusi bisnis yang rasional dan etis. Cukup, jangan mengajak para penulis muda yang sedang berjuang untuk ikut terperosok dalam kesusahan yang diciptakan oleh ketidakmampuan manajemen.

Menulis adalah kerja intelektual yang membutuhkan keterampilan dan dedikasi. Mengagumi karya tulis tetapi enggan menghargai penulisnya secara manusiawi adalah bentuk kejahatan industri yang paling telanjang. Dan memang sudah saatnya para penulis berani menolak lowongan-lowongan beracun yang menjual mimpi kosong ini. 

Introvert yang baik. Tinggal di Lamongan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!