Satu-dua tahun belakangan ini, kalau Anda rajin menyusuri sudut-sudut kota, khususnya di dekat kawasan kampus, stasiun, atau permukiman padat, pasti ada satu pemandangan baru yang mencolok. Kedai-kedai kecil berselimut warna merah putih dengan logo Nescafe raksasa mendadak menjamur di mana-mana.
Mereka datang dengan konsep booth minimalis, mesin dispenser otomatis, serta daftar menu es kopi susu yang harganya dibanderol Rp5.000 hingga Rp10.000 saja per gelas.
Hasilnya? Laris manis. Antreannya sering kali mengular, didominasi oleh mahasiswa yang tugasnya menumpuk, driver ojek online yang butuh penahan kantuk, hingga pekerja kantoran yang dompetnya menipis di akhir bulan.
Melihat fenomena antrean kedai Nescafe murah ini, ada satu kesimpulan jujur dan sedikit satiris yang melintas di kepala saya: orang-orang sebenarnya tidak terlalu butuh kopi premium.
Selama bertahun-tahun, kafe-kafe estetis telah berhasil memicu semacam gengsi sosial. Mereka menjejali kita dengan narasi biji kopi single origin arabika yang dipetik manual di ketinggian 1.500 mdpl, diproses secara anaerobic natural, lalu diseduh menggunakan metode V60 dengan rasio air yang presisinya harus setara rumus fisika nuklir.
Harga per cangkirnya jelas di atas Rp35.000. Bagi dompet penganut UMR daerah, harga segitu sudah nggak mashok. Namun, kehadiran kedai Nescafe murah ini menjadi tamparan keras yang menyadarkan kita semua dari ilusi gengsi tersebut.
Bagi mayoritas masyarakat kelas pekerja dan pelajar di negara ini, fungsi utama kopi sebenarnya cuma dua: penahan kantuk dan pemicu fokus untuk bekerja atau menyelesaikan tugas.
Ketika seseorang butuh asupan kafein pada pukul dua siang saat matanya mulai berat di depan layar laptop, apakah mereka benar-benar peduli jika kopinya punya notes rasa buah plum, acidity yang bright, atau aftertaste rasa cokelat pahit?
Tentu saja tidak! Bocah-bocah kuwi cuma butuh cairan dingin berkafein yang ramah di tenggorokan dan tidak menguras sisa saldo di m-banking.
Ketika kedai Nescafe murah menyuguhkan es kopi susu racikan mesin yang rasanya konsisten, disajikan cepat tanpa perlu menunggu barista me-roasting biji kopi setengah jam, dan harganya cuma Rp8.000, ya jelas, pilihan rakyat langsung jatuh ke sana.
Anggap saja begini: dengan uang Rp40.000 (harga satu gelas cafe latte di kafe estetis), seorang mahasiswa bisa mendapatkan lima gelas es kopi Nescafe. Lima gelas! Itu cukup untuk menyokong pasokan kafein selama seminggu penuh. Kalau ada pilihan yang lima kali lebih murah dan fungsinya sama-sama bikin melek, buat apa maksain diri gaya-gayaan beli yang mahal?
Banyak pengamat bisnis kuliner mengira ramainya kedai Nescafe murah ini cuma tren sesaat. Namun, bagi saya, ini adalah bentuk perlawanan riil dari konsumen yang sudah jenuh dengan komersialisasi kopi yang kebablasan.
Selama ini, kita sering kali tidak hanya membayar harga cairan kopinya, tetapi juga biaya sewa AC kafe, fasilitas Wi-Fi cepat, sofa empuk, hingga biaya branding dan lagu-lagu indie yang diputar di speaker kafe. Kita dipaksa membeli paket “gengsi dan tempat nongkrong”, padahal kita cuma ingin minum kopi sebentar lalu pergi.
Kedai Nescafe murah memotong semua tetek-bengek yang tidak perlu itu. Tidak ada sofa empuk, tidak ada ruangan ber-AC, kadang malah cuma berupa booth container di pinggir jalan dengan dua kursi plastik di depannya.
Lalu, apakah rasa kopinya sekelas kopi barista kompetisi dunia? Ya, tentu saja tidak. Wong ini kopi instan pabrikan yang diseduh mesin otomatis. Namun, rasanya cukup enak untuk harganya yang murah. Dalam hukum ekonomi masyarakat menengah ke bawah, variabel value for money seperti inilah yang selalu menang di lapangan.
Introvert yang baik. Tinggal di Lamongan.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!