Minggu pagi selalu memiliki cara sendiri untuk membuat dunia terasa lebih pelan, namun, pagi ini berbeda.
Suamimu telah berpulang.
Maya membaca sepucuk surat yang tiba di teras rumahnya. Matanya menatap sekitar, mencari pengirim surat. Tidak ada siapa-siapa.
Udara masih menyisakan dingin dari malam. Embun bergantung di ujung daun, sementara matahari perlahan muncul dari balik pepohonan di halaman rumah.
Maya tidak ambil pusing tentang surat itu. Ia meletakkan sepucuk surat itu di meja, di samping segelas kopi yang masih panas, lantas lanjut membaca buku yang tadi sempat tertunda.
Satu halaman. Dua halaman. Tiga halaman. Berhenti.
Hatinya risau. Pesan dari surat itu menjerat pikirannya. Ia menutup buku, menatap sepucuk surat yang sejak tadi terabaikan.
“Ini pasti hanya surat iseng yang tiada arti,” gumam, Maya.
Tangannya mengetuk meja, seirama dengan detik jam dinding. Matanya menyusuri halaman rumah, menunggu si pelaku pengirim surat.
Enam puluh detik berlalu lambat sekali. Maya beranjak dari tempat duduknya, melangkah menuju kamar.
Ia mencari ponsel untuk menelepon suaminya. Di bawah bantal, tidak ada. Di balik selimut, tidak ada. Di atas nakas pun tidak ada. Hampir seluruh isi kamar ia telusuri, ponselnya tetap tidak ketemu.
Maya kembali ke halaman rumah. Meraih surat yang memporak-porandakan Minggu paginya.
Ia menatap surat itu lekat. Meremasnya kuat-kuat. Namun, sebelum kertas itu benar-benar hancur di tangannya, Maya berhenti. Ada sesuatu yang membuatnya ragu.
Perlahan, ia membuka kembali lipatan surat yang sudah kusut. Matanya kembali membaca kalimat yang hanya terdiri dari tiga kata.
Suamimu telah berpulang.
“Tidak mungkin,” ucap, Maya.
Suaminya, Arya, tidak mungkin meninggal. Semalam mereka masih berbicara lewat telepon. Arya mengatakan akan pulang hari Minggu setelah menyelesaikan pekerjaannya di luar kota.
Maya berlari kecil menuju ruang tengah. Mencari ponselnya.
Hampir sepuluh menit ia mengitari seisi rumah, mencari ponsel kesana-kemari. Sampai akhirnya ia menemukan ponselnya tergeletak di belakang televisi.
Tergesa-gesa ia mencari nomor suaminya, lalu menelepon. Tidak ada yang mengangkat panggilan dari Maya di seberang sana. Telepon itu terputus.
Sekali lagi, Maya menelepon nomor suaminya. Tidak ada yang mengangkat. Telepon itu terputus.
Lagi, Maya menelepon nomor suaminya. Tidak ada yang mengangkat. Telepon itu terputus. Butir hujan di matanya terjun begitu saja. Maya tidak ingin percaya pada surat tanpa pengirim yang tiba-tiba sampai di teras rumahnya.
Ia beralih menelepon rekan kerja suaminya. Namun, tidak ada jawaban dari ujung telepon. Hingga tiga panggilan, tetap tidak ada jawaban. Hanya kedua nomor ini yang bisa ia hubungi.
Maya terus berusaha menelepon suaminya dan rekan kerja suaminya. Tapi, tetap tidak ada jawaban yang ia inginkan.
Harusnya, hari ini Maya besantai, membaca buku, menikmati kopi, menikmati matahari pagi, dan menunggu suaminya pulang.
Pagi ini rusak oleh surat itu.
Untuk pertama kalinya, Maya membenci suara jam dinding. Setiap detik terdengar seperti alarm yang berbunyi di Senin pagi. Suara itu terdengar semakin jelas di tengah rumah yang mendadak terasa terlalu sunyi. Hatinya semakin risau tentang kebenaran surat itu akan keadaan suaminya.
Maya duduk di sofa dengan kedua tangan menggenggam ponselnya. Nomor Arya masih terpampang di layar. Ia mencoba menghubunginya lagi. Tetap tidak ada jawaban. Maya meremas rambutnya frustasi, mengusap wajahnya. Kali ini ia tidak menangis, ia berusaha berpikir positif.
“Mungkin sinyalnya buruk,” bisiknya, pada diri sendiri.
Arya memang sedang berada di luar kota. Mungkin ponselnya tertinggal di kamar hotel. Mungkin ia sedang menyetir. Mungkin ia sedang mandi. Mungkin ha yang sama juga terjadi pada rekan kerja suaminya. Hingga mereka sulit dihubungi.
Ada begitu banyak kemungkinan. Namun, hanya satu kemungkinan yang terus berputar di kepalanya. Kemungkinan yang tertulis di atas selembar kertas.
Suamimu telah berpulang.
Maya kembali mengambil surat itu. Kali ini ia memperhatikannya lebih teliti. Tidak ada nama pengirim. Tidak ada alamat. Tidak ada cap pos. Bahkan tidak ada tanggal. Hanya tiga kata itu.
Maya membalik kertasnya. Kosong.
Ia beranjak dari duduknya menuju teras rumah. Lalu mengangkat surat itu mendekati cahaya matahari. Tidak ada tulisan tersembunyi. Tidak ada tanda apa pun. Hanya kertas putih yang sedikit kekuningan.
Maya kembali duduk di kursi teras rumah dengan secangkir kopi yang sejak tadi tidak disentuh. Kopi itu sudah dingin. Matahari yang semula terasa hangat kini justru membuat rumah terasa semakin sepi.
Secangkir kopi itu kini digenggam Maya. Pikirannya masih berkelana pada setiap kemungkinan saat terdengar suara pagar rumah dibuka. Maya menoleh ke asal suara. Seorang laki-laki berjalan menuju arahnya, dengan penampilan berantakan dan basah oleh keringat.
“Maya,” katanya pelan.
Cangkir di tangan Maya terlepas, pecah menghantam lantai.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!