DI BALIK DISKON 10.10 : KETIKA ID, EGO, DAN SUPEREGO BERDEBAT
MENURUT TEORI SIGMUND FREUD
Oleh : Zilfa Amaliyah
Jebakan Satu kali Klik di Layar Hp, Pernahkah kamu terbangun di tengah malam, dan mendengar notifikasi toko online di hp mu, Lalu tanpa di sadari tiba-tiba dirimu sedang menggeser halaman aplikasi belanja online tersebut?, Di sana, sebuah barang yang sebenarnya tidak sangat di butuhkan sedang didiskon besar-besaran. Ada dorongan kuat di dalam dada yang membisikkan kata, “Beli aja deh, mumpung murah, aku kan juga berhak bahagia.” Hanya dengan satu sentuhan sidik jari atau memasukkan beberapa digit nomor PIN, transaksi pun selesai. Rasa puas langsung menjalar ke seluruh tubuh. Namun, keesokan harinya saat paket tiba, rasa puas itu mendadak hilang, kemudian digantikan oleh rasa bersalah ketika melihat saldo rekening yang terkuras, karna bukan hanya satu barang yang sudah kamu beli.
Fenomena compulsive buying (belanja impulsif) dan flexing barang mewah di media sosial ternyata bukan cuma soal urusan dompet atau isi rekening. Kalau digali lebih dalam, ini adalah persoalan psikologis.
Jauh sebelum ada aplikasi belanja online, tokoh psikologi bernama Sigmund Freud, sudah menjelaskan kenapa kita begitu rapuh di hadapan diskon tanggal kembar dan godaan racun algoritma. Lewat teorinya tentang struktur kepribadian manusia, Freud membantu kita memahami perang batin yang terjadi di kepala setiap kali tangan kita tergiur menekan tombol ‘Check Out’
Pertempuran Tiga Aktor di Dalam Mental Kita, Untuk memahami mengapa kita sering kali gagal mengontrol diri saat belanja, kita harus kembali pada peta kepribadian yang dirumuskan oleh Freud. Menurut bapak psikoanalisis ini, jiwa manusia tidaklah Tunggal, Tapi ini adalah perang batin antara tiga komponen psikologis kita: Id, Ego, dan Superego. Tiga elemen ini tanpa sadar selalu berebut kendali atas setiap keputusan yang kita ambil sehari-hari
Yang pertama adalah Id, bagian kepribadian yang paling primitif dan sudah ada sejak manusia dilahirkan. Id bekerja berdasarkan prinsip kesenangan. Karakteristik utama dari Id adalah ia tidak mengenal logika, tidak memahami realitas, tidak sabar, dan menuntut pemuasan segera atas segala keinginan, kebutuhan, serta dorongan agresif maupun seksual.
Dalam konteks dunia digital hari ini, industri e-commerce dan media sosial didesain secara sempurna untuk memanjakan Id kita. Ketika Kamu melihat iklan sepatu edisi terbatas di Instagram, Id Anda akan langsung berteriak, “Aku mau itu sekarang juga, Nanti takut aku ga kebagian !” Id tidak peduli apakah kamu masih memiliki uang untuk membayar sewa kos bulan depan. Bagi Id, penundaan adalah siksaan. Algoritma e-commerce yang menyediakan fitur One-Click Checkout atau metode pembayaran PayLater (bayar nanti) adalah surga bagi Id, karena menghilangkan semua hambatan fisik yang bisa menunda kepuasan instan tersebut.
Kebalikan dari Id, kita punya Superego. Superego adalah suara hati atau kompas moral kita. Jika Id menuntut kesenangan, Superego menuntut kesempurnaan moral dan kepatuhan total pada aturan.
Saat Id mendesak kita untuk membeli barang mewah yang tidak perlu, Superego akan muncul sebagai “polisi internal” yang meniup peluit peringatan. Superego akan berbisik dengan nada menghakimi, “Kamu egois sekali jika membeli barang itu. Ingat tabungan masa depanmu. Ingat orang lain yang sedang kesusahan. Kamu seharusnya menjadi orang yang hemat dan bertanggung jawab.” Ketika kita menuruti Id dan mengabaikan Superego, Superego menghukum kita dengan memunculkan perasaan bersalah, kecemasan, dan rasa malu yang mendalam setelah berbelanja.
Di tengah-tengah pertarungan sengit antara dorongan liar Id dan kekangan Superego, berdirilah Ego. Ego bekerja berdasarkan kenyataan hidup atau prinsip realitas. Tugas Ego sangatlah berat: ia harus menjadi penengah yang cerdas. Ego bertugas mencari jalan keluar agar keinginan Id dapat terpenuhi, tetapi dengan cara-cara yang realistis dan dapat diterima oleh Superego.
Dalam kehidupan sehari-hari, seorang individu yang sehat secara mental membutuhkan Ego yang kuat untuk menyeimbangkan. Ketika Id meminta liburan mewah karena stres kerja dan Superego melarang karena biayanya mahal, Ego yang sehat akan mengambil jalan tengah: “Kita tidak bisa liburan ke luar negeri sekarang, tapi kita bisa staycation di dalam kota akhir pekan ini setelah menyisihkan uang tabungan.” Namun, masalahnya adalah energi Ego manusia itu terbatas. Ketika kita terus-menerus dibombardir oleh godaan visual di media sosial, Ego kita mengalami apa yang disebut psikologi modern sebagai ego depletion atau kelelahan ego. Saat Ego kelelahan, pertahanannya jebol, dan Id mengambil alih kemudi.
Mekanisme Pertahanan Diri di Balik Perilaku “Flexing”
Pertempuran antara Id dan Superego sering kali menimbulkan kecemasan yang luar biasa di dalam diri manusia. Untuk melindungi diri dari rasa cemas dan mempertahankan harga diri, Ego secara tidak sadar akan mengaktifkan apa yang disebut Freud sebagai Mekanisme Pertahanan Ego. Dalam fenomena digital saat ini, setidaknya ada dua mekanisme pertahanan yang paling sering muncul tanpa kita sadari: Rasionalisasi dan Kompensasi.
Mencari Pembenaran Logis untuk Tindakan Impulsif
Rasionalisasi terjadi ketika seseorang menciptakan alasan-alasan yang terdengar logis dan dapat diterima secara sosial untuk membenarkan perilaku yang sebenarnya didorong oleh hasrat primitif Id. Kita sering melakukan ini setelah melakukan panic buying atau belanja impulsif.
Sebagai contoh, seseorang membeli tas desainer mahal berharga puluhan juta rupiah yang membuat tabungannya menipis. Alih-alih mengakui bahwa ia membelinya hanya demi gengsi atau kepuasan instan (dorongan Id), Ego-nya melakukan rasionalisasi dengan berkata, “Ini bukan pemborosan, ini adalah investasi jangka panjang karena harga tas ini akan naik,” atau “Saya membelinya untuk menunjang penampilan profesional saya di depan klien agar proyek saya tembus.” Dengan cara ini, Superego berhasil ditenangkan, rasa bersalah hilang, dan individu tersebut merasa tindakannya sepenuhnya masuk akal.
Menutupi Kerapuhan dengan Kemewahan Layar
Mekanisme pertahanan berikutnya yang sangat subur di era Instagram dan TikTok adalah kompensasi. Kompensasi adalah upaya seseorang untuk menutupi kelemahan, kegagalan, atau rasa tidak aman (insecurity) di satu area kehidupannya dengan cara menonjolkan kelebihan di area lain secara berlebihan. Di sinilah fenomena flexing atau pamer kekayaan digital sering kali berakar.
Banyak orang yang secara psikologis merasa kesepian, merasa tidak dihargai di tempat kerja, atau mengalami kegagalan dalam hubungan interpersonal, menggunakan media sosial sebagai panggung kompensasi. Mereka membeli barang-barang bermerek, memotretnya dengan sudut terbaik, dan mengunggahnya demi mendapatkan validasi berupa “likes” dan komentar pujian dari netizen. Angka-angka digital di media sosial tersebut menjadi obat penawar sementara bagi rasa rendah diri mereka di dunia nyata. Kemewahan materi yang dipamerkan adalah topeng psikologis untuk menyembunyikan jiwa yang sebenarnya sedang merasa kosong dan rapuh.
Menjinakkan Id, Menguatkan Ego di Era Digital
Pada akhirnya, apa yang kita lihat di keranjang belanja online adalah cerminan dari dinamika psikologis terdalam kita sendiri. Konsumerisme digital bukan sekadar tentang hilangnya uang dari dompet, melainkan tentang hilangnya kendali Ego atas dorongan-dorongan impulsif di dalam diri kita.
Teknologi modern telah berhasil memetakan kelemahan psikologis manusia. Mereka tahu bagaimana cara merayu Id kita agar bergerak lebih cepat daripada nalar logis kita. Jika kita terus membiarkan diri kita digerakkan oleh Id yang haus akan kesenangan instan tanpa batas, kita tidak hanya akan menghadapi krisis finansial, tetapi juga krisis kesehatan mental yang kronis akibat ketergantungan pada validasi semu.
Langkah awal untuk keluar dari lingkaran setan ini adalah dengan membangun kesadaran diri (self-awareness). Setiap kali tangan kita terdorong untuk menekan tombol beli pada barang yang tidak mendesak, berhentilah sejenak selama sepuluh menit. Tarik napas dalam-dalam, dan tanyakan pada diri sendiri: “Apakah ini kebutuhan nyata yang disetujui oleh Ego yang rasional, ataukah ini sekadar jeritan Id yang sedang mencari pelarian instant dari rasa jenuh dan cemas?”
Menjinakkan Id bukan berarti kita harus hidup layaknya seorang pertapa yang antipati terhadap kesenangan duniawi. Menjinakkan Id berarti mengembalikan fungsi Ego sebagai pemimpin yang bijaksana dalam diri kita. Dengan menguatkan fungsi Ego, kita dapat menikmati kemudahan teknologi digital tanpa harus menyerahkan kedaulatan jiwa kita pada algoritma pasar.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!