

Tulisan ini merupakan arsip kegiatan Musim Mekar Selasih yang diadakan kawan-kawan Membaca Selasih.
Meminjam tajuk Idrus “Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma” dan tentu saja idola saya, Sunlie dalam “Dari Belinyu ke Jalan Lain ke Rumbuk Randu” inilah saya memberi judul esai. Bukan tanpa alasan, saya merasa memiliki dimensi yang beririsan seperti pada Zulbahri dan Wartini, dengan catatan: tentu saja saya Zulbahrinya!
Saya mendadak altruis ketika harus mengikhlaskan seorang yang sangat berarti, merasa kemalangan saya akan hal-hal romantis tak ada apa-apanya kalau dibandingkan penderitaan rakyat. Tidak bercanda, ini betulan.
Tapi bukan Arini kalau tidak berani, maka, sengaja saya “pulangkan” itu patah hati saya ke muasalnya.
Selain karena saya selalu memiliki energi untuk membincangkan sastra dan perempuan, saya ingin kembali melihat Pasaman dari perspektif dan pengalaman yang “membumi” dan “komunal”. Saya ingin datang ke Pasaman sebagai diri saya sendiri, yang suka menulis, mengumpat, membicarakan banyak hal, dan saya hanya punya kesempatan itu kemarin. Meskipun dengan orang Pasaman itu saya “tidak untung” seperti kata Selasih, tapi bukan itu poinnya. Ke-tidak-untung-an saya tentu boleh jadi bahan tertawaan semua orang, tapi soal perempuan dan sastra, saya akan maju paling depan! Setelah Dilla dan Sylvie tapi~
Saya selalu melihat Selasih memiliki kesamaan dengan Rukiah, dan saya merasa memiliki “tanggung jawab” di Purwakarta seperti kawan-kawan Membaca Selasih
Kerja-kerja mengarsipkan tentu saja sulit, apalagi kita semua mengalami masa pemberangusan karya-karya yang baik karena situasi politik, dan kesadaran kita terhadap arsip jauh lebih rendah. Contoh nyata, kita lebih sering menggunakan lembar koran sebagai bungkus gorengan ketimbang kita kliping-kan.
Maka, perjalanan ke Pasaman Barat ini merupakan perjalanan yang jauh lebih penting urgensinya daripada persoalan “memulangkan” patah hati saya. Tulisan ini akan saya bagi menjadi empat babak (1) Mengunjungi Sumatra Sekali Lagi, (2) Napak Tilas Selasih di Padang Panjang, (3) Pulang ke Rumah Selasih, dan (4) Yang Saya Bawa Pulang ke Pulau Jawa.
Mengunjungi Sumatra Sekali Lagi
Sebelum sepenuhnya insyaf dengan keluar dari perusahaan pengrusak lingkungan, saya selalu melihat Sumatra sebagai tempat bagi banyak satwa. Saya mengenal Novi Rika dari sebuah kampanye di aplikasi campaign.id, bersamaan dengan menguaknya kasus Medan Zoo pada tahun 2023. Novi memulai kampanye #harimauadalahminang.
Kampanye yang Novi sebarkan akhirnya membuat saya mengirim lukisan saya kepada kawan-kawan Dangau Studio di Padang, dan membuat saya terhubung dengan Budi Irwandi, seorang maestro indie yang galak juga. Tidak segalak Opung saya tapi 🙁
Lukisan saya dipamerkan di Fabriec Bloc oleh kawan-kawan Dangau, dan terima kasih banyak! <3
Jauh sebelum saat ini, sekali waktu saya berkesempatan mengunjungi Riau. Lahannya dipenuhi sawit dan dari aspal jalan, saya bisa merasakan cairan mengalir dari pipa-pipa yang ditanam di bawah aspalnya sepanjang Riau. Membuat saya bertanya sontak,
“Eh, gempa bukan ini?!”
“Bukan, itu aliran pipa.”
“Hah, di mana ada pipa?”
“Itu ditanam di aspal.”
Jika Bupati Purwakarta menunjukkan kengacoannya lewat premis “Jalan rusak itu karena rumput-rumput di pinggiran aspal yang tidak dikosrek,”, saya kembali tak habis pikir dengan orang-orang yang melakukan penanaman pipa limbah atau apa pun itu di sepanjang jalan Riau. Pertama, sebagai orang yang gak awam-awam banget soal konstruksi dan energi, ada beberapa pertanyaan mengganjal di kepala saya:
Begitulah kesan saya ketika menginjakkan kaki mungil ini ke Riau.
Maju ke tahun 2026, saya membuka koper buat santai makan pensi di taplau. Terngiang “Adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah,” saya ragu-ragu memakai baju pantai saya yang lekbong itu. Namun Hayati meyakinkan saya,
“Kalau di sini gakpapa, deh.”
Baik. Meluncurlah saya ke taplau. Memesan sepiring pensi dan langkicuik (tutut laut) seharga Rp8.000,-. Menikmati debur ombak dan angin di tepi laut Kota Padang sambil melihat bukit yang ada tulisan “PADANG” neonnya itu~

Setelahnya, saya ditemani Johan Arda menikmati makanan kafe di sekitar taplau. Kafe itu berada tepat di tepi Gedung Kebudayaan Sumatera Barat (penulisannya Sumatera). Konon, Gedung Kebudayaan Sumatera Barat adalah gedung mangkrak. Hal ini dikeluhkan oleh Johan dan Hayati. Mereka menjelaskan pada saya bahwa proyek yang mangkrak dan sangat sayang untuk tidak dipakai adalah area lantai atas (rooftop) yang langsung menghadap laut. Akhirnya, area itu menjadi sarang burung dan tidak bisa digunakan pementasan. Padahal, saya yakin jika difungsikan, itu akan menjadi area yang cantik dan para seniman bisa menunjukkan aksinya di sana.
Malamnya, saya kembali ke penginapan. Oh iya, sebelumnya, saya sudah paham bahwa untuk di Padang, penginapan-penginapan itu tidak bebas seperti di Jakarta, Bandung, Karawang, atau kota lain yang pernah saya datangi. Di Sumatra Barat, apabila kamu bukan suami-istri dan kamu menginap di kamar yang sama, sebaiknya mencari penginapan modern. Meskipun modern, saya rasa harus menunjukkan buku nikah juga, sih, tapi bergantung sepertinya. Yang jelas, kita tak bisa sembarangan ya memesan kamar.
Besoknya, saya sarapan lontong pical di Padang dengan harga Rp8.000,-. Untuk saya yang kenyang makan setengah porsi orang pada umumnya, begitu tersiksa menghabiskan seporsi lontong pical di tempat asalnya. Satu piring penuh! Maksud saya, betul-betul penuh! Jika saya menghabiskan seporsi lontong itu, saya bisa tidak makan seharian dan itu terbukti!
Dari Kota Padang, saya pergi ke Halte UNP untuk naik “bus” menuju Bukittinggi. Di Pantura, sebutan bus identik dengan mobil besar yang bisa menampung hingga 50 kursi seperti Primajasa, Budiman, atau Agramas. Di Sumbar, bus itu bisa berarti juga elf (yang mobilnya percis seperti mobil travel), hanya saja lebih lokal dan tanpa AC.
Bus ini juga santer dikenal Tranex. Ada bermacam-macam “judulnya”, mulai dari Tintin, Ayah, Salma, Bunda, dan Sinamar. Kali ini, saya berkesempatan naik Tintin. Akhirnya saya naik Tranex! Haha.

Saya berfoto di depan tranex Tintin dari Padang ke Bukittinggi ongkosnya Rp30.000,-
Perjalanan dari Padang ke Bukittinggi menghabiskan ongkos Rp30.000,-. Ditempuh dengan jarak 3 jam melewati rute berikut:
Padang -> Pasar Usang -> Batang Anai -> Lubuk Alung -> Nagari Buyan -> Pasar Lubuk Alung -> Enam Lingkung -> RSUD Piyaman -> Kiambang -> Sicincin -> Balai Kamih -> Kapalo Hilalang -> Kayu Tanam -> Lembah Anai -> Padang Panjang -> Kabupaten Agam -> Aur Kuning (saya turun di sini).
Perjalanan melalui Lembah Anai selalu menjadi perjalanan yang menarik. Jika kawan-kawan suatu hari melewati Lembah Anai, harus sering-sering melihat kanan-kiri. Suasananya sangat asri dan menyejukkan (kecuali yang bolong-bolong akibat sawit dan pembukaan jalan tol). Masih banyak satwa yang berada di sana, sebut saja monyet (bahasa Minangnya baruak).
Sesampainya di Bukittinggi, saya bertemu Uni Rezki, yang lucunya, ternyata sahabat baik Mbak Tati!
Jika teman-teman adalah kawan saya di Karawang dan Purwakarta, pastilah tahu juga kedekatan saya dan Mbak Tati. Menariknya, Uni Rezki pun memiliki Dilla, dan hubungan mereka persis seperti saya dan Mbak Tati. Hihi, lucu sekali!
Bukittinggi adalah kota yang mirip-mirip Bogor, tapi tentu saja jauh lebih asri. Maka ketika saya sampai di sana, saya yang tidak banyak membawa baju hangat ini agak-agak kewalahan. Apalagi, sesampainya di Bukittinggi, saya langsung diajak berjalan-jalan ke Stasiun Bukittinggi (sekarang disebut Stasiun Lambuang).
Kata “lambuang” berarti lambung. Stasiun Bukittinggi nonaktif pada tahun 1980, dan difungsikan menjadi “pusat kuliner” pada 2024. Meskipun begitu, sebetulnya saya lebih senang jajan di pinggir jalan daripada harus masuk area Stasiun Lambuang.

Senang sekali. Di sini Dilla menjelaskan banyak sekali bangunan. Bahkan, sebuah rumah yang nampak memiliki mata dan saya lihat dari seberang pun Dilla bisa tahu!
Tebak siapa?
Saya juga bertanya ulang sih ini barusan, hehe~

Jawabannya adalah rumah Wakidi, pelukis Hindia Molek alias Mooi Indie. Kami lalu melanjutkan lagi berjalan kaki, kalau bahasa Minangnya disebut “raun-raun“. Saya percaya bahwa asal katanya dari round berkeliling, tapi Emil percaya asal katanya dari “laun” -lambat laun, sedangkan Uni Rezki percaya asal katanya dari “run”. Pembaca yang baik tim yang mana? Sila dipikir sendiri~

Kami meneruskan perjalanan sampai Hayati merengek lapar. Memang agak kurang ajar saya lihat-lihat. Begini. Maksud saya bukan karena Hayati lapar jadi dia kurang ajar, tapi saya jauh-jauh datang ke Bukittinggi bukan untuk makan pecel ayam dan kol goreng!
Ada begitu buanyaaak pilihan, dan dari sekian banyak, kenapa yang dipilih warung pecel ayam?!
Selesai makan menu yang biasa banget karena sudah sering itu, saya harus berjalan seorang diri 1 kilometer hanya untuk ke ATM karena tak ada warung yang menerima pembayaran digital. Betapa malang tapi tidak masalah.
Di Jakarta, saya kesulitan karena hampir tidak menerima pembayaran tunai, dan di Bukittinggi, saya kesulitan karena warung jarang menerima pembayaran digital. Ketika saya merenung, kesalahannya cuma satu: memang saya tak punya uang saja~
Kami kembali ke rumah Uni Rez, lalu saya mandi karena seharian berjalan-jalan. Setelah itu, kami minum teh talua bersama untuk menghangatkan badan dan mengembalikan tenaga. Jika di Purwakarta saya selalu minum bandrek (karena tak ada teh talua yang lamak), maka di sini saya akan minum teh talua segentong untuk mengembalikan energi saya!

Omong-omong, ketika masih tinggal di Bandung, saya suka minum teh talua. Rasanya seperti adonan kue lebaran, manis dan kental. Ketika minum teh talua di Sumbar, rasanya berbeda karena tak terlalu banyak menggunakan susu kental manis. Saya lebih suka yang lebih sedikit manisnya. Yang jelas, mau minum teh talua di beragam tempat pun, jangan lupa perasan jeruk nipis di atasnya!
Sedikit cerita, teh talua adalah minuman yang memiliki sejarah panjang di Sumatra Barat. Diingat, ya, sebab nanti berkaitan dengan tulisan perjalanan saya selanjutnya. Jadi, teh talua ini teh yang diminum oleh masyarakat Minangkabau di masa tanam paksa kolonial.
Bekerja lelah, tidak mendapat upah, tenaga dikuras habis-habisan, dan parahnya tidak boleh menikmati kopi dan teh yang ditanam sendiri, jadi masyarakat mengakali sumber energi dengan mencampur teh kawa (teh daun kopi) dan kuning telur! Kemudian tring! Jadilah teh talua yang saat ini kita minum.
Konon, pembuat teh talua handal adalah yang dengan tangannya, tercipta tiga lapis teh talua seperti ini:

Ahay, memang rezeki anak saleh!
Menulis puisi, prosa, melukis, dan bermusik tipis-tipis. Bukunya sudah 4, As Blue As You (2022), Jayanti (2023), Notes of The Lost Sheep (2024). dan Yusuf dan Sapi Betina (2025). Suka pamer dan suka bikin pameran.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!