Luka Masa Kecil dan Anak yang Belajar Mengatasi Kecemasannya: Menjadi People Pleaser dalam Kacamata Horney

Barangkali menjadi ramah dan baik hati dapat mengatasi rasa kecemasan dalam diri yang tumbuh bersama rasa tidak aman ini. Maka, “Dengan selalu menyenangkan orang lain, apakah aku tidak akan mengalami penolakan dan merasa aman di dunia ini?”

 

Hari ini sudah berapa banyak kamu mengiyakan perkataan orang lain? Satuan? Belasan? Puluhan? Ah, mungkin banyak sekali, ya.

Dari hal kecil seperti balas chat di WhatsApp “Iya, aman aja,” padahal sedang kewalahan, merasa sungkan (nggak enak) nolak ajakan untuk keluar atau biarin orang yang udah hutang ga bayar hutangnya—nggak ditagih karena nggak enak sama yang ngutang. Beberapa contoh di atas mungkin sudah tidak asing bagi kita, entah kita sebagai pengamat atau kita sendiri yang mengalaminya, si orang nggak enakan itu.

Kira-kira apa ya yang menjadi penyebab beberapa orang melakukan hal demikian? Kalau menurut Karen Horney—tokoh psikoanalisis sosial—hal ini terjadi karena adanya rasa kecemasan yang membuat orang merasa terganggu. Kecemasan itu membuat orang merasa sesak karena terjebak di dalamnya sehingga ingin segera lepas darinya. Jadi, dari mana kecemasan itu berasal?

Ternyata kecemasan itu berasal dari pengalaman masa kecil yang disebabkan sikap orang tua (pengasuh) serta lingkungan yang tidak aman. Orang tua yang suka marah-marah (agresif), mengekang atau suka membandingkan anaknya (basic hostility) dapat menyebabkan anak merasa tidak aman (muncul kecemasan).

Perasaan marah, frustasi, dan berontak itu muncul dalam diri sang anak, tetapi alih-alih menunjukkannya, anak-anak memilih untuk memendam dan menekan perasannya karena takut jika mereka melawan, mereka tidak lagi mendapatkan kasih sayang. Mereka merasa tidak berdaya dan terisolasi dari dunia yang menurutnya mengancam. Jadi, emosi negatif yang kian lama membukit menjadi kecemasan dasar (basic anxiety) dan ikut terbawa di tahap perkembangan manusia. Maka, ia mulai mencari cara mengatasi kecemasan itu.

Kalau menurut Horney, orang neurotik (orang dengan basic hostility dan basic anxiety) mengejar beberapa kebutuhan yang berlebihan dan tidak realistis (sepuluh kebutuhan neurotik) untuk terhindar dari rasa kecemasan itu. Dan oleh Horney dikelompokkan menjadi tiga strategi (coping mechanisms) berupa gerakan mendekat (moving towards), melawan (moving against), dan menjauhi orang lain (moving away). Maka, untuk bertahan hidup di tengah hiruk-pikuknya dunia yang membuatnya merasa tak aman, orang itu memilih salah satu strategi tersebut dan menjadikanya sebagai perilaku yang dominan.

Kalau people pleaser apakah termasuk di dalamnya? Kalau menurut Horney people pleaser termasuk moving towards people. Jadi, orang tersebut berusaha untuk berteman dengan semua orang agar tidak memiliki musuh dan merasa aman. Ia menjadi individu yang ingin selalu menyenangkan orang lain, mengindari konflik, dan sensitif terhadap penolakan.

Kalau kamu cenderung melakukan perilaku di atas, sudah berapa banyak energimu yang disedot untuk mendengar ucapan, “Kamu orangnya baik, ya.” Sebab kamu cenderung tidak dapat mengucapkan kata “tidak” atau membuat orang kecewa meskipun itu menyulitkanmu. Hal itu, membuatmu semakin jauh dari kata “aman” jika ternyata tindakan yang tadinya bertujuan mengatasi kecemasanmu justru menjadi boomerang untuk dirimu sendiri. Sebab, pada dasarnya ada beberapa hal yang memang pantas untuk kita bilang “tidak” terhadapnya.

Karena kamu takut akan kehilangan mereka apabila kamu sesekali menolak perkataannya. Sampai-sampai tidak sadar telah hidup parasit dalam dirimu bernama “nggak enakan” yang pelan-pelan menggerogoti inangnya. Hal itu juga mulai mengikis dirimu yang sebenarnya dan membuatmu terjebak dalam lingkaran citra idealmu sendiri. Citra untuk terus berbuat baik, menyenangkan orang, jika kamu gagal mencapainya muncul kekecewaan dan tuntutan baru pada dirimu, “Seharusnya aku melakukan ini,” atau “seharusnya aku melakukan itu.” Bukankah itu malah membuatmu semakin jauh dari kata aman?

Karena mungkin, bukan lagi “Apa kira-kira yang membuatku nyaman?” melainkan, pertanyaan berupa, “Apa mungkin mereka nyaman dengan ini?” yang muncul pada dirimu.

Namun, bukan baik hati namanya kalau kamu abai dan mengorbankan diri, bukan baik hati namanya kalau kamu tidak membuat batasan terhadapnya. Karena kamu bisa bersikap baik tanpa harus selalu mengiyakan untuk segalanya. Kamu bisa berbaik hati tanpa harus mengorbankan rasa amanmu, tanpa membuat dirimu hilang karenanya.

Karena sejatinya manusia memiliki kecenderungan untuk tumbuh dan mengaktualisasikan dirinya. Maka, mulai jujurlah pada dirimu sendiri dan dapat dengan bebas mengespresikan sisi yang kamu tekan sebelumnya, seperti marah atau frustasi (normal). Selain itu, kamu juga bisa mulai belajar untuk bilang “tidak” bila itu menyulitkanmu. Pun kamu juga bisa mulai menerima semua yang ada di dalam dirimu, baik kelebihan maupun kelemahanmu. Dapat menjalin hubungan yang aman dengan orang lain tanpa menggerus salah satunya. Terus bertumbuhlah dengan baik dengan mengoptimalkan semua strategi itu secara fleksibel dengan mengetahui kapan harusnya bertindak mendekat, melawan atau menjauhi orang lain tanpa ada salah satu strategi yang dominan diantara ketiganya.

Dari sini, sikap orang tua dan lingkungan dapat membentuk perkembangan kepribadian seseorang. Rasa aman dan kepuasan yang tidak terpenuhi dengan baik di waktu kecil dapat mengakibatkan seseorang tumbuh dengan membawa kecemasan bersamanya sehingga mencari cara untuk mengatasinya. Dengan demikian, teori Horney dapat memberikan penjelasan mengenai alasan di balik seseorang yang ngga enakan.

Dan karena hanya ada satu kamu di dunia ini, maka jangan biarkan dirimu itu raib tak berjejak karena kamu membiarkannya hilang begitu saja. Kamu tidak untuk semua orang, dan itu tidak apa-apa. Jadi, berbaik hatilah dengan dirimu sendiri juga. Mari mulai menerima diri perlahan-lahan dan tumbuh dengan cukup.

 

—

Bantuan referensi yang digunakan

Ewen, R. B. (2010). An Introduction to Theories of Personality (7th ed.). Psychology Press.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!