Gamau Jadian, Tapi Kok Gamau Kehilangan?

Pernah nggak sih kamu nemuin orang yang katanya nggak mau pacaran, tapi sikapnya ke seseorang udah kayak pacar? Tiap hari chatan, saling cerita tentang kegiatan masing-masing, saling ngabarin, bahkan kadang cemburu kalau salah satunya dekat sama orang lain. Tapi pas ditanya hubungan mereka sebenarnya apa, jawabannya cuma, “Temenan aja, kok.”

Fenomena kayak gini rasanya udah nggak asing lagi di kalangan anak muda. Ada yang nyebutnya HTS alias hubungan tanpa status, ada juga yang bilang cuma dekat, padahal perlakuannya udah lebih dari teman biasa. Masalahnya, hubungan kayak gini kadang bikin bingung. Salah satu pihak nggak mau berkomitmen, tapi ketika orang yang dekat dengannya mulai menjauh, dia malah merasa kehilangan.

Kalau emang nggak mau jadian, kenapa harus takut kehilangan? Sebaliknya, kalau emang nggak mau kehilangan, kenapa nggak sekalian memperjelas hubungan? Pertanyaan ini mungkin kelihatannya sederhana, tapi jawabannya nggak selalu sesederhana itu.

Nyaman, tapi Nggak Mau Terikat

Ada banyak alasan kenapa seseorang milih untuk nggak ngejalanin hubungan resmi. Mungkin dia belum siap pacaran, masih ingin fokus sama dirinya sendiri, takut kecewa, atau memang merasa hubungan tanpa status sudah cukup buat dirinya. Kita nggak bisa langsung menganggap semua orang yang menjalani HTS sebagai orang yang suka mempermainkan perasaan orang lain.

Namun, situasinya bisa menjadi rumit ketika seseorang ingin tetap mendapatkan kedekatan emosional tanpa mau menjalani komitmen yang jelas. Dia senang punya seseorang yang bisa diajak cerita, dicari saat bosan, atau dihubungi ketika sedang butuh teman. Kehadiran orang tersebut membuat hari-harinya lebih menyenangkan. Tapi ketika mulai muncul pembicaraan tentang status hubungan, dia justru memilih mundur.

Di sisi lain, ada juga orang yang sebenarnya ingin hubungannya lebih serius, tetapi tetap bertahan karena sudah telanjur nyaman. Dia mungkin berharap suatu hari nanti orang yang dekat dengannya akan berubah pikiran. Akhirnya, hubungan itu terus berjalan tanpa kepastian.

Yang bikin rumit, kedua orang tersebut belum tentu punya harapan yang sama. Satu orang merasa hubungan mereka sudah cukup seperti sekarang, sedangkan yang lain diam-diam berharap ada sesuatu yang lebih. Kalau keadaan ini terus berlangsung tanpa komunikasi yang jelas, salah satunya bisa merasa lelah karena terus menebak-nebak.

Menariknya, kebiasaan mempertahankan hubungan seperti ini ternyata bisa dibahas melalui salah satu teori dalam psikologi, yaitu teori operant conditioning dari B. F. Skinner.

Kok Susah Banget Berhenti? Coba Lihat dari Teori Skinner

  1. F. Skinner adalah tokoh psikologi yang terkenal dengan teori operant conditioning. Sederhananya, teori ini menjelaskan bahwa perilaku seseorang bisa dipengaruhi oleh konsekuensi yang muncul setelah perilaku tersebut dilakukan. Kalau suatu perilaku diikuti konsekuensi yang menyenangkan, kemungkinan perilaku itu diulang bisa meningkat. Proses ini disebut penguatan atau reinforcement.

Contohnya gampang. Bayangin ada seseorang yang lagi dekat sama orang lain. Setiap kali mereka chat, orang itu merasa senang karena mendapat perhatian. Mereka saling bercanda, cerita tentang keseharian, atau bahkan saling memberi semangat saat sedang punya masalah. Pengalaman menyenangkan ini bisa membuatnya ingin terus berkomunikasi.

Dalam konsep Skinner, perhatian dan interaksi yang menyenangkan tersebut bisa berfungsi sebagai penguat bagi perilaku menghubungi atau mempertahankan kedekatan. Akibatnya, orang itu mungkin akan terus mengulangi perilaku yang sama karena sebelumnya pernah mendapatkan pengalaman yang menyenangkan.

Nah, masalahnya mulai terasa ketika perhatian tersebut nggak selalu datang. Hari ini mereka bisa chat-an sampai tengah malam, besoknya malah hampir nggak ada kabar. Kadang orang yang ditunggu menunjukkan perhatian lebih, tetapi di lain waktu justru bersikap dingin.

Ketika perhatian muncul lagi setelah beberapa waktu, perasaan senang itu bisa membuat seseorang kembali berharap. Dia mungkin berpikir, “Tuh kan, sebenarnya dia masih peduli.” Akhirnya, dia kembali menunggu pesan berikutnya, kembali mencari perhatian, dan terus mempertahankan kedekatan tersebut.

Pola penguatan yang tidak selalu muncul memang bisa membantu menjelaskan kenapa perilaku tertentu tetap bertahan. Namun, bukan berarti semua orang yang bertahan dalam HTS pasti mengalami mekanisme yang sama. Perasaan sayang, harapan, pengalaman bersama, dan alasan pribadi lainnya juga bisa berperan.

Jadi, kalau ada yang bertanya kenapa seseorang masih bertahan dalam hubungan yang nggak jelas, jawabannya belum tentu karena dia nggak punya harga diri atau nggak bisa berpikir logis. Bisa jadi, dia sudah terbiasa dengan pola interaksi yang memberikan rasa senang, sehingga sulit membayangkan kehilangan kedekatan tersebut.

Nggak Mau Kehilangan Bukan Berarti Mau Memiliki?

Ada satu hal yang menarik dari fenomena ini: seseorang bisa merasa kehilangan ketika orang lain menjauh, tetapi perasaan itu belum tentu berarti dia ingin menjalin hubungan resmi.

Kadang yang dirindukan bukan status pacar, tapi kebiasaan yang sudah terbentuk. Misalnya, terbiasa mendapat ucapan selamat pagi, punya teman cerita setiap malam, atau tahu bahwa ada seseorang yang akan dicari ketika sedang bosan. Ketika kebiasaan itu tiba-tiba hilang, hari-hari bisa terasa berbeda.

Namun, ada juga orang yang memang punya perasaan lebih, tetapi belum siap berkomitmen. Ada yang takut hubungannya berubah setelah resmi pacaran, ada yang masih ragu dengan perasaannya sendiri, dan ada pula yang belum tahu apa yang sebenarnya dia inginkan.

Karena itu, kita nggak bisa langsung menyimpulkan bahwa orang yang nggak mau jadian tetapi nggak mau kehilangan pasti egois. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana dia memperlakukan orang lain dan apakah kedua pihak memahami hubungan yang sedang dijalani.

Kalau satu orang sudah berharap lebih, sedangkan yang lain hanya ingin dekat tanpa komitmen, ketidakjelasan itu bisa membuat salah satunya terus menunggu sesuatu yang belum tentu terjadi. Di sinilah komunikasi menjadi penting. Bukan untuk memaksa seseorang segera berpacaran, melainkan supaya masing-masing tahu apa yang diinginkan dan bisa menentukan batasan yang nyaman bagi dirinya.

Jadi, Sebenarnya Maunya Apa?

Pada akhirnya, nggak semua kedekatan harus berakhir dengan pacaran. Seseorang berhak memilih untuk nggak menjalani hubungan romantis, sama seperti orang lain berhak menginginkan hubungan yang lebih jelas. Yang menjadi persoalan bukan semata-mata soal status, tetapi ketika dua orang menjalani hubungan dengan harapan yang berbeda tanpa pernah membicarakannya.

Teori Skinner membantu kita memahami bahwa perilaku bisa bertahan karena pengalaman dan konsekuensi yang menyertainya. Dalam hubungan tanpa status, interaksi yang menyenangkan bisa menjadi salah satu alasan seseorang terus mempertahankan kedekatan. Namun, teori ini bukan satu-satunya cara untuk memahami perasaan dan keputusan seseorang.

Menurutku, hal yang paling penting adalah berani bertanya kepada diri sendiri: sebenarnya kita bertahan karena memang nyaman dengan hubungan yang ada, atau karena berharap suatu hari nanti semuanya akan berubah?

Kalau emang sama-sama nyaman tanpa status, tentu itu menjadi pilihan masing-masing. Tapi kalau salah satu pihak terus merasa bingung, menunggu, dan berharap tanpa tahu ujungnya, mungkin sudah waktunya untuk membicarakan hubungan tersebut dengan lebih jujur.

Sebab, mempertahankan seseorang dan benar-benar ingin membangun hubungan dengannya adalah dua hal yang berbeda. Kita bisa saja takut kehilangan kebiasaan bersama seseorang, tetapi itu belum tentu berarti kita siap memberikan komitmen yang dia harapkan.

Jadi, kalau ada yang bilang, “Aku nggak mau pacaran, tapi aku juga nggak mau kehilangan dia,” mungkin dia memang sudah nyaman dengan kedekatan yang selama ini ada. Tapi, pernah nggak kepikiran kalua orang yang selama ini menunggu juga bisa capek? Bisa saja suatu saat dia memilih pergi karena udah terlalu lama berharap tanpa kejelasan.

Karena pada akhirnya, kedekatan bukan cuma tentang siapa yang datang dan siapa yang bertahan. Ada perasaan dan harapan yang perlu dipahami dari kedua sisi. Dan kalau emang belum bisa memberikan kepastian, setidaknya jangan membuat orang lain terus menebak-nebak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!