Bait Bisu

Bait Bisu

Hujan selalu memiliki cara sendiri untuk mengingatkan seseorang pada hal-hal yang belum selesai. Bagiku, hujan adalah alasan untuk mengirimimu pesan panjang, menceritakan hal-hal kecil yang bahkan itu semua tidak penting untukmu, serta hiruk pikuk dunia yang terlepas dalam air terjun yang kuciptakan sendiri di ruang yang sangat usang untuk aku benahi. Sementara bagimu, hujan mungkin hanya suara yang menenangkan, sesuatu yang bisa kau dengarkan tanpa harus mengatakan apa-apa.

Kita adalah dua insan yang bersama, tetapi sudah tidak ada lagi raga dalam dekapan. Hubungan yang dipenuhi tawa, pertengkaran kecil, permintaan maaf, dan janji-janji yang berulang kali diucapkan, tetapi jarang benar-benar dipahami. Setidaknya, begitulah yang kupikirkan. Aku percaya setidaknya jika kita masih saling mencintai, kita akan tetap bersama.

Aku adalah perempuan yang tidak pernah kehabisan kata-kata. Bagiku, berbicara adalah caraku menunjukkan bahwa aku bahagia, bahwa aku peduli, dan bahwa aku ingin kau menjadi bagian dari setiap hal kecil yang terjadi dalam hidupku. Namun, aku lupa bahwa tidak semua orang mengartikan cinta dengan cara yang sama.

Lihat saja dirimu, jauh terbalik dariku. Kamu adalah manusia yang irit dengan kata, mudah marah seperti singa yang terbangun dari tidurnya ketika kesabaranmu habis, dan lebih suka menyimpan segala sesuatu sendirian. Kamu selalu berusaha memahami orang lain dalam diam, seolah-olah perasaanmu sendiri tidak pernah membutuhkan tempat untuk pulang.

Kita saling mencintai, tetapi entah mengapa, semakin lama kita bersama, semakin sulit rasanya untuk saling memahami. Kita seperti dua orang yang berdiri di balik dinding berbeda, berteriak dengan bahasa masing-masing, lalu marah karena tidak ada yang menjawab.

Sore itu, aku memilih menunggumu di koridor sekolah. Bel pulang telah berbunyi sejak satu jam yang lalu, dan kamu tak kunjung datang menampakkan wajah tampanmu itu untuk menemaniku menyelesaikan puisi yang tak kunjung usai.

Pesan singkat yang berkali-kali aku sampaikan, tak sempat kamu balas hingga saat ini.

“Adagio, kamu di mana? Aku berulang kali mengirimimu pesan, tapi tidak ada jawaban sedikit pun, hanya centang biru yang aku lihat. Cepatlah kemari, aku sudah lumutan diam di sini!”

Tidak ada balasan.

Ketika akhirnya kamu muncul, aku langsung menyambutmu dengan wajah kesal yang dibuat-buat.

“Ya ampun, pak presiden akhirnya datang juga! Saya kira anda sudah resign dari jabatan pacar.”

“Maaf. Tadi ada sedikit masalah di Forum,” jawabmu singkat.

“Masalah apa? Kenapa tidak cerita? Aku ini pacarmu lho!”

Adagio hanya diam. Sebenarnya, ia ingin sekali bercerita tentang apa yang terjadi saat rapat berlangsung tadi. Namun, melihat Allegra yang terus mengeluh, dia pun mengurungkan niatnya.

“Sudahlah, ayo mana puisimu?”

Aku benci kata itu.

“Kenapa jawabannya selalu begitu? Kan sudah berkali-kali aku ingatkan, kalau ada masalah ya cerita jangan semuanya kamu telan sendiri. Kamu kira aku ini cenayang.”

Kamu menatapku tajam, “kamu juga selalu ingin semuanya tentang kamu, kan?”

“Lucu, padahal aku selalu berusaha membuat hubungan ini ramai, tapi malah dibilang egois,” aku tertawa kecil, berusaha menutupi rasa tersinggungku.

“Kamu tidak pernah benar-benar mendengarkan aku.”

Aku ingin membantah, tetapi kamu sudah berjalan meninggalkanku.

Malamnya, aku mengirimkan pesan panjang tentang betapa lelahnya aku menghadapi sikapmu. Pesanku tak terbalaskan. Aku tidak tahu bahwa di kamarmu, kamu juga sedang mengetik kalimat yang akhirnya kamu hapus berulang kali.

Aku cuma ingin sekali saja kamu bertanya tanpa buru-buru menyela. Kita sama-sama terluka, tetapi memilih diam dan menyalahkan satu sama lain.

Aku pernah mengira bahwa mencintai seseorang berarti mengenal seluruh bagian dirinya. Aku menghafal kebiasaan Adagio, tahu bagaimana ia mengerutkan dahi ketika kesal, dan mengenali nada suaranya ketika sedang menyembunyikan kesedihan. Namun, aku baru menyadari sesuatu, mengenal kebiasaan seseorang tidak sama dengan memahami perasaannya.

Aku terlalu sibuk meminta Adagio menjelaskan dirinya sampai lupa memberinya ruang untuk berbicara. Setiap kali ia mulai bercerita, aku selalu punya kisah yang lebih panjang, masalah yang menurutku lebih mendesak, atau lelucon yang kupikir dapat mencairkan suasana.

Aku mengira kehadiranku sudah cukup untuk menunjukkan bahwa aku peduli. Ternyata, tidak semua orang merasa dicintai dengan cara yang sama.

***

Beberapa hari setelah pertengkaran itu, Adagio semakin jarang menghubungiku. Tidak ada lagi pesan selamat pagi atau kebiasaan menungguku di depan kelas. Aku merasa kehilangan sesuatu, meskipun ia belum benar-benar pergi.

Akhirnya, aku mendatanginya di taman sekolah.

“Kamu marah sama aku?” tanyaku.

Kamu menggeleng, “terus, kenapa kamu menjauh?”

“Aku cuma ingin sendiri.”

“Kalau ingin sendiri, buat apa punya pacar?”

Kamu menutup buku yang sedang dibaca.

“Karena aku juga ingin dimengerti, Allegra. Bukan cuma diminta untuk mengerti.”

Aku terdiam sesaat, tetapi egoku kembali mengambil alih.

“Aku juga ingin dimengerti! Kamu pikir aku tidak punya masalah?”

“Aku tidak pernah bilang begitu,” ujarku.

“Tapi kamu selalu membuat aku merasa salah!” kamu berdiri, lalu menatapku dengan mata yang menyimpan kelelahan.

“Setiap kali aku mencoba bicara, kamu mengubah semuanya menjadi pertengkaran.”

Aku menunduk. Untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa selama ini aku hanya menunggu giliran berbicara, bukan benar-benar mendengarkanmu. Namun, kesadaran itu datang terlambat.

Jumat sore, hujan turun ketika sekolah selesai. Kita berdiri berdampingan di halte depan sekolah, tempat yang biasanya dipenuhi percakapan ringan.

“Kalau kita putus, kamu bakal sedih, tidak?” tanyaku sambil mencoba tertawa.

“Jangan bercanda soal itu.”

“Aku tidak bercanda.”

Kamu menatap jalanan sebelum akhirnya berkata, “aku sayang kamu, Ale, tapi aku capek.”

Dadaku terasa sesak.

“Aku bisa berubah. Aku bisa belajar mendengarkan.”

“Jangan janji hanya karena kamu takut kehilangan aku.”

Air mataku jatuh, “terus, kamu mau aku bagaimana?”

“Aku ingin kita berhenti saling menyakiti.”

“Berarti kamu sudah tidak cinta?”

“Bukan begitu. Cinta saja tidak membuat kita saling mengerti.”

Aku ingin marah, tetapi tidak menemukan alasan untuk menyangkal perkataannya.

“Aku tidak pernah bermaksud membuat kamu terluka,” bisikku.

“Aku tahu, tapi kamu melakukannya.”

Kamu melangkah pergi setelah mengucapkan selamat malam. Aku tidak mengejarmu. Untuk pertama kalinya, aku mencoba mendengarkan sesuatu yang tidak kamu ucapkan, bahwa kita telah terlalu lelah untuk terus bertahan.

Hari-hari setelah perpisahan terasa ganjil. Aku masih terbiasa mencarimu di bangku  belakang kelas dan ingin menceritakan hal-hal kecil yang kutemui. Namun, aku mulai belajar bahwa tidak semua cerita harus memiliki pendengar yang sama.

Aku belajar bahwa mencintai bukan sekadar meminta dimengerti, melainkan juga bersedia memahami.

Pada hari pembagian rapor, pandangan kita bertemu di depan kelasmu. Kamu tersenyum tipis, lalu aku membalasnya. Tidak ada percakapan panjang, hanya dua orang yang pernah saling mencintai dan kini belajar menerima kehilangan.

Dulu, aku mencintaimu dengan begitu banyak kata, sementara kamu mencintaiku dengan begitu banyak diam. Aku mengira kata-kataku mampu menjembatani kesunyianmu, sedangkan kamu mengira diammu cukup untuk menjelaskan perasaanmu.

Kita sama-sama keliru.

Kini, aku memahami bahwa ada cinta yang tidak berakhir karena kehabisan rasa, melainkan karena terlalu banyak kata yang tidak didengar dan terlalu banyak diam yang disalahartikan.

Kita pernah menjadi dua bait dalam puisi yang sama, saling berdekatan, tetapi tidak pernah benar-benar bersuara dalam irama yang serupa. Barangkali, itulah bait bisu cinta kita yang begitu ingin dimengerti, tetapi lupa belajar mendengarkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!