Cantika

On September 19, the smoke from the 2020 California wildfires reached Sweden. On the news and the weather forecast, we were promised red-tinted sunsets for a while now. – Yes we got it. This is the sun setting in the Atlantic as seen from the West Coast of Sweden. Stångehuvud nature reserve, Lysekil, Sweden.

Dua orang menatap langit yang ditumpahi warna baru. Seorang pria membuka kamera ponselnya yang buram lalu memotret langit di hadapannya. Ia berniat mengabari orang-orang di media sosial soal fenomena aneh yang baru saja terjadi. Laman beranda media sosial cabang mana pun dipenuhi warna langit yang tengah menelan seisi bumi. Pagi, siang, bahkan malam. Di seluruh negara dan tempat-tempat tak bernama di bumi, langitnya berwarna sama.

Langit itu berwarna tabu, kelam, dan mencekam. Di samping pria yang sibuk dengan ponselnya, ada seorang wanita yang—sama seperti semua wanita di dunia—menatap langit itu seakan menatap jati diri mereka yang paling dalam. Darah. Darah kotor itu telah melahap langit, kata mereka, para wanita.

Para wanita di dunia menghampiri merah darah yang melahap langit, berusaha menutupinya dengan apa pun. Para wanita tenggelam menuju langit. Para wanita terbang menuju langit. Para wanita membentangkan kain-kain panjang ke langit. Para wanita sibuk pada langit. Para pria sibuk mengabadikan fenomena magis yang tengah terjadi.

Trending topic…

Terpampang pada layar-layar ponsel. Sebuah berita terbit di berbagai media: besar-kecil, akun-akun anonim, bahkan akun presiden di negeri tak bernama.

Langit darah.

Pada hitungan nol koma tiga detik para pria menatap layar ponselnya. Pada hitungan nol koma lima detik terjadi dentuman keras secara serentak di seluruh dunia karena para wanita membanting ponsel-ponsel yang ada di muka bumi.

***

Air keran mengalir di dalam rumah Cantika. Dia mendapati bahwa dirinya sudah dewasa. Darah sudah mengalir di antara kakinya. Mama dan Papanya menghilang ditelan oleh darahnya. Cantika tidak diperanakkan. Cantika tidak bisa beranak. Cantika tidak berkelamin lagi. Dia menatap darahnya yang telah berhenti; kini darah itu terbang melahap langit bumi. Dia melepaskan seluruh pakaian manusiawinya, berjalan ke halaman rumahnya yang memerah sambil membusungkan dada seorang wanita. Cantika mendeklarasikan ketuhanannya.

Cantika membentangkan kedua tangannya lebar-lebar seakan hendak menyambut makhluk primitif yang sudah tercipta dan bertahan hidup cukup lama. Kini waktu adalah Cantika, Cantika adalah garis waktu itu sendiri. Buktinya adalah garis-garis pada tubuh Cantika. Pada garis-garis tubuh itu bisa kau saksikan kenikmatan sekaligus kekelaman; pada garis-garis tangannya pula bisa kau lihat harapan yang besar sekaligus keputusasaan yang kecil; pada garis-garis kakinya bisa kau lihat ketangguhan sekaligus kelemahan; pada seluruh garis tubuhnya yang kini menyatu, kau bisa melihat sosok yang bukan manusia. Cantika menyebut dirinya sebagai Tuhan.

Cantika menaiki darahnya sendiri menuju langit, menggapai matahari dan menciuminya dengan ganas hingga padam. “Biarlah aku yang bersinar kali ini,” ucapnya pada matahari yang kemudian padam. Kini langit menghitam, darah yang menghiasi langit mulai turun sebagai hujan yang kelam. Di sana, Cantika kembali membentangkan kedua tangannya, dan dari dadanya memancar seberkas cahaya yang menyala terang.

Di atas bumi semua dada para wanita ikut bercahaya. Cahaya itu menembus pakaian mereka; cahaya itu membakar dada mereka. Cantika menutup matanya, membuat cahaya dari dadanya menghilang. Cantika lalu membuka matanya setelah lima detik yang terasa begitu panjang, membuat cahaya kini bersinar menembus seluruh bagian tubuhnya. Di bawah kakinya para wanita mencoba memanjat darah yang mengering. Mereka mengerang kesakitan, sementara para pria memotret ke sana kemari, mendiskusikannya, membukukannya, menyebarkannya ke mana-mana.

Para wanita membawa semua kain yang melekat pada tubuh mereka, menghiasi langit dengan tubuh-tubuh bertelanjang dada. Lalu Cantika bersabda, “Adakah yang berbeda di antara Aku dan kalian? Bukankah buah dada kita begitu subur dan tubuh kita adalah bentuk kesempurnaan yang diidam-idamkan oleh hasrat paling rendah di bumi ini? Bukankah tangan-tangan kita tercipta lebih lembut dari kain sutra? Bukankah kita lebih mudah dijual pada laman-laman media sosial? Sudikah kalian dijadikan sebagaimana mestinya?” Para wanita yang telah sampai di bawah kedua kaki Cantika tertegun melihat wujud tak berkelamin di depan mata mereka. “Saksikanlah, wahai manusia! Aku bukan pria maupun wanita. Tubuhku lebih indah dari semua wanita yang ada di dunia ataupun surga, tubuhku lebih kuat dari semua pria yang ada di dunia ataupun surga. Akulah yang Mahasegalanya di antara kalian semua!”

Kini para wanita yang sedari tadi bertelanjang dada membisu dan membatu di bawah kakinya. Para pria tertegun menatap tubuh Cantika yang begitu indah, bercahaya, dan penuh kenikmatan tiada tara. Satu jam tiga puluh detik, bumi kita kehilangan suara. Tiada angin yang menerpa wajah manusia, tumbuh-tumbuhan, bahkan hewan. Bintang-bintang ditelan darah, tak mampu berpendar di balik punggung Cantika yang lebar.

“Apa yang membuat dunia kiamat?” tanya seseorang yang anehnya juga tak berkelamin, sama seperti Cantika. Tak ada yang mendengar suaranya kecuali Cantika.

“Hasrat.”

Nol koma satu detik. Para pria membuka dada mereka yang lebar, menaiki tubuh para wanita yang berpendar di langit-langit. Kekacauan melanda dunia.

“Kenapa kau baru hadir sekarang?” tanyanya pada Cantika, berdiam di sebuah tempat yang tak terjamah kekacauan. “Tidakkah kau terlalu sembrono untuk menjadi Sang Maha?”

“Mengapa demikian?”

“Lihatlah tubuhmu yang dinaiki dan dilucuti itu.” Dia menunjuk tubuh Cantika yang dirobek-robek, diciumi, dihina, dipuja; segala hal terjadi pada tubuh Cantika. “Tidakkah kau ingin melindungi tubuhmu itu?”

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Sebab itulah makna kehadiranku di dunia: kehancuran.”

Dia tertawa, tidak membalas sabda Cantika yang menggema di seluruh dunia. Dia membalikkan badan lalu berjalan pergi.

“Siapakah engkau?” tanya Cantika. Lima detik setelah bumi menjadi ladang gersang, tubuh Cantika telah menjadi ladang subur yang ingin digerus terus-menerus sebelum hancur.

“Sang Maha.”

Dunia hancur. Cantika mati. Cantika adalah Tuhan. Tuhan telah mati. Tidak ada Tuhan.

***

Selama lima tahun semenjak kematian dan kehancuran bumi, mayat-mayat manusia yang bertumpukan mulai terurai menjadi pijakan dan makanan bagi semua makhluk hidup yang tersisa. Dari tumpukan tubuh manusia itu, ada sebuah tumbuhan yang terus-menerus mencoba untuk hidup. Pada tahun kesepuluh pascakematian Cantika, bayi manusia tumbuh dari dalam tanah. Merujuk pada ilmu pengetahuan primitif yang sudah punah, bisa dipastikan bahwa bayi itu termasuk keluarga umbi-umbian. Saat belum genap umurnya untuk dirasuki jiwa, seekor lipan raksasa memakan utuh tubuh sang bayi, mengakhiri siklus manusia umbi-umbian. Pada tahun kelima belas pascakematian Cantika, manusia mencoba mencari jalan lain untuk bertahan hidup dan kembali ke dunia. Genetika manusia umbi-umbian terus berkembang selama lima tahun hingga memungkinkan mereka mengubah jati diri menjadi pohon apel. Pada tahun ketujuh belas pascakematian Cantika, bayi-bayi manusia pohon apel itu akhirnya menghirup aroma jiwa, tetapi tubuh mereka ringkih dan renyah seperti apel. Saat lepas dari pohon apel, para bayi itu jatuh dan tubuhnya pecah menghantam tanah yang menutupi jasad manusia primitif yang sudah punah. Pada tahun kedua puluh, manusia pohon apel gagal hidup. Pohon-pohon yang tumbuh bertahun-tahun itu tumbang bersama harapan kembalinya manusia ke dunia.

Di sana, seseorang tak berkelamin menghampiri pohon apel yang akarnya menciut. Dia memegang akar itu dengan lembut seraya berkata, “Sampai di sini sajakah? Bermiliar-miliar, berjuta-juta tahun kalian membangun sebuah peradaban, setelah hancur lebur tidak ada lagikah yang bisa kalian lakukan?”

Orang itu berkeliling dunia selama dua puluh tahun tanpa menua. Dia melewati makhluk bumi yang berevolusi. Bentuk makhluk di bumi sudah tak bisa diprediksi. Tak heran jika manusia akhirnya pupus harapan, memulai semua dari nol dengan beban bertahan hidup yang kian berat. Hidup segan, mati tak mau.

Seseorang tak berkelamin mengunjungi gereja-gereja yang telah roboh, melihat salib-salib yang patah juga perjamuan yang tak dikunjungi siapa-siapa. Ia juga mengunjungi masjid-masjid, melihat kitab-kitab yang menua dan tak lagi diingat oleh siapa-siapa. Ia juga mengunjungi kuil-kuil, menatap patung-patung dan medium Sang Ilahi yang sudah menjadi abu. Siapakah Sang Maha yang patut disembah itu? tanyanya.

Lalu ia mengunjungi tubuh Cantika yang menolak terurai. Ia adalah seorang wanita yang menolak kewanitaannya; ia adalah manusia yang menolak kemanusiaannya. Orang tak berkelamin itu kemudian berkata, “Kau tahu? Aku rindu pada penisku yang dulu.” Ia pun memeluk sisa tubuh Cantika. Tidak ada tubuh manusia mana pun lagi yang bentuknya lebih baik daripada tubuh Cantika. “Tidakkah kau kesepian?” tanyanya pada Cantika. “Apalah artinya menghancurkan semuanya? Apa yang kau dambakan, apa yang kau tuju? Surgakah yang kau tuju? Nerakakah yang kau tuju? Kematiankah yang kau tuju? Keabadiankah yang kau tuju?” Cantika tak menjawab.

Dari pelukan yang begitu erat itu tumbuh sebuah pohon yang menjulang tinggi—tempat yang tak sanggup digapai makhluk bumi yang telah berevolusi. Dari pohon itu kedua makhluk tak berkelamin itu lahir kembali menjadi seorang lelaki dan wanita yang sempurna. Tidak ada siapa-siapa selain mereka. Mereka lahir dalam usia prima. Di punggung keduanya menjulur seutas akar yang memberi nutrisi bagi dua manusia pertama pascakehancuran bumi.

Lelaki menatap wanita. Wanita menatap lelaki.

Lelaki bertanya, “Siapa kau?”

“Aku wanita, siapa kau?” tanya wanita.

“Cantika.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!