Ajengan Ko Anjing?

Ajengan Ko Anjing?

 

Judul Buku:

Ajengan Anjing

Penulis:

Ridwan Malik

Penerbit:

Malire, Garut

Terbit:

2025

Jumlah Halaman: 330 halaman

ISBN: 978-623-1-0-9-8

 

Masih percayakah orangtua menitipkan anaknya ke pesantren setelah ada oknum ajengan yang melakukan tindakan asusila terhadap santrinya? Sebuah pertanyaan yang kiranya bijaksana jika dijawab dengan kalimat “semoga saja masih percaya”.

Krisis kepercayaan masyarakat terhadap pesantren setelah beberapa berita viral tentang perilaku oknum ajengan yang melecehkan santrinya bisa saja terus meningkat. Jika tidak ada sebuah upaya untuk mencegahnya, tentu akan berdampak terhadap citra pesantren secara luas. Padahal pesantren dengan ajengannya, kyainya, acengnya, dan santrinya memiliki peran yang sangat kuat dalam membangun kehidupan berbangsa dan bernegara sesuai syariat Islam.

Novel “Ajengan Anjing” karya Ridwan Malik kiranya menjadi bagian dari upaya tersebut. Dari sampul judul yang kontroversial seharusnya sudah mampu menampar perilaku oknum ajengan yang culas, tengil, dan cabul. Tapi dalam meresepsi teks sastra tentu saja penafsiran makna akan menjadi luas, innerperspektif pembaca akan semakin dalam sesuai tingkat kemampuan mengapresiasinya. Artinya jangan menilai buku hanya dari sampulnya.

Isi novel tersebut tidak ada kaitannya dengan berita asusila yang terjadi di pesantren. Dari halaman pertama sampai akhir, melalui alur maju-mundur pembaca akan diajak menyelami hakikat “solawat” dengan latar potret Garut dari sudut pandang kepesantrenan, terutama di wilayah Garut Selatan yang dikenal dengan hal-hal gaib.

Penulis menempatkan tokoh cerita manusia dari keturunan ajengan dengan tokoh cerita hewan dari keturunan anjing. Masing-masing tokoh dari keturunan ajengan memiliki kisahnya, sebut saja Mama Aleh, Ajengan Oyong, dan Ceng Aom. Begitupun dengan tokoh dari keturunan anjing seperti si Hawuk, si Kayas, dan si Harak, serta Madsahdi tokoh yang memiliki peran penting dalam penceritaan. Setiap tokoh yang dikisahkan mencerminkan karakteristik manusia sunda yang islami, berprinsip, loyal, literat, adaptif, pekerja keras, kompetitif, serta berorientasi pada pencapaian, termasuk dalam diri tokoh anjing sekalipun.

Membaca novel “Ajengan Anjing” bukan sekadar membaca cerita transisi pemikiran individu terhadap perkembangan budaya dan zaman. Namun sekaligus sebagai upaya menyelamatkan citra ajengan dari perilaku hewani yang dangkal bahwa akulah yang paling benar, lebih jauh lagi jangan sampai ada kalimat berbunyi “ajengan ko anjing?”

***

 

Rizal Te. seorang guru Bahasa Indonesia yang nyambi sebagai guru ekstrakurikuler sastra tingkat SMP di Garut, narasumber berbagi praktik baik pembelajaran, dewan juri FLS3N-FTBI baca-tulis puisi. Menulis resensi, naskah praktik baik, puisi, dan cerpen. Meraih prestasi dibidang akademik sebagai Kepala Sekolah berprestasi dari IPI Garut (2024), Guru Inspiratif BBGTK Jabar (2023), Kepala Sekolah Dedikatif BBGTK Jabar (2024).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!