Kalau ditanya perihal alasan saya merantau ke Jakarta, jawaban saya cuma satu: cari pengalaman, bukan cari kerja. Jadi, hal yang wajar saja jikalau sampai hari ini (sejak Oktober 2025) saya sama sekali belum menemukan pekerjaan. Walaupun sebenarnya saya sudah sampai di titik “saya sangat butuh pekerjaan.”
Namun, kalau bahasa klasiknya “apa yang kamu niatkan, itulah yang akan kamu tuai” akhirnya betul-betul saya dapatkan, yaitu cari pengalaman. Termasuk pengalaman sebagai pengangguran di Kota Jakarta.
Tapi, saya tidak pernah menyesal dengan niat itu. Di satu sisi, saya bersyukur karena jadi pengangguran di kota besar seperti Jakarta, saya punya banyak waktu untuk menikmati hal-hal sederhana, seperti melihat karakter orang-orangnya yang sangat menghargai waktu, disiplin, dan saling menghormati. Sekelas presiden dan wakilnya pun belum tentu bisa melakukan apa yang saya lakukan itu.
Akan tetapi, setelah setahun berada di kota ini, ada saja hal yang kedengarannya remeh tetapi bikin elus dada. Mirisnya lagi, baru saya sadari akhir-akhir ini, yaitu masalah kopi.
Dewasa ini, racun kopi memang sudah menjangkiti dunia manusia sejak lama. Minuman hitam pekat yang mungkin awalnya hanya diminati orang berambut putih (orang tua) itu kini justru sangat diminati oleh kalangan berambut hitam (anak muda). Terlebih lagi kopinya sudah dibuat beragam dengan kolaborasi rasa-rasa lain dan nama yang unik di telinga dan lidah anak zaman now.
Saya pun termasuk korbannya. Rasa-rasanya sejak saya duduk di bangku kuliah, saya malah doyan minum kopi ketimbang makan nasi. Bahkan, pengeluaran Rp10 ribu buat makan pun saya masih mikir-mikir. Beda cerita kalau kopi, mau harganya 20–30 ribuan, saya tidak butuh waktu lama untuk memutuskan iya atau tidak. Pasti iya.
Belum lagi kalau lagi ngopi di “Manhattan-nya” Jakarta seperti Senayan, Menteng, dan Jakpus sekitarnya, ya pasti harga kopi main 40-an ke atas. Dan anehnya, saya tetap nggak banyak fikri. Rasa-rasanya, memang kopi itu harga mati, bukan harga mahal. Kadangkala dalam sehari, saya bisa minum kopi tiga kali, makan nasinya cuma dua kali bahkan sekali. Inilah gambaran calon-calon penghuni rumah sakit karena masalah lambung.
Sejak di Jakarta, saya merasa bahwa uang jajan saya didominasi oleh perkopian duniawi dibanding pernasian. Kadangkala ketika dompet telah menipis, saya iseng ngintip riwayat pengeluaran di rekening, dan rata-rata disedot oleh rekening-rekening si pemilik kopi. Sial.
Di situlah saya kadang overthinking saat-saat menjelang tidur. Bukan hanya pengeluaran yang saya pikirkan, melainkan kadang pendapatan si pemilik kopi itu juga saya hitung. Misal, kalau dalam sehari ada 100 pengunjung dan semuanya pesan kopi harga Rp20 ribu, bisa dapat Rp2 juta dalam sehari. Kalau konsisten selama sebulan, berarti kotor dapat Rp60 juta. Udah sekelas presiden ini mah.
Cuma, kalau udah pusing ngitungin si tukang kopi itu, kadang saya juga ngebatin, “Kenapa coba sampai mikirin orang yang secara tidak sengaja memeras keuangan saya?” Tapi sebenarnya ada seru-serunya juga kalau kita mengandai-andaikan seperti itu. Motivasi tipis-tipis.
Sampai kemudian saya pernah berada di titik “ngopi radikal”. Bagaimana tidak, pokoknya kalau mau nulis sesuatu atau apa pun yang berhubungan dengan nyari inspirasi, saya harus disokong dengan kopi. Saya wajib minum kopi. Khususnya kopi susu gula aren.
Entah kenapa, sejak varian kopi itu ada, saya merasa sangat berjodoh dengan lidah dan uang saya. Enak dan murah. Akhirnya, semakin ke sini saya tambah yakin kalau kafein yang ada di kopi selain menambah fokus dan kemelekan, juga menambah pengeluaran saya.
Akhirnya, di tengah pendapatan yang belum tampak hilalnya dan pengeluaran yang selalu kelihatan adanya, saya kepikiran untuk mengakali bagaimana hasrat ngopi ini bisa sedikit dikompromikan. Dalam artian, bukan berhenti seratus persen, tapi ayolah jangan tiap hari juga. Paling tidak, selang satu hari baru ngopi lagi.
Atau paling tidak, pola pikir tadi yang diubah: yang awalnya kalau mau cari ide harus dengan sokongan kopi, sekarang lebih mandiri lagi. Coba sokong dengan realita dan kesadaran bahwa “Weh, lo itu nggak ada kerjaan, nggak ada penghasilan, mikir dikit lah, Boy.” Bukan apa-apa, terkadang segelas kopi sudah habis tetapi idenya kagak muncul-muncul. Kan bullshit.
Dan sejauh ini, saya sudah merencanakan untuk merealisasikan semua itu. Dengan cara membuat “kopi ala pengangguran”. Ya, kopi hitam biasa yang dibeli di pasar, terus beli susu kaleng, tambah es batu, pakai gula aren, selesai. Pikir saya begitu. Tapi persoalannya saya tidak punya kulkas untuk nyetok es batu. Lagi-lagi, uang jajan selalu bablas beli kopi ala orang beruang ketimbang merealisasikan kopi ala pengangguran itu. Dasar.
Memang saya terlampau mendambakan pengalaman indah di tengah keramaian kota yang selalu saya saksikan di televisi sejak kecil. Namun, lagi-lagi setelah setahun di sini, saya rasa perlu mengubah niat awal yang mulanya ingin cari pengalaman yang begitu indah jadi cari kerjaan buat beli kulkas untuk kebutuhan perkopian. Paling tidak itu dulu. Dan untuk mendapatkannya pun perlu usaha yang luar biasa.
Setelah setahun di Jakarta, saya baru merasakan bahwa memang kota ini bukan untuk pemula dan pemalas. Kudu mulai dan ngegas.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!