Jejak yang Tertinggal

Langit pagi masih sendu ketika Aira mengayuh sepeda tua milik ayahnya melewati gerbang sekolah yang cat putihnya mulai memudar. Sekolah itu sederhana, bangunannya tak megah, tetapi memiliki suasana yang menenangkan.

Hari ini adalah hari pertama ia masuk sekolah menengah. Kelas baru, bangku baru, guru baru, dan … teman baru.

“Semoga aja gak duduk sama orang yang ribet deh,” gumam Aira dalam hati sambil melangkah ke kelas X IPS 1.

Begitu masuk kelas, ia langsung melihat ke bangku paling pojok dekat jendela, tempat favoritnya. Namun, kali ini sudah ada seseorang yang duduk di sana. Seorang laki-laki, rambutnya sedikit berantakan, wajahnya tenang, dan pandangannya menatap ke luar jendela.

Aira terdiam. Entah kenapa, ada yang aneh. Rasanya ia pernah melihat wajah itu … tetapi di mana?

Mencoba untuk tidak memikirkannya, akhirnya ia memilih bangku di depan laki-laki itu. Aira berusaha berkenalan dengannya.

“Hai, aku Aira. Salam kenal, ya. Oh ya, kamu duduk di sini juga?” ucap Aira.

Laki-laki itu mengangguk. “Revan.”

“Aira,” gumam Revan.

Saat tangan mereka bersentuhan untuk saling menyapa, sekelebat bayangan muncul di kepala Aira. Rumah tua dan tawa yang familiar.

Jantungnya berdetak lebih cepat.

“Aneh …,” ucapnya dalam hati.

Namun, Revan juga diam, memperhatikan Aira. Tatapannya bukan tatapan orang yang baru kenal, melainkan seperti … mencoba mengingat sesuatu.

Mereka duduk dalam diam. Namun, dalam hati masing-masing, ada satu pertanyaan yang sama.

“Kita … pernah bertemu, ya?”

 

Hari-hari berikutnya, Aira sudah mulai beradaptasi dengan lingkungan sekolah dan mendapatkan teman baru, Nadin, yang sekaligus menjadi teman sebangkunya. Mereka mulai akrab sejak awal pertemuan.

“Ra, kantin gak?” ajak Nadin.

“Eum … aku males deh. Boleh nitip aja nggak? He-he,” jawabnya dengan tawa pelan.

“Huh, ya udah. Mana uangnya?” ucapnya sambil merengut.

“Nih ya, es teh manis satu.”

“Oke, otw …”

Tubuh Nadin lenyap di balik pintu.

Aira kembali membaca buku yang sempat tertunda. Matanya melirik ke arah belakang. Revan sering kali menatap ke arah luar.

“Gak bosen apa ngeliat ke luar jendela mulu,” gumamnya dalam hati.

Revan menoleh sekilas. Dug.

Entah mengapa, terkadang Aira merasa Revan bisa membaca isi pikirannya. Dan yang paling membuatnya bingung, tiap kali Revan menatapnya, ia merasakan sesuatu yang dalam.

Seperti … rindu.

“Aira, gue duluan, ya,” ucap Nadin tergesa-gesa.

Belum sempat membalas, sosok Nadin sudah pergi menjauh.

“Revan …,” gumam Aira saat pulang sekolah, berjalan menyusuri koridor panjang yang mulai sepi. Langkahnya lambat, pikirannya masih di kelas. Aira terdiam sendiri. Tatapan itu. Seolah-olah Aira pernah melihatnya.

Malamnya, Aira tak langsung tidur. Tugas yang menumpuk sangat menjengkelkan. Setelah mengerjakan tugas bak abu vulkanik yang bertebaran di mana-mana, Aira membaringkan tubuhnya. Namun, tiba-tiba terlintas kembali ingatan yang berusaha memecahkan kepalanya. Ia kembali duduk dengan cepat. Peluh menetes di wajahnya. Ia membuka kotak kecil di bawah ranjangnya. Isinya penuh dengan buku harian, kertas bergambar penuh coretan, dan sebuah album foto.

Lembar demi lembar dibalik. Aira terhenti di halaman foto yang menampilkan dua anak kecil yang sedang tertawa riang. Namun, foto itu tidak memperlihatkan seluruh bagiannya. Dalam foto itu, ada dirinya yang masih kecil berdiri di sebuah rumah. Di sebelahnya, ada anak laki-laki. Wajahnya samar, tetapi … matanya.

Mata itu mirip dengan Revan.

Aira menelan ludah. “Nggak mungkin …”

Di sisi lain, Revan duduk di balkon kamarnya. Tangannya memegang sebuah kertas usang. Tatapannya kosong.

Namun, matanya menyimpan tanya.

“Siapa kamu, Aira?”

Angin malam meniupkan aroma nostalgia. Tanpa mereka sadari, jejak yang tertinggal di masa lalu mulai mengusik perlahan.

 

Langit mendung menggantung di atas sekolah, seperti mencerminkan suasana hati Aira yang akhir-akhir ini tidak menentu. Suara denting bel istirahat seakan bergema lebih lambat dari biasanya. Jam terus bergerak, suara riuh tanpa ada yang menghentikan memenuhi ruang kelas. Papan tulis masih bersih. Suara pintu menutup dengan langkah kaki bergerak lambat menyusuri lorong sekolah yang sepi, hendak menuju tempat penuh ketenangan.

“Oy, mau ke mana, Ra?” sapa seseorang mengejutkannya.

“Eh! Nadin. Ngagetin aja, sih,” ucapnya dengan napas terengah-engah.

“Loh, gue manggil biasa aja, ya. Lau mau ke mana?” tanya Nadin penasaran.

“Biasa,” jawabnya. Seolah paham, Nadin memilih untuk melanjutkan pergi ke kelas.

Setibanya di sana, langkahnya terhenti saat melihat seorang siswa berdiri membelakangi pintu perpustakaan. Tubuh tinggi dan postur yang familiar … Revan. Namun, ada sesuatu yang aneh. Revan berdiri kaku, seolah sedang menatap sesuatu di balik kaca pintu yang buram.

“Apa yang kamu—” Aira hendak bertanya, tetapi Revan tiba-tiba menoleh dengan tatapan kosong. Bulu kuduk Aira langsung meremang.

“Aku baru saja melihat dirimu … tetapi bukan kamu,” gumam Revan, nadanya berat dan datar.

Aira mengerutkan dahi. “Maksudmu?”

Tanpa berkata apa-apa lagi, Revan membuka pintu dan masuk. Aira, yang awalnya ragu, mengikuti di belakang. Di dalam perpustakaan, suasana lebih sunyi dari biasanya. Lampu di sudut ruangan remang, dan hanya suara dentingan jam yang terdengar jelas.

Mereka berdua berhenti di depan papan pengumuman tua yang berisi dokumentasi sejarah sekolah. Di sana, Revan menunjuk sebuah foto kecokelatan yang hampir pudar.

Aira menatap foto itu dan … jantungnya nyaris berhenti.

Seorang gadis dengan seragam sekolah model lama berdiri di tengah-tengah siswa lain, wajahnya nyaris identik dengan Aira. Rambut, mata, bahkan senyumannya … semuanya sama.

“Apa maksud semua ini?” tanyanya bingung.

“Lihat. Laki-laki ini juga mirip sepertimu,” lanjutnya.

Saat itu juga, terdengar bunyi kertas jatuh dari rak buku di belakang mereka. Tak ada angin, tak ada siapa-siapa di sana. Namun, lembaran lusuh itu melayang dan jatuh tepat di kaki Aira.

Dengan tangan bergetar, Aira memungutnya. Sebuah tulisan tangan dengan tinta nyaris pudar terbaca:

Jangan ulangi kesalahan mereka. Waktu tak akan memberikan kesempatan ketiga.

Aira dan Revan saling pandang. Untuk pertama kalinya, mereka menyadari bahwa pertemuan mereka bukanlah suatu kebetulan, dan merupakan bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar. Sesuatu yang sudah terjadi … dan akan terjadi lagi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!