Darah yang membanjir tampak sesegar hidangan matang. Bunyi jam dinding dibiarkan mengeras, mewakili jeritan pelanggan di sudut ruangan yang tertahan di tenggorokan. Pertanyaanku yang sederhana tak pernah menemukan tempat berlabuh di udara akibat tragedi yang tertangkap oleh kedua mataku.
Semula, siang itu cerah saja, meski hari telah membuatku menua. Sepiring nasi dengan telur dadar dan terung balado diletakkan di atas mejaku. Aku tidak memesan olahan daging seperti ayam rica-rica atau ayam kecap karena dompet sedang meringis sekeras perutku. Sementara itu, es teh selalu mendampingi dalam segala situasi, apa pun makanan yang kulahap.
Di antara riuh bisikan orang-orang dan gesekan sendok serta garpu, suara televisi yang menempel di dinding justru lebih disambut baik oleh telingaku.
Sup daging terenak dinobatkan kepada rawon. Perpaduan daun jeruk, jahe, bawang putih, lengkuas, serai, dan rempah-rempah lainnya menghadirkan keharmonisan rasa yang mengejutkan.
Di sela-sela acara kuliner itu, datanglah seorang perempuan berambut sebahu. Ia mengenakan kemeja lengan panjang berwarna navy dengan garis-garis vertikal. Kedua lengannya digulung hingga tidak mencapai siku. Bawahannya polos, berwarna hitam. Ia tidak langsung memesan, melainkan tercenung sejenak, mempertimbangkan pilihan makan siangnya matang-matang. Setelah melirik televisi, ia akhirnya memesan rawon.
Selepas itu, aku ingin sekali tidak merisaukan perempuan berambut sebahu. Aku hanya ingin menyelesaikan makananku dengan tenang. Namun, dunia selalu punya cara untuk mendekatkan kita pada sesuatu yang tidak diinginkan. Perempuan yang berbicara lurus dan langsung menusuk sasaran itu segera menyita perhatianku.
“Kuah rawon, kok, tidak hitam, Bu?” tanya perempuan berambut sebahu dengan nada sinis, meski tanpa mengerutkan dahi.
Pemilik warung hanya bergeming. Masih banyak pelanggan yang belum dilayani. Telunjuk mereka seolah memberikan perintah agar pemilik warung segera bergerak: mengambil sayur kangkung, menyendok kuah kari, atau mencomot usus tusuk. Ia memperhatikan semua orang, kecuali perempuan berambut sebahu. Sementara itu, pembawa acara kuliner di televisi tetap menjalankan profesinya dengan baik, seolah tidak ada yang perlu dipersoalkan.
Warna hitam kuah rawon berasal dari kluwek, bahan yang menjadi ciri khas sekaligus jantung hidangan tradisional tersebut.
“Tidak dengar itu, Bu?” Perempuan Berambut Sebahu melirik ke arah televisi.
Kipas angin telah berputar ke sana kemari sejak tadi. Namun, alih-alih menyebarkan kesejukan, putarannya justru seolah mengobarkan api. Pemilik Warung tidak juga membuka mulut untuk membelah keheningan, seperti kaleng kerupuk yang dibiarkan kosong sejak pagi. Sebaliknya, perempuan berambut sebahu terus menatap bola mata pemilik warung. Di sana, ia seolah mencari jawaban, bukan pada rawon berkuah kuning yang tersaji di hadapannya dan tak dicicipinya sedikit pun. Ia justru lebih percaya kepada pembawa acara kuliner yang sedang mengudara melalui televisi di warung sederhana itu.
Dalam Serat Centhini dan Babad Tanah Jawi, tercatat hidangan yang memiliki kemiripan dengan rawon, yakni daging yang diolah bersama rempah-rempah dengan kluwek sebagai salah satu bahan utamanya. Istilah “rarawwan” juga ditemukan dalam Prasasti Taji. Dengan demikian, rawon dapat dipandang sebagai bagian dari sejarah kuliner nusantara yang terus lestari hingga kini.
“Tidak jelas juga, Bu?” tukas perempuan berambut sebahu dengan tekanan yang lebih kuat.
Pandangannya tetap terpaku pada pemilik warung, seperti kepala yang telah dibidik senapan dan tinggal menunggu perintah untuk ditembak. Getir aku melihatnya.
Waktu melintas sendirian tanpa permisi. Jam dinding menunjukkan pukul 12.57 WIB. Itu pertanda aku harus segera beranjak untuk pergi ke kampus. Masih ada perkuliahan yang harus kuikuti hari ini. Aku pun menghampiri Pemilik Warung untuk membayar semua yang telah mengendap dalam perutku: telur dadar, terung balado, dan es teh.
“Berapa, Bu?” tanyaku lembut sembari mengeluarkan dompet dari saku celana.
Pemilik warung tetap tidak meludahkan sepatah kata pun. Namun, gerutuan giginya tertangkap telingaku, seolah ia bersikeras menyimpan dendam yang dikunci rapat-rapat. Ia kemudian mengangkat kepala, menantang tatapan yang sejak tadi menghakiminya, sebelum melayangkan tamparan keras ke pipi perempuan berambut sebahu.
Aku mundur ke arah daun pintu. Sendok dan garpu para pelanggan berhenti beradu. Bisikan-bisikan mereka yang tak perlu pun terputus. Kini, hanya bunyi jam dinding dan suara presenter acara kuliner di televisi yang tersisa.
Penggunaan kluwek sebagai pewarna alami kuah bukan sekadar persoalan estetika. Kehitamannya juga dapat dimaknai secara simbolis sebagai representasi kebijaksanaan dan perlindungan. Dalam sejumlah kepercayaan masyarakat Jawa, hidangan berbahan kluwek yang disajikan dalam ritual tertentu dikaitkan dengan upaya menolak gangguan roh.
Entah di mana kebijaksanaan bersembunyi di antara perkelahian ini. Mungkin di bawah kursi atau meja. Barangkali di sela-sela baling-baling kipas. Bisa jadi pula di dalam kaleng kerupuk. Mungkin kebijaksanaan itu terselip di sapu tangan yang digunakan Pemilik Warung untuk menyeka keringat di tangan dan wajahnya setelah menampar Perempuan Berambut Sebahu.
Atau, jangan-jangan, telinga perempuan berambut sebahu tersumbat-atau sengaja disumbatnya sendiri—setelah tamparan itu mendarat. Barangkali ia tak bisa mendengar apa-apa lagi, termasuk bunyi jam dinding yang mengeras dan suara presenter acara kuliner di televisi yang berkata:
Dalam ritual selamatan, penyajian makanan berbahan kluwek, termasuk rawon, dapat menjadi bagian dari ungkapan harapan dan permohonan kepada Yang Mahakuasa agar kedamaian senantiasa terjaga. Hidangan tersebut juga dikaitkan dengan harapan akan datangnya keberkahan.
Perempuan berambut sebahu pun menusuk leher pemilik warung. Tak terduga, garpu dari piring rawon berkuah kuning itu akhirnya menemukan fungsinya.
Pemilik Warung memegangi lehernya, tak mampu berbuat apa-apa. Tubuhnya terhuyung ke kanan dan ke kiri, menyenggol etalase makanan serta dinding ruko. Dalam kelengahan itu, ia akhirnya jatuh dan terbaring kaku di lantai.
Aku membatu di ambang pintu. Tak ada yang kulakukan selain termenung, memikirkan berapa rupiah yang harus kubayarkan dan kepada siapa uang itu mesti kuberikan untuk hidangan yang telah tenggelam dalam perutku.
Surabaya, 20 September 2025
Catatan
Informasi dalam tulisan yang dicetak miring—dan hanya bagian tersebut—diperoleh melalui penelusuran dan pengolahan ulang dari dua sumber berikut. Informasi tersebut tidak disalin secara langsung, melainkan ditulis kembali dengan gaya narasi cerpen.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!