Kenapa Tidak Ada yang Memberitahu Kalau Menikahi Anak Pertama Otomatis Membuat si Bungsu Menjadi Anak Sulung?

Setahun menikah membuat saya menyadari satu hal yang tidak pernah diajarkan oleh ustaz mana pun saat khotbah nikah, atau oleh motivator pranikah yang hobi bikin seminar di hotel berbintang. Tidak ada yang pernah memberi tahu bahwa menikahi anak pertama ternyata otomatis membuat saya ikut dimutasi menjadi anak sulung.

Serius. Selama ini orang-orang hanya sibuk memberi wejangan klasik bin membosankan sebelum akad. Katanya, nanti kamu akan melihat pasangan tanpa makeup, katanya nanti kamu akan tahu sifat asli pasangan yang kalau tidur mangap, atau katanya harus belajar mengalah dan saling memahami.

Semua itu benar, saya tidak menampik. Namun, entah kenapa, tidak ada yang pernah bilang bahwa bagi seorang anak bungsu seperti saya, menikahi anak pertama berarti bersiap mengalami culture shock tingkat dewa karena tiba-tiba dipromosikan menjadi “kakak tertua”.

Saya tidak sedang mengatakan bahwa marriage is scary seperti ketakutan anak-anak senja di Twitter. Justru sebaliknya. Saya merasa menikah tetap menyenangkan selama dipersiapkan dengan matang, bukan karena Anda bosan hidup lalu menganggap menikah sebagai wahana hiburan berikutnya. Hanya saja, ada beberapa perubahan struktural yang benar-benar di luar kalkulasi harian saya.

Tiba-Tiba Punya Adik dan Hilangnya Privilege Anak Bungsu

Di keluarga asal, status saya itu sakral dan jelas. Saya anak bungsu. Saya tumbuh besar dengan kenyamanan mutlak posisi itu. Selalu ada kakak untuk disalahkan, selalu ada kakak yang lebih dulu mengambil keputusan, dan saya tinggal mengikuti arus layaknya potongan kayu di sungai.

Lalu saya menikah dengan seorang anak pertama. Aneh sekali. Tiba-tiba saya punya seorang—ya, adik ipar. Awalnya terlihat biasa. Namun, status tersebut juga membawa tanggung jawab dan kewajiban yang mengikutinya.

Ya, di keluarga istri, saya perlahan diposisikan layaknya seorang kakak. Kalau bepergian, saya yang otomatis disodori kunci untuk menyetir mobil. Kalau ada adik ipar yang butuh bantuan atau konsultasi urusan kuliah, saya ikut dimintai tolong.

Pun kalau ada urusan keluarga besar, saya mulai ditarik duduk di meja utama untuk dilibatkan dalam pembicaraan serius. Saya bingung. Mengapa tiba-tiba perubahan itu berbalik begitu cepat?

Meski demikian, menikahi anak pertama juga memberikan saya satu keistimewaan luar biasa yang belum pernah saya rasakan selama 30 tahun hidup di bumi: saya akhirnya punya otoritas legal untuk menyuruh-nyuruh adik.

Ini adalah sebuah kemenangan politis yang mutlak. Bayangkan, setelah seumur hidup menyandang kasta anak bungsu yang selalu menjadi pesuruh kakak-kakak kandung, sekarang roda nasib akhirnya berputar. “Hanya” dengan bermodal akad nikah, saya mendadak punya sekutu baru yang bisa saya mintai tolong secara sah. Sungguh sebuah kepuasan batin yang tiada tara.

 

Menikah Ternyata Bisa Mengubah Status Anak

Selama ini saya mengira status sulung atau bungsu adalah takdir genetik yang melekat seumur hidup sampai kita masuk liang lahat. Ternyata tidak juga. Secara biologis memang tetap sama, tetapi secara sosial dan kultural, pernikahan bisa mengacak-acak status tersebut tanpa permisi.

Anak bungsu bisa dipaksa menjadi kakak, dan anak sulung pun sebenarnya bisa merasakan enaknya menjadi adik yang dimanja ketika masuk ke keluarga pasangannya.

Mungkin inilah salah satu pelajaran keistimewaan menikah. Banyak hal yang akhirnya berubah akibat mengawinkan dua sistem keluarga. Alhasil, kita harus belajar memainkan peran baru yang belum pernah ada dalam bayangan.

Kita akhirnya paham bahwa menikah ternyata bukan cuma mengubah status di kolom KTP dari lajang menjadi kawin. Jadi, kalau ada anak bungsu di luar sana yang sebentar lagi berniat menikahi anak pertama, izinkan saya memberi sedikit spoiler agar Anda tidak kaget.

Kadang, tanpa kita sadari, ia juga mengubah kasta seorang anak di hadapan mertua. Dan lucunya, saya baru tahu teori ini setelah benar-benar merasakannya sendiri sambil memijat pundak yang kian lama kian berguna menjadi penopang, hehehe.

Introvert yang baik. Tinggal di Lamongan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!