Antara Firman Allah, Sola Scriptura, dan Luka-Luka Kita.
Keyla adalah perempuan pemalu yang tidak mudah terbuka kepada orang lain. Namun, semuanya berbeda ketika ia bersama Dava. Di hadapan laki-laki itu, Keyla bisa menjadi dirinya sendiri, bercerita tentang hal-hal kecil, mengeluh tentang harinya, bahkan marah tanpa harus menyembunyikan perasaannya.
Dava adalah kebalikannya. Ia dikenal sebagai laki-laki yang banyak bicara, pemberani, dan terkadang sulit mengendalikan emosinya. Ketika marah, ia lebih sering memilih diam atau melampiaskannya dengan hal lain. Meski begitu, selama lima tahun menjalin hubungan, Dava selalu berusaha ada untuk Keyla.
Ia terbiasa mengantar dan menjemput Keyla, membelikan makanan tanpa diminta, serta menjadi orang pertama yang dicari Keyla ketika sedang menghadapi masalah. Bagi Keyla, Dava bukan sekadar kekasih, melainkan seseorang yang sudah menjadi bagian dari kesehariannya.
Namun, hubungan mereka tidak selalu berjalan dengan baik. Dava memiliki sisi posesif dan sering menyepelekan hal-hal kecil yang sebenarnya berarti bagi Keyla. Sementara itu, Keyla memiliki ego yang tinggi dan emosi yang terkadang meledak-ledak. Mereka saling menyayangi, tetapi tidak selalu tahu bagaimana cara memperlakukan satu sama lain dengan benar.
Di antara segala kekurangan itu, Keyla selalu berusaha mempertahankan komitmen yang mereka sepakati sejak awal. Mereka berjanji untuk menjaga batasan dalam berinteraksi dengan lawan jenis dan bersikap terbuka satu sama lain. Akan tetapi, janji itu tidak selalu dijalankan dengan cara yang sama oleh Dava.
Setiap kali merasa terluka dan lelah, Keyla sering meminta hubungan mereka diakhiri. Namun, Dava selalu menolak. Ia akan membujuk Keyla untuk bertahan, seolah-olah selama mereka masih saling mencintai, tidak ada masalah yang benar-benar tidak bisa diselesaikan.
Ada satu hal yang selalu mereka hindari selama lima tahun itu: keyakinan.
Keyla adalah perempuan Muslim yang tumbuh dalam keluarga yang cukup memahami agama. Sementara itu, Dava adalah laki-laki Kristen yang berasal dari keluarga Batak dengan adat yang masih sangat kental. Mereka memiliki kehidupan, kebiasaan, dan cara beribadah yang berbeda.
Meski begitu, keduanya berusaha menghargai keyakinan masing-masing. Keyla selalu mengabari Dava ketika hendak salat atau melakukan kegiatan keagamaan lainnya. Begitu pula Dava yang memberi tahu Keyla ketika akan pergi ke gereja.
Mereka bisa membicarakan banyak hal, kecuali satu pertanyaan yang sebenarnya paling penting.
Jika suatu hari mereka ingin melangkah lebih jauh, akan dibawa ke mana hubungan ini?
Masalah kecil yang terus berulang membuat hubungan mereka semakin melelahkan. Keyla merasa dirinya selalu berusaha menjaga batasan yang telah disepakati, sedangkan Dava terkadang tidak melakukan hal yang sama. Setiap kali Keyla menyampaikan keberatannya, perdebatan pun terjadi.
Bagi Dava, beberapa hal mungkin tidak perlu dibesar-besarkan. Namun, bagi Keyla, hal-hal kecil itulah yang perlahan mengikis kepercayaannya.
Pertengkaran mereka sering berakhir dengan pola yang sama. Keyla meminta berpisah, Dava menolak, lalu keduanya kembali bersama seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Mereka selalu berhasil melewati pertengkaran, tetapi tidak selalu berhasil menyelesaikan masalahnya.
Hingga pada suatu malam, pertengkaran yang awalnya membahas persoalan biasa berubah menjadi percakapan yang berbeda. Entah karena sudah terlalu lelah atau terlalu lama menyimpan pertanyaan, Keyla akhirnya memberanikan diri membicarakan sesuatu yang selama ini hanya berputar di kepalanya.
Melalui ruang pesan mereka, Keyla mengetik sebuah kalimat.
“Aku cuma mau bilang ke kamu kalau aku enggak akan pindah ke agama kamu, dan aku juga tahu kalau kamu enggak akan mau pindah ke agama aku.”
Setelah mengirim pesan itu, Keyla terdiam.
Ia tahu kalimat tersebut bukan sesuatu yang baru. Mereka sudah mengetahui keyakinan masing-masing sejak awal hubungan. Namun, selama ini mereka seolah menganggap perbedaan itu sebagai persoalan yang bisa ditunda sampai waktunya tiba.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Keyla tidak lagi membicarakan persoalan yang bisa diselesaikan dengan permintaan maaf atau janji untuk berubah. Ia membicarakan sesuatu yang menyangkut masa depan mereka.
Dava biasanya memiliki banyak cara untuk menghadapi pertengkaran. Terkadang ia akan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, mengirim pesan jahil, atau mencoba membuat Keyla kembali tertawa. Bahkan ketika Keyla sudah mengatakan ingin mengakhiri hubungan, Dava hampir selalu menjadi orang yang meminta mereka bertahan.
Namun, malam itu berbeda.
Tidak ada pesan jahil. Tidak ada usaha untuk mengalihkan pembicaraan. Tidak ada pula kalimat yang meminta Keyla mengurungkan keinginannya.
Dava hanya diam.
Keyla menatap layar ponselnya berkali-kali, menunggu sesuatu yang biasanya selalu datang. Ia berharap Dava membalas dengan kalimat yang bisa membuatnya merasa bahwa semuanya masih bisa diperbaiki.
Namun, semakin lama ia menunggu, semakin sunyi ruang pesan itu.
Keyla mulai menyadari bahwa mungkin selama ini bukan hanya dirinya yang takut menghadapi kenyataan. Dava pun mungkin memiliki ketakutan yang sama, hanya saja ia memilih menyimpannya sendiri.
Malam berlalu tanpa percakapan. Dua orang yang biasanya saling mencari sebelum tidur kini sama-sama terjaga dengan pikiran masing-masing.
Keyla memikirkan lima tahun yang sudah mereka lalui. Tentang perhatian Dava, kebiasaan mereka, pertengkaran yang berulang, dan semua rencana yang pernah mereka bayangkan bersama.
Untuk pertama kalinya, ia tidak hanya bertanya apakah dirinya masih mencintai Dava.
Ia mulai bertanya apakah cinta saja cukup untuk membawa mereka menuju masa depan yang sama.
Pagi harinya, Keyla sedang duduk bersama teman-temannya ketika ia mencoba menghubungi Dava melalui panggilan video. Ia ingin menurunkan egonya, setidaknya untuk memastikan keadaan laki-laki yang selama ini menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Dava ternyata sedang berada di luar bersama teman-temannya. Namun, ketika panggilan tersambung, ia tidak banyak berbicara. Wajahnya terlihat berbeda, dan responsnya tidak seperti biasanya.
Beberapa saat kemudian, salah seorang teman Dava berkata, “Davanya lagi pusing, katanya lagi banyak pikiran.”
Keyla langsung memahami apa yang mungkin sedang dipikirkan Dava.
Rasa bersalah muncul dalam dirinya. Ia merasa telah menyakiti seseorang yang selama lima tahun selalu berusaha mempertahankan hubungan mereka. Ia tahu perkataannya semalam pasti bukan hal mudah untuk diterima.
Namun, tidak lama kemudian, muncul pertanyaan lain dalam benaknya.
Mengapa ia harus merasa bersalah karena membicarakan sesuatu yang memang seharusnya mereka bicarakan sejak awal?
Keyla tidak pernah menganggap Dava sebagai orang jahat. Ia tahu laki-laki itu menyayanginya dengan caranya sendiri. Dava pernah menjadi tempat ternyaman bagi Keyla, orang yang selalu ia cari, dan seseorang yang membuatnya merasa diterima ketika menjadi dirinya sendiri.
Namun, Keyla juga tahu bahwa ada hal-hal yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan saling menyayangi.
Ia mulai membayangkan masa depan mereka. Tentang keluarga yang akan mereka hadapi, keyakinan yang akan tetap mereka pegang, dan keputusan-keputusan besar yang tidak mungkin terus mereka hindari.
Selama ini, Keyla dan Dava terbiasa membicarakan hari esok tanpa benar-benar membicarakan bagaimana mereka akan sampai ke sana.
Mereka bisa merencanakan banyak hal, tetapi selalu menghindari pertanyaan tentang arah hubungan mereka sendiri.
Ketika panggilan video berakhir, Keyla kembali menatap ponselnya. Ia sadar bahwa ketakutannya kehilangan Dava tidak seharusnya menjadi alasan untuk terus mengabaikan kenyataan.
Namun, menyadari sesuatu tidak serta-merta membuat seseorang sanggup melakukannya.
Keyla masih ingin bersama Dava. Ia masih ingin mendengar suaranya, menerima perhatiannya, dan menjalani kebiasaan-kebiasaan kecil yang selama lima tahun terasa begitu biasa.
Ia hanya tidak tahu apakah semua itu akan cukup ketika mereka harus menghadapi masa depan yang sebenarnya.
Hari itu, Keyla memikirkan satu hal yang terus menghantuinya.
Jika sekarang saja ia sudah merasa takut kehilangan Dava, bagaimana jika mereka terus bersama selama bertahun-tahun, membangun lebih banyak kenangan, lalu baru menyadari bahwa mereka tidak bisa berjalan menuju tujuan yang sama?
Semakin lama hubungan itu berlangsung, semakin banyak hal yang akan sulit dilepaskan. Bukan hanya perasaan cinta, melainkan juga kebiasaan, harapan, dan bayangan tentang masa depan yang selama ini mereka simpan.
Keyla menyadari bahwa ia dan Dava tidak kekurangan kenangan indah. Mereka sudah melewati banyak hal bersama. Ada tawa, perhatian, pertengkaran, permintaan maaf, dan berbagai kesempatan ketika keduanya memilih kembali setelah hampir menyerah.
Justru karena semuanya begitu berarti, keputusan ini terasa semakin menyakitkan.
Keyla tidak ingin menganggap lima tahun mereka sebagai kesalahan. Ia juga tidak ingin menyalahkan Dava karena mempertahankan keyakinannya, sebab ia sendiri tidak ingin diminta meninggalkan keyakinan yang telah menjadi bagian dari hidupnya.
Mereka sama-sama memiliki sesuatu yang tidak ingin mereka lepaskan.
Dan kali ini, tidak ada janji yang bisa menjamin bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Keyla kembali membuka ruang pesan mereka. Jarinya sempat berhenti di atas papan ketik. Ia tahu, sekali kalimat itu dikirim, hubungan yang selama ini ia pertahankan mungkin benar-benar akan berakhir.
Namun, ia juga tahu bahwa terus bertahan tanpa jawaban bukan berarti mereka sedang menyelamatkan hubungan.
Mungkin mereka hanya sedang menunda perpisahan yang semakin hari akan terasa lebih berat.
Dengan perasaan yang bercampur aduk, Keyla akhirnya mengetik dua kata.
“Udahan, ya?”
Pesan itu terkirim.
Keyla menunggu. Beberapa menit terasa begitu panjang. Ia berharap Dava kembali melakukan hal yang sama seperti biasanya, menolak keputusannya dan memintanya bertahan.
Namun, kali ini Dava tidak melakukannya.
Setelah beberapa menit, Dava akhirnya membalas.
“Iya, udah kalau gitu, tapi yakin, kan?”
Keyla membaca pesan itu berulang kali.
Ada bagian dari dirinya yang masih berharap Dava akan mengubah jawabannya. Ia ingin Dava mengatakan bahwa mereka masih bisa mencari jalan keluar, bahwa mereka masih punya kesempatan untuk memperbaiki semuanya.
Namun, di sisi lain, ia menyadari bahwa pertanyaan Dava mungkin bukan sekadar tentang apakah Keyla benar-benar ingin berpisah. Mungkin Dava juga sedang mencoba memastikan apakah mereka berdua sudah siap menerima kenyataan yang selama ini mereka hindari.
Keyla akhirnya mengiyakan.
Tidak ada pertengkaran panjang. Tidak ada saling menyalahkan. Tidak ada pula janji untuk kembali bersama suatu hari nanti.
Hubungan yang telah berlangsung selama lima tahun itu berakhir melalui percakapan singkat di ruang pesan.
Keyla terdiam. Ia sedang bersama teman-temannya ketika pesan berikutnya muncul dari Dava.
“Setelah ini kamu cari yang seagama, ya. Cari yang sepemikiran sama kamu, yang lebih baik.”
Kalimat itu membuat Keyla kehilangan kata-kata.
Teman-temannya yang berada di dekatnya menyadari perubahan ekspresinya. Keyla hanya menatap layar ponsel, berusaha menahan perasaan yang tiba-tiba memenuhi dadanya.
Ia tahu Dava tidak sedang mengucapkan kalimat itu karena membencinya. Justru karena masih ada rasa sayang, Dava ingin Keyla menemukan seseorang yang bisa berjalan bersamanya tanpa harus menghadapi kebingungan yang sama.
Namun, memahami maksud seseorang tidak selalu membuat kata-katanya terasa lebih ringan.
Keyla ingin mengatakan banyak hal. Ia ingin mengingatkan Dava tentang semua yang sudah mereka lewati, tentang bagaimana mereka pernah berjanji untuk bertahan, dan tentang betapa sulitnya membayangkan hari-hari tanpa satu sama lain.
Namun, untuk pertama kalinya setelah lima tahun, Keyla tidak tahu harus mengatakan apa kepada Dava.
Di tempat lain, Dava juga harus menerima kenyataan yang sama. Ia telah kehilangan seseorang yang selama ini menjadi bagian dari hari-harinya. Seseorang yang ia antar, ia jemput, ia ajak bicara, dan ia pertahankan setiap kali hubungan mereka hampir berakhir.
Dava pun memikirkan bagaimana kehidupan Keyla setelah mereka tidak lagi bersama. Ia membayangkan kemungkinan Keyla bertemu laki-laki lain, seseorang yang kelak bisa menemani Keyla tanpa membawa persoalan yang sama.
Pikiran itu tidak mudah diterima.
Namun, Dava tahu bahwa rasa tidak rela kehilangan Keyla tidak otomatis memberinya jawaban tentang bagaimana hubungan mereka seharusnya dilanjutkan.
Mereka masih saling menyayangi, tetapi untuk pertama kalinya, keduanya memilih berhenti meminta satu sama lain untuk bertahan.
Setelah perpisahan itu, Keyla dan Dava memilih menjauh. Bahkan untuk sekadar berteman setelah semuanya berakhir, mereka belum sanggup melakukannya.
Terlalu banyak kebiasaan yang masih melekat. Terlalu banyak kenangan yang muncul dari hal-hal sederhana. Dan terlalu banyak perasaan yang belum bisa mereka tempatkan sebagaimana mestinya.
Bagi Keyla, kehilangan Dava bukan hanya tentang kehilangan seorang kekasih. Ia juga kehilangan seseorang yang selama lima tahun menjadi tempat bercerita, teman bertengkar, dan bagian dari rutinitas hariannya.
Sementara itu, Dava harus belajar menerima bahwa tidak semua orang yang ingin ia pertahankan bisa terus berada di sisinya.
Mereka tidak berpisah karena tidak pernah saling menyayangi. Mereka juga tidak bisa begitu saja menghapus semua hal baik yang pernah dilakukan satu sama lain. Hubungan itu pernah menjadi bagian penting dalam hidup mereka, dan kenyataan bahwa hubungan tersebut berakhir tidak membuat seluruh kenangannya menjadi sia-sia.
Pada akhirnya, Keyla memahami bahwa mencintai seseorang tidak selalu berarti harus memilikinya sampai akhir. Ada kalanya seseorang harus berani melihat kenyataan, sekalipun kenyataan itu berbeda dari apa yang selama ini ia harapkan.
Dava pun harus menerima bahwa mempertahankan seseorang tidak cukup hanya dengan meminta orang itu bertahan. Terkadang, cinta juga berarti mengakui bahwa ada perbedaan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan perasaan.
Di antara keyakinan yang mereka pegang, harapan yang pernah mereka bangun, dan luka yang harus mereka terima, Keyla dan Dava belajar bahwa tidak semua pertanyaan memiliki jawaban yang bisa membuat kedua pihak bahagia.
Lima tahun telah mengajarkan mereka banyak hal tentang cinta. Namun, perpisahan mengajarkan sesuatu yang selama ini tidak pernah benar-benar mereka pahami: bahwa kesungguhan dalam mencintai seseorang tidak selalu menjamin mereka akan sampai pada tujuan yang sama.
Mereka pernah menjadi rumah bagi satu sama lain. Namun, rumah yang pernah memberikan kenyamanan tidak selalu menjadi tempat seseorang menetap selamanya.
Dan mungkin, pada awal atau akhirnya, itulah yang harus mereka terima.
Bahwa seseorang bisa sangat berarti dalam hidup kita, tetapi tidak selalu menjadi seseorang yang bisa berjalan bersama kita sampai akhir.
Sebab, selama apa pun seseorang tinggal di tempat yang sama, bukan berarti ia akan selalu berada di sana.
Ada yang datang untuk menetap, ada yang datang untuk mengajarkan sesuatu, dan ada pula yang harus pergi ketika keduanya menyadari bahwa jalan yang mereka tempuh tidak lagi menuju arah yang sama.
Keyla dan Dava pernah saling mencintai dengan cara terbaik yang mereka pahami saat itu. Kini, mereka harus belajar melanjutkan hidup dengan membawa pelajaran dari hubungan yang telah berakhir.
Bukan untuk melupakan bahwa mereka pernah bersama, melainkan untuk menerima bahwa tidak semua yang berarti harus menjadi milik kita selamanya.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!