Mengejar Jalan Tanjungpura

Golongan Golong Abong-Abong

Kafilah batang muda
Terbaik dikalangannya
Kalangan sarat terima
Mustinya.

Pemburu tempatan palsu, propaganda senang itu
Nasib sial melidah kontradiksi
Meludah miang harap mengguru
Mendidik racun nampak harum jadi gizi.

Sebuah transisi kemaluan?
Atau transmisi kegagalan?
Melarang garang Tuhan berani beraninya
Dalam gelap penentuan ruang utama.

Kelipatan jarak pembuka dugaan
Mari kita hakimi sekalian
Sebab tak ada aku bila telanjang
Merambah tawa menyerupai gamang.

Dan benar nihil konfirmasi
Riak neraka kerap mengabari
Berita baik di timur bumi
Pengingat barat biar kembali.

Seperti paman kucai yang bersolek
Bercermin negeri yang kelewat becek
Mengering mabuk pujian
Teler kebanyakan harapan.

 

 

 

Hiperbola Kabupaten Sandal

Daratan surga, gambut lembut, terpadu
Jing lentik bermain jari, bergaun pakis, malu-malu
Jung berlarian gemas sebanal anak kecil
Jang tercengang melihat tapah beradu bedil.

Selebrasi harian makhluk tempatan
Kebebasan hasrat penunda muram
Yang dara elok kian berkenan
Yang bujang bahana racun lama bersemayam.

Lang lang ilalang gores batasnya
Mesti luka di kabupaten hina
Terlanjur lancang badannya dibuka
Demi omong kosong ia menua
Sudah malang sekarang apa?

Reka getir nasib si ‘dik besar
Saling jamah pecundang jampi
Sekumpul busung meneban debar
Menolak nasi bersumpah mati.

Lihat mereka meruak jadi juru bahasa
Mengerti asap sigaret, romantisasi kekalahan yang berlebihan
Relaksasi segar seniman kapital peju
Menilai penilaian. Ah syarikat harian itu.

Berbahagia, yang berbahagia, melodi masyarakat munafik
Menyadur perkataan orang mati, dasar akal nihil fungsi
Terlalu ah dul terlalu picik
Langkahnya menyapa, harap harap cerdik ikut serta
Menyertai sepi yang nanti pasti
Mengurusi wilayah pilu, malang menentu
Seperti jalan desaku, desa temanku
Gondal gandul lunas jadi abu
Dijebak pejabat seragam lucu
Badut bersepatu batu
Tumpuk-tumpuk satu.

 

 

 

Tidak Apostrof, Tidak Ada Penghilangan

 

Seyogianya kematian, perangkap juga guru
Yang menjadikan engkau anak kecil
Bertanya dan menebak dengan tangis
Terisolasi, sinis.

Ku, seluruh prosa berujung itu
Karena dosa prasangka belenggu
Kalimat-kalimat malam menanti
Warna di kemudian hari.

Juga paragraf-paragraf pilihan kita
Baik dengan penghilangan
Benar kasih tidak datang
Abang berang di penggorengan Ibu
Adik menangis mengerat batu.

Alamak tanah mengering kata Bapak
Perenggi cilik sampai melirik benua lain
Memupuk nirwana mimpinya kakak
Bimbang hidup dari nujuman selatan
Arah kahat penebusan.

Ku, ta, elemen layar top
Lapisan revolusi jung urban markotop
Tiga yang menggaram bulan
Satu yang berpikir alam.

 

 

 

Mengejar Jalan Tanjungpura

 

Matilah kita kawan, tersesat nuansa silam
Meski benak cerdik berbohong
Namun masa tidak berpialang diri
Demi mantra ia takkan kembali.

Lintasan wacana untuk bertemu
Menghinakan lembar yang hilang tiba-tiba
Tersasar sebar abu
Terserap nilai malu.

Dan apabila kawan
Sebuah cerita sekumpulan kawan
Berakhir indah nasib semua
Maka sudah, kita luangkan akhir dunia.

Untuk terakhir kali tertawa
Sembari meneguk kopi pesing seduhan puasa
Menghempas kartu hingga besok tiba
Kembali mengejar jalan Tanjungpura.

 

 

 

Kemampuan Berita Utarid

 

Nazar Pu’i di remang kemiskinan
Merayu kematian layaknya sahabat karib
Bagaimana caranya bunuh diri paling edan?
Dengan tanpa darah bercucuran
Dan bila beruntung Ibu dapat kembali ke perapian
Memasak kesukaan.

Sukun berakal nasi jadilah
Biar pelan sampai diakui bintang pagi
“Teruslah miskin kawan dan bermain kalimat iman”
“Pasti datang lautan lembaran”
“Gelagatnya garang bersiaplah lenggang”
“Tenggelam kenyang”.

Tabak kegilaan Pu’i linier terisi
Benar tidak ironi yang berperan
Transisi arkipelago menebak temponya
Antara nyata terberi, menenggang api sebunga.

Empunya nasib hayat, indahkah di penghujung hari?
Lagaknya manusia, hakim meruang waktu
Lalu lalang selalu. Lantang beradu
Sudah berjarak jengkal bumi
Dari akal Pu’i.

Propa cahaya berhasil memberi kabar berani
Terbiar lama semua niat menyudahi
Langgam tawa satu anak ceria
Menjadi sunyi di kejauhan
Bayangnya enggan mengejar.

 

 

 

Parasetamak

 

Bidik bidak terbidik
Pun terburuk, semua-mua
Adalah Aku, Bu
Golongan pembakar cerutu palsu.

Trilogi kamar tragedi
Dan semayam ego meraki
Lapisan dunia besar ditopang dinding kecil
Satu bagian yang membawa langitnya
Tapak kanan tangan hina.

Parasetamak
Perkenalkan rasa ingin lebih
Telan bagan kiri jiwanya
Terbiar lumpuh nanti dibangun dosa.

Kita bebas mengalir dialiri diri
Kan harapan menunggu diujung tumpu
Mantap paparan malu, benderang lagi menggiring
Mangsa agung dari jejaring piring.

Mister langit mister langit
Ka pernah hidup di segala jenis romantisasi
Alat berat, sepeda, uap, asap juga minuman
Alam, jalan, hujan, sore sampai manusia
Tuhan, sakit, kematian hingga pandemi.

Seperti pantasnya dunia
Eksplorasi lingkar tepian tafsir
Spektrum ruang perjanjian waktu
Luas menggaram, Aku.

Rizqi Rahmat Tahajjudin dengan nama pena Arisadewo seorang pribumi asal Sekadau, Kalimantan Barat adalah penulis yang aktif menulis puisi untuk dipublikasikan di akun media sosial pribadinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!