selalu, aku keluar lebih dulu dari matahari
orang-orang masih mandi
berdandan mencari baju di lemari
aku sudah menanti
bunyi pertama notifikasi
hati berseri-seri
lalu bunyi kedua, ketiga, jeda-.
sarapan seharga ongkos satu perjalanan
kembali aku menunggu
satu-dua jam
bunyi itu belum lagi datang
membunuh waktu menggulir layar ponsel
berandai-andai
siang begitu terik
tarik-menarik aku dengan kantuk
hingga pesanan datang
dan menukarnya
dengan makan siang
sore tiba
aku mengantar dari rute ke rute
dari macet ke macet
dari panas ke hujan
dengan sisa tenaga
yang lebih banyak habis oleh menunggu
aku masih berada di jalanan
membiarkan badan
dipanaskan matahari
digigilkan hujan
di perjalanan pulang
aku sering mencandai diri:
setiap hari mengantar orang-orang
sampai pada tujuan
entah kenapa aku selalu gagal
membawa diri ke tujuan
Bogor, 2026
Di Hari Nenek Pergi
tak kurasa tanda-tanda
saat kita berbagi nasi berkat
sebelum aku berangkat salat Jumat
entah pada jam berapa
jiwamu memilih keberangkatan
tepat saat tubuhmu berada
di samping mesin cuci
sementara,
aku sibuk mengunci air mata
melebarkan senyum
berpura-pura perkasa
tak berani kupandangi
wajahmu untuk terakhir kali
hingga tubuhmu dibenamkan
kupalingkan tatapan
saat semua menjauh
sebanyak tujuh langkah
sejak itu sebagian diriku
terbaring beku di ranjang barumu
Bogor, 2019
setelah bermaaf-maafan
makan ketupat dan opor ayam
aku datang ke rumahmu
sebotol air doa
sekantung bunga kamboja
kubawa sebagai hadiah hari raya
melepas batas
antara hidup dan mati
kita berbincang dari hati ke hati
lalu memercayai takdir
kelak kita kembali bersua
di ruang yang entah
mungkin dengan tubuh yang asing
tapi perasaan tak pernah pangling
Bogor, 2019
setelah 365 hari jiwamu berpindah
kesedihan kembali tumpah
saat kutemukan wajahmu tertera
di lembar pertama buku doa
kubaca pelan-pelan setiap ayat
lalu ingatan terpelanting
pada aroma bubur kacang hijau
yang menguar setiap pagi
pada rengekan masa kecilku
yang meminta baju lebaran
suatu waktu aku pernah bercita-cita:
saat dewasa, kuajak kau berjalan-jalan
dan membelikanmu baju lebaran
untuk kau pamerkan di depan
anak-cucumu
tapi sayang, gaji pertamaku terlambat datang
Bogor, 2020
berbekal kecemasan yang
tak bisa disembunyikan
di rambutku
kita menelusuri dada kota
yang sesak sedari pagi
jejak langkahmu menjadi
langit sore yang terus kupandangi
ketika bibirmu menjatuhkan
huruf-huruf yang patah itu
menjadi seutas senyuman
aku belajar bagaimana memugar
hidup yang terlampau sukar
melihat sekumpulan rusa
dari pagar yang sejajar
dengan gedung walikota
lalu menenggelamkan diri
bersamaan dengan matahari
kita adalah sepasang mata
yang dipertemukan air mata
Bogor, 2026
Lahir dan besar di Bogor. Menyukai kegiatan mendaki gunung, pecinta sastra, pecinta Barcelona, hampir-hampir cinta kamu juga.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!