Mira benci loteng.
Sejak kecil, neneknya selalu melarangnya naik ke sana. Katanya, banyak tikus, banyak debu, dan banyak cerita yang belum waktunya didengar.
Setelah Nenek Saminah meninggal tiga tahun lalu, loteng itu dikunci secara permanen. Kuncinya digantung pada paku di dapur, berkarat, dan dilupakan.
Sore itu, hujan turun deras di Bandung. Air merembes dari plafon kamar belakang, menetes ke dalam ember yang sudah penuh. Ibu berteriak dari bawah, “Mira, tolong cek genteng di loteng! Bawa senter!”
Dengan enggan, Mira naik. Tangga kayu berderit keras, seolah protes. Udara pengap dan bau kapur barus menyambutnya. Sinar senter ponselnya menyapu ruangan yang gelap. Ada kardus-kardus bekas mi instan, sepeda ontel Kakek yang sudah keropos, dan kalender tahun 1987 yang masih tergantung.
Di pojok paling gelap, ada sebuah kotak kayu jati sebesar koper. Kotak itu tidak berdebu sebanyak yang lain, seolah baru saja diusap seseorang—seolah sedang menunggu.
Mira membukanya perlahan. Di dalamnya bukan harta, bukan pula emas. Hanya tumpukan surat yang diikat tali rafia merah yang telah pudar, sebuah foto hitam-putih seorang pemuda kurus berseragam pejuang yang memegang bambu runcing, dan selembar kebaya encim yang sudah dimakan ngengat pada bagian lengannya.
Ia mengambil surat paling atas. Tulisannya halus dan rapi, menggunakan ejaan lama yang pernah ia pelajari dalam pelajaran sejarah.
Batavia, 12 Oktober 1946
Untuk Harunku,
Hari ini Belanda lewat lagi di depan rumah Kebon Sirih. Ibu menyuruhku sembunyi di dapur belakang. Aku takut, Harun. Kusimpan suratmu di bawah bantal setiap malam. Pulanglah segera. Aku lupa cara menanak nasi tanpa kauajari.
Mira mengenal nama itu. Harun adalah kakeknya, seorang guru SD pendiam yang ia kenal hanya suka menyirami anggrek dan memperbaiki jam dinding tua di ruang tamu. Saminah adalah neneknya, yang ia ingat suka membuat kolak pisang dan mendongeng tentang kancil.
Mira duduk di lantai berdebu itu tanpa peduli roknya kotor. Ia membaca surat-surat itu satu demi satu. Ada dua puluh tujuh surat di sana, semuanya dari Saminah untuk Harun selama Harun berjuang di Surabaya dan Yogyakarta pada tahun 1946 sampai 1948.
Surat-surat itu bukan tentang perang besar ataupun politik, melainkan tentang memori kecil yang dipertahankan agar tidak hilang: bau tanah setelah hujan pertama, janji Harun untuk membelikan Saminah sebuah radio merek Philips, dan perjuangan Saminah belajar menulis huruf demi huruf agar bisa berkirim kabar karena ia tidak bersekolah tinggi.
Pada surat ke-18, tulisan tangan Saminah mulai berantakan, tidak serapi dulu.
Harun, kepalaku sakit sekali hari ini. Dokter bilang aku demam tinggi. Aku lupa, kita sudah menikah atau belum? Kalau sudah, maafkan aku yang lupa tanggalnya. Aku menulis terus biar tidak lupa padamu. Jangan hilang, Harun.
Jantung Mira berdegup kencang. Tangannya terasa dingin.
Di bawah tumpukan itu, ada satu amplop terakhir yang berbeda. Tanpa prangko dan tidak pernah dikirim. Tulisan tangannya tegas dan miring—gaya tulisan Kakek yang sangat ia kenal.
Saminah,
27 Desember 1949. Aku sudah di depan rumah Kebon Sirih. Pintu dikunci. Tetangga billing kau dan Ibu mengungsi ke Cianjur karena Batavia rusuh besar. Aku menunggumu di sini selama tiga hari di bawah pohon mangga. Surat-suratmu kubawa semua di dalam tas karungku. Kau bilang kau takut lupa pada wajahku. Jangan takut, Minah. Kalau kau lupa, biar aku yang mengingatnya untuk kita berdua. Aku ingat semua. Aku Harunmu.
Mira memeluk kotak itu dengan erat. Air matanya jatuh ke atas kertas yang sudah menguning dan rapuh, meninggalkan bekas noda bulat.
Ia turun dengan tergesa-gesa, bahkan hampir terjatuh dari tangga.
“Bu! Ibu tahu tentang ini?” Ia meletakkan kotak itu di meja makan yang masih ada ulekan sambalnya.
Ibunya yang sedang mengulek langsung berhenti. Wajahnya seketika pucat saat melihat kotak itu.
“Dari mana kamu mendapatkan itu, Mira?” tanyanya dengan suara pelan, hampir berbisik.
“Di loteng. Kenapa Ibu tidak pernah bercerita kepada Mira? Kenapa dikunci?”
Ibunya menarik napas panjang, lalu menarik kursi kayu untuk duduk.
“Nenekmu di masa tuanya sakit, Mira. Dokter bilang ia terkena Alzheimer—demensia. Pelan-pelan ia melupakan segalanya. Lupa nama Ibu, lupa namamu waktu kamu lahir, lupa cara makan, bahkan lupa jalan pulang dari warung. Ibu sudah mengikhlaskannya.”
“Lalu?”
“Namun, hanya satu yang tidak pernah benar-benar hilang. Kalau dibacakan surat-surat itu, matanya akan berbinar lagi.”
Mira menatap ibunya.
“Ayahku—kakekmu, Harun—setiap malam selama lima tahun sebelum Nenek meninggal, selalu duduk di samping tempat tidurnya dan membacakan surat-surat itu berulang-ulang. Surat yang ditulis sendiri oleh Nenek lima puluh tahun lalu. Kadang Nenek ingat dan tertawa, kadang menangis sambil berkata, ‘Harun, kamu pulang?’ Itu cara Kakek mengembalikan memori Nenek. Itulah janjinya pada tahun 1949 dulu.”
Malam itu, hujan telah reda. Genteng memang tetap bocor dan ember tetap menampung air, tetapi Mira tidak peduli lagi.
Ia menggelar semua surat di lantai kamarnya, lalu membuka laptop yang layarnya sudah sedikit retak. Ia tidak ingin mengetik artikel sejarah tentang perang atau politik untuk tugas kuliahnya.
Sebaliknya, ia mengetikkan kalimat pertama dengan jari gemetar:
Ada cinta yang tidak disimpan di kepala, melainkan di dalam kotak kayu, diikat dengan tali rafia merah, dan dijaga oleh seseorang selama lima puluh tahun.
Mira memutuskan bahwa ia tidak akan membiarkan memori itu berdebu lagi di loteng. Jika Kakek adalah penjaga memori untuk Nenek, kini giliran dirinya yang menjadi penjaga berikutnya untuk mereka berdua.
Tamat.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!