

Saya rasa, kepala ini hanya memikirkan yang bentuk dan ukuran yang diproyeksikan sendiri ke dunia nyata. Ia enggan menerima jika yang berwujud di hadapannya memiliki bentuk dan ukuran yang tidak sesuai dengan ekspektasi sebelumnya, singkatnya: menyangkal.
Bagi saya, perasaan ini terus berulang-ulang kali, dan tak tahu waktunya berhenti. Penyangkalan akan menunggu dan menerima realita yang dibuat dengan sendirinya membuat hati ini berat dan enggan melangkah ke depan. Ia akan terus berjalan tapi hanya di tempat. Tak ada arah yang hendak ia tuju.
Saya pernah berada di situasi bahwa saya berhak mendapatkan sesuatu, sesuatu yang membuat tenang dan tidur nyenyak.
Seperti kata pepatah, “Apa yang kau tabur dan itu yang bakal kau tuai.”
Fokus utama saya adalah pada kata terakhir itu yang berbentuk. Padahal ketika saya tidak mendapat apa pun dari hal itu juga adalah tuaian itu sendiri. Bedanya, tak ada hasil yang bisa dinikmati saja dan hanya menikmati kehampaan yang membuat saya semakin gelisah.
Lalu, saya membuka Spotify tidak premium di gawai Pixel 6A, yang iklannya seringkali memotong saya dikala sedang mode karaoke itu tapi ya sudah lah ya. Saya lalu lanjut memasang headphone yang busanya sudah terkelupas sebagian dan mengklik lagu Hindia di album Menari dengan Bayangan, yang judulnya Membasuh. Lalu, mendengarkan lirik:
Selama ini/Kunanti/Yang Kuberikan datang berbalik
Sekali lagi, saya berada dalam situasi yang saya sulit menerima keadaan itu dengan lapang dada, dengan tanpa penolakan yang tak masuk akal. Biar kupertebal sedikit, saya sedang berada dalam hubungan asmara yang kalut. Yang sepertinya berhenti di tengah jalan, sebelum mengarungi samudera cinta yang keparat.
Saya merasa sudah memberikan sedikit waktu untuk berkabar dengan wanita yang saya rencanakan hidup bersama setelah dari perantauan yang bangsat ini. Memang, kata Sujiwo Tejo yang saya parafrasekan sendiri dalam suatu siniar di Youtube:
Kalau memperjuangkan cinta itu rasanya tidak pantas. Sebuah kewajiban kita terluka dan bahagia karenanya. Selama itu kau memperjuangkan cinta itu. Kau akan merasa gagal dan kalah perang.
Menurut saya, cinta itu ya transaksional atau take and give. Lo jual, gue beli kata orang Betawi mah. Saya mengamini pendapat itu dan mempraktikannya tapi hasilnya hanya Nice try!
Kalau hanya satu arah saja, ya tidak akan seimbang atau berat sebelah dan nantinya akan tersungkur secepat mungkin. Maka, lagu Hindia lah yang bisa mengobati hati ini dan menjadi pelipur lara dikala menikmati setiap lirik lagunya.
Saya pernah mendengar bahwa jika kau mencintai seseorang, kau juga harus siap dengan patah hati, siap dengan sakit hati. Terima konsekuensi yang sudah kau perbuat dan begitu pun juga dengan sebaliknya yang kau bisa tafsirkan sendiri.
Kembali ke lirik lagunya, ternyata aku memberi dan berharap kembali itu suatu hal yang mustahil. Saya menafsirkan lirik ini dalam perspektif perasaan, tak lebih dari itu. Saya rasa memang seharusnya seperti itu, segala pemberian dariku akan datang berbalik tapi tidak dengan ini. Ada pengecualian soal ini dan terus terang saya luput dari hal tersebut.
Mungkin, saya harus mengimprovisasi lirik itu supaya relevan dengan apa yang sedang saya rasakan ini. Selama ini, Kunanti, Yang kuberikan tak datang berbalik. Begitu?
Pengecut yang Enggan Lari
Mengetahui perasaan yang tak sama-sama suka itu memang menyakitkan. Saling-silang perasaan membuat usia hubungan menjadi panjang dan sehat tentunya. Beberapa kali, untuk masalah ini, beberapa kali saya sudah melewatinya dan masih terjatuh di lubang yang sama. Rasanya, saya masih mengingat chat WhatsApp-nya hanya pada awal kalimat saja, selebihnya saya tak ada energi lagi untuk meneruskan membacanya. Seketika, saya menjadi pengecut dan akan lari perihal yang sama. Saya tak bisa menghadapi itu sendirian. Diri saya, pergi entah ke mana dan begitu pun badan ini mengikutinya dan tak tahu kapan bisa kembali.
Namun, pengecut kali ini. Ia enggan tuk lari dari kenyataan. ia masih berada di tempat yang sama. Bayang-bayang dirinya yang lain mengerubungi dan menertawakannya. Di dalam dirinya, selalu mempledoi perihal dirinya yang tak ingin disudutkan oleh siapa pun termasuk bayang dirinya yang lain itu, Bentuk pembelaan itu adalah hal-hal yang menurut dirinya sudah menjadi tugas utama dalam suatu hubungan; memberi kabar tepat waktu, seperti dalam lirik lagu Hindia berikut:
Cukup besar ‘tuk mengampuni/’Tuk mengasihi/Tanpa memperhitungkan masa yang lalu/Walau kering/Bisakah kita tetap membasuh?
Saya seolah menjadi superior yang maha mengampuni dosa yang diperbuat oleh sang perempuan, yaitu tak memberi kabar dan selalu memperhitungkan masa lalu perihal usahanya meraih sebuah komunikasi yang diimpikan oleh sebagian orang. Kabar itu telah lama mengering dan saya mencoba membasuhnya berkali-kali tapi tetap saja kering, kering dan kering. Di lirik terakhir, kata “kita” rasanya tak cocok dengan situasi saya saat ini. Saya putuskan untuk menghapusnya dengan tip-x dan menggantinya dengan kata “aku” sebab saya yang akhirnya menanggung dan sekaligus membasuh luka sayatan itu sendirian.
Mental pengecut ini, saya tak tahu datang dari mana. Ia merasuki dan mengendalikan kesadaran penuh. Saya tak mampu tuk berterus-terang kepadanya perihal yang saya alami ini. Saya berhenti pada langkah selanjutnya dan memilih diam termenung.
Lalu, saya bertanya-tanya, apakah yang selama ini saya tebar dan tanam itu berbuah tidak sesuai dengan apa yang saya tuai? Atau metode yang saya pakai itu salah dan tidak sesuai standar oleh orang-orang yang biasa lakukan? Atau saya memang salah memilih bibit itu untuk dijadikan tanaman sehingga bisa gagal di tengah jalan?
Pada akir bait lagu Membasuh ini, saya menemukan suatu makna tentang suatu hubungan yang digantung itu tak akan lama; ia akan segera jatuh atau benar-benar diangkat menjadi sepasang kekasih yang dua-arah. Namun, saya akhirnya terjatuh di atas keramik yang retak.