Hapalan Al Fatéhah

Ilustrasi oleh Arini Joesoef, didigitalisasi dan disunting Fadel Muhammad.

Ki Djadjam adalah orang yang sangat religius. Saking religiusnya, ia memiliki empat orang istri, benar-benar meneladani sifat nabi.

Di masa muda, Ki Djadjam adalah seorang pemain akordion di sebuah grup orkes: semacam pengamen keren di masanya yang berkeliling memakai gerobak. Entah bagaimana ceritanya ia belajar akordion, yang jelas untuk ukuran seorang starboy baby-boomer, Ki Djadjam adalah sosok sempurna: punya motor seperti Si Doel, bisa bermain kentrung, akordion, dan seorang supir truk di BUMN Partai Kuning di Cikampek. Begundal. 

Beberapa tahun kemudian, Ki Djadjam meninggalkan gemerlap circle bujang-bujang starboy dan mulai rajin ke masjid. Kawin, nyupir, mampir, jatuh cinta, kawin lagi, menikah siri, kawin lagi, begitu lah sampai kini Ki Djadjam berbaring telungkup sambil mengetes hapalan al fatéhah dari anak-anak dari istri keduanya.

Usia anak-anaknya masih sangat kecil. Ada Ider, Abang, Mamay, dan Juju. Ada juga Lili, Lia, dan si kembar Nana-Nani-Nina.

Semuanya berbaris mengantri nincakan (memijit dengan menginjak punggung) Ki Djadjam.

Yang sudah hapal dan lolos bisa turun dari punggung Ki Djadjam. Mamay yang pintar hapalan dan mengaji tentu jadi yang pertama lolos. Meskipun dengan susah payah terus-terusan mengelap ingusnya dan beberapa kali salah melafalkan fatéhah dengan tartil, tapi Mamay selamat dari sabetan sapu lidi Ki Djadjam.

Mamay sedang sakit, maklum itu bulan November, dan sesuai namanya, ketika bulan-bulan itu berakhiran “-ber”, maka ber lah hujan turun sedang banyak-banyaknya.

“Udah. Apa?”

“Ya, sudah. Mamay turun! Antrean selanjutnya naik!” kata Ki Djadjam.

Di punggung Ki Djadjam kini berdiri Juju yang sebelumnya berdiri di belakang Mamay, karena Mamay lolos hapalan, maka kini giliran Juju yang berada di depan barisan diikuti Abang dan Ider.

“Siapa sekarang?” tanya Ki Djadjam yang masih keenakan karena punggungnya diinjak-injak ketiga bocah-bocah nakal itu.

“Juju, Pa.”

Sok, hayu, Juju! Yang betul makhrajnya”

Suasana hati Juju tidak terlalu bagus malam itu. Sebelumnya ia diledek habis-habisan sampai nangis oleh saudara-saudara se-Bapak-nya sehabis main pengantin-pengantinan. Begini, Juju dipasangkan dengan Atang, anak tetangga yang nakal dan suka berak di celana kalau sedang bermain bersama.

Juju sebetulnya tidak mau dipasangkan dengan Atang untuk berpura-pura berdiri di pelaminan, dipakaikan mahkota daun singkong, dan menyalami semua tamu yang datang. Tapi tidak ada anak laki-laki yang mau berpasangan dengan Juju. Maka, dipanggillah si Atang yang sebelumnya tak pernah diajak bermain bersama mereka.

“Atang, Atang! Sini!” teriak Lili, saudara Juju yang lain.

Atang si anak yang tidak pernah diajak main oleh semua orang seusianya itu pun sumringah dan sangat bahagia.

“Atang! Sini main hajat-hajatan. Kamu sama Juju ceritanya nikah, ya.” kata Lili menjelaskan sambil mengarahkan posisi Atang harus berdiri dan menyalami anak-anak lain yang berlaku sebagai tamu undangan.

Sembari Lili menjelaskan kepada Atang, anak-anak Ki Djadjam yang lain memasangkan mahkota daun singkong dan mengangkat properti pelaminan yang sudah dibuat mereka seadanya dari ranting-ranting dan daun-daun bekas yang jatuh di kebun. Abang yang iseng dan sudah bosan bermain pengantin-pengantinan itu pun mengangkut pagar-pagar bohongan sambil menggerutu. 

Semuanya sudah siap. Atang dan Juju bersanding berdua dan mulai menyalami tamu undangan yang datang sambil sesekali menerima daun yang dalam imajinasi mereka adalah amplop. 

Lalu, Abang pun nyeletuk berkata, “Hahah! Juju kalau punya anak sama Atang nanti nama anaknya jadi Bin Atang!” 

Tawa pecah dari bocah-bocah itu termasuk Atang. Juju yang sedari awal tidak ingin berpasangan dengan Atang lalu mulai kesal dan berlari pulang. Juju berlari sambil menangis meninggalkan saudara-saudaranya yang masih tertawa sampai berguling-guling. 

Juju sampai di rumah dan menangis sejadi-jadinya, ia mengadu pada Ki Djadjam. Sedangkan anak-anak yang lain mulai bermain. Yang perempuan bermain lompat jengkal, sedangkan Abang, Lili, Ucup, dan semua anak laki-laki Ki Djadjam mulai hambur ke sawah untuk menjelajah sambil mencari belut dan tutut. Ternyata mereka semua sudah bosan bermain pengantin-pengantinan. 

Lalu waktu sedang asyik bermain, Ki Djadjam diikuti dengan Juju mulai berteriak mencari si Abang. “Mana si Abang?!” kata Ki Djadjam dengan wajah marah karena anak kesayangannya diisengi anaknya yang lain. 

Si Abang pun panik. Dalam pikirannya, sudah tentu ia akan diomeli Ki Djadjam karena membuat nangis si Juju. 

Lalu ia pun menghampiri Ki Djadjam dan mulai diomeli sambil dijewer. Semua anak lalu pulang dan si Abang dengan wajah tebalnya masih meledek Juju. 

“Ahahah Bin Atang!” Semua anak-anak itu pun tertawa lagi dan Juju kembali berlari. 

“Sok hayu!”

Juju mulai melafalkan ta’awudz.

Auzubillahiminassyaitoonirrojim…”

Abang yang berdiri di belakangnya masih dendam karena ia diomeli dan dijewer Ki Djadjam tadi mulai tertawa-tawa kecil. “Ahahah, Bin Atang.”

Bismillahirrahmaaaanirrahim… alhamdulillahirabbil ‘aaaaalamin…”

Juju pun sambil kesal melanjutkan bacaannya dan mulai memokuskan diri dengan melihat wajah Mamay yang berdiri di depannya.

Huacchim! Mamay bersin dan ke luarlah ingus dari hidungnya. Juju melihat ingus ke luar dari hidung Mamay begitu panjangnya tanpa Mamay sadari.

Sirooothalladzina an ‘amta ‘alaihim, gurawil maghduuu bi ‘alaihim”

Ki Djadjam mulai berpikir ada yang salah.

Gurawil?!”

“Hahahahaaha!” pecahlah kembali tawa anak-anak yang ada di ruangan itu.

Juju kembali menangis dan kali ini semua anak yang tertawa dijewer oleh Ki Djadjam, termasuk Mamay.

 

*Lima puluh tahun berlalu, saat ini Juju sedang membaca cerita ini dengan suaminya, Atang.

 

 

Author

  • Arini Joesoef

    Menulis puisi, prosa, melukis, dan bermusik tipis-tipis. Bukunya sudah 4, As Blue As You (2022), Jayanti (2023), Notes of The Lost Sheep (2024). dan Yusuf dan Sapi Betina (2025). Suka pamer dan suka bikin pameran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like