Adam Tanpa Hawa

Setelah sekian lama saling mencari, akhirnya Hawa berada tepat di hadapan Adam. Mereka berdiri di puncak bukit kecil pada bentang bumi bagian timur. Butiran pasir yang beterbangan menerpa kulit, seolah memberi restu pada keduanya untuk berlama-lama menetap. Semburat cahaya jingga dari matahari yang jatuh perlahan pada punggung bebatuan berlumut di ufuk barat, seolah menyertai Adam memeluk Hawa erat-erat, membantu melepas rindu yang tertanam selama dua ratus tahun. Seekor gagak yang melintasi langit pun ikut tersenyum, ia turut menjadi saksi perjumpaan sakral tersebut.

Wajah Hawa masih memancarkan kecantikan yang sama seperti terakhir kali Adam menatapnya di Surga. Ia mengenakan kain wol hasil tenun sederhana, yang melindungi tubuhnya dari terik matahari dan dinginnya angin malam. Sedangkan, Adam tampak sebaliknya. Ia terlihat lusuh, terutama karena kumis dan janggutnya semakin lebat, meski Jibril kerap membantu memangkasnya. Tubuhnya masih terbalut dedaunan pohon tin yang dahulu diperoleh dari Surga, teruntai rapi walaupun daunnya sudah mengering di beberapa bagian.

Kedua tangan Adam memegangi pipi Hawa, ia berucap lirih. “Kau bagai rembulan yang hilang di tengah malam-malamku yang penuh kesunyian.”

“Aku berjalan milyaran langkah dari tenggara demi bisa melihatmu kembali. Kini kau berada di hadapanku, dan ini bagaikan mimpi.” Hawa menjawabnya diiringi tangis haru dan senyuman yang membuat seisi makhluk di muka bumi luluh terkesima.

Setelah pertemuan itu, Adam dan Hawa hidup bersama. Mereka mendirikan sebuah pondok kecil di tepi telaga dari batang pohon gandasoli. Jibril membantu Adam menanam gandum di sekitar pondok, dan mengajarinya membaca musim, hingga cara mencari tanah yang subur. Di sisi lain, Hawa banyak belajar dari bumi, tempat yang kini dipijaknya. Ia menganyam serat, menenun kain, dan menyimpan biji-bijian agar cukup untuk hari-hari panjang. Ia tahu kapan harus menyalakan api sebelum malam tiba, dan bagaimana menutup celah pondok saat dinginnya angin menyusup.

Sesekali, pada pagi buta, mereka pergi ke hutan untuk berburu aurochs. Hawa berjalan lebih sigap, membaca jejak dan arah angin, sementara Adam melangkah lebih hati-hati, ia terpogoh-pogoh dalam menyesuaikan diri bahwa bumi bukanlah tempat yang menuruti kehendak, melainkan tanah yang harus dihadapi dengan kesabaran dan usaha.

Pada malam hari, Hawa sering mendapati Adam terdiam, menatap langit seolah mencari cahaya yang pernah mengelilinginya di Surga. Bagi Adam, setiap jengkal bumi tidak mampu menandingi tempat tinggalnya yang lama. Ketika ingin makan, mereka tinggal memetik buah-buahan yang tersedia di Taman Sriwedari; taman indah dengan air mancur besar yang permukaanya terbuat dari emas dan zamrud, sehingga berpendar cahaya berkilauan yang tak pernah padam. Tak jauh dari sana, ada sungai yang berisi aliran air susu, dengan kawanan angsa putih yang menyusurinya tiap sore. Malaikat dan Bidadari senantiasa hadir untuk memenuhi setiap kebutuhan Adam dan Hawa tanpa diminta.

“Kita adalah penghuni surga, dan aku yakin bisa kembali kesana, Hawa. Aku rindu segala keajaibannya.” Ujar Adam pada suatu malam.

Hawa memahami kerinduan suaminya. Namun jauh di lubuk hatinya, ia tak ingin kembali ke Surga, setidaknya tidak untuk saat ini. Baginya, segala kemudahan di sana justru menciptakan jarak di antara mereka. Di Surga, hari-hari berlalu tanpa upaya, mereka hanya bermain-main dan larut dalam kesenangan masing-masing. Hawa merasa hidupnya kala itu hanya berkisar seputar meminta dan mengabulkan, sebuah keberlimpahan yang indah namun tak menumbuhkan keterikatan. Tak ada yang perlu dirawat, tak ada yang perlu dijaga, tak ada yang perlu dipertahankan.

Lain halnya dengan kehidupan mereka di Bumi. Di sini, perasaan kasih lahir perlahan, tumbuh dari keinginan untuk menjaga dan merawat satu sama lain. Mereka belajar berbagi rasa, senang, sedih, cemas dan takut. Tapi, justru dalam keterbatasan itulah Hawa menemukan makna hidup bersama.

Hampir satu tahun sejak pertemuannya dengan Adam, Hawa melahirkan sepasang anak kembar, Qabil dan Iqlima. Sejak hari itu, Hawa berbagi peran bersama Bumi dalam merawat mereka dengan sukacita. Ia memberinya air susu, menimangnya dengan lembut, menenangkan tangis dan menuntun nafas mereka. Bumi pun ikut serta, menyediakan bahan pangan dari tanah, air bersih dari telaga, dan udara sejuk dari pepohonan gandasoli yang menaungi pondok mereka. Setiap langkah Hawa dan setiap hembusan angin seolah bersinergi, bahu-membahu dalam merawat dan menjaga kehidupan mungil yang kini hadir di dekapannya.

Namun, Adam tidak benar-benar ikut dalam ritme itu. Selama Hawa mengandung, ia sering terlihat bingung dan tak tahu harus berbuat apa. Ia tidak membaca tanda-tanda kehamilan, tidak mempelajari rasa sakit atau perubahan yang dialami Hawa, bahkan tidak belajar cara menjaga kesehatan janin. Segala hal ia ketahui hanya dari Hawa, seolah seluruh pengetahuan tentang kehamilan mengalir dari satu sumber saja.

Pada suatu kesempatan, Hawa mencoba membicarakannya pada Adam.

“Aku merasa semua beban berada di pundakku jika setiap hal engkau ketahui dariku. Kalau begini terus, aku merasa kau tidak benar-benar bertanggung jawab atas anak kita.”

Adam menatapnya keheranan. “Lalu apa yang kau inginkan dariku?”

Hawa menahan nafas dalam-dalam, berusaha memilih kata dengan hati-hati agar tidak menyinggung suaminya. “Aku berharap kau juga belajar mengenal kehamilan, memahami persalinan, mencari tahu tentang anak-anak kita. Kita bisa saling berbagi pengetahuan, bukan menunggu semuanya datang dari satu sisi. Tuhan memberi kita akal untuk berpikir, Adam. Gunakanlah. Itu akan membuatku tidak merasa sendirian menghadapi semua ini.”

Adam mengerutkan kening. Wajahnya memerah. Ia meninggikan suaranya.

“Aku tidak punya waktu untuk hal seperti itu, Hawa. Aku lelah berburu seharian. Sedangkan kau hanya memetik buah-buahan, mengumpulkan biji-bijian dan menyiram ladang. Kau punya banyak waktu untuk itu. Kau lebih tahu caranya merawat mereka dibandingkan diriku.”

Setelah menyelesaikan kalimat terakhirnya, Adam kemudian berlalu pergi, meninggalkan Hawa yang terdiam seribu bahasa di pondok, bersama nyeri yang terasa di sekujur badan dan rasa gelisah yang menjalar.

***

Bulan demi bulan berlalu, Qabil dan Iqlima tumbuh menjadi bayi-bayi yang manis. Meski tanpa keterlibatan Adam, Hawa tetap merawat keduanya dengan penuh ketelatenan. Ia memastikan anak-anaknya tumbuh sehat, tercukupi, dan aman tak kurang satu apa pun yang berada dalam kemampuannya.

Suatu hari, menjelang datangnya musim dingin, Hawa berencana mengumpulkan biji-bijian untuk disimpan dan ditanam kembali setelah musim berlalu. Tubuhnya terasa lelah, kedua bayi itu terasa terlalu berat untuk terus digendong. Dengan raut wajah ragu, ia meminta bantuan Adam.

“Adam,” katanya pelan, “aku hendak mengumpulkan biji-bijian sebelum musim dingin tiba. Bisakah kau menjaga Qabil dan Iqlima sementara aku pergi?”

Adam menghela napas. “Aku tak tahu cara mengurusnya. Mereka selalu menangis jika bersamaku. Bawa saja mereka seperti biasanya.”

“Hari ini aku terlalu lelah untuk menggendong mereka,” jawab Hawa. “Atau kau mau menggantikanku mengumpulkan biji-bijian?”

Wajah Adam mengeras. “Kau mulai hitung-hitungan beban kerja? Jangan kau pikir kau saja yang lelah. Aku juga lelah.”

Hawa memandang Adam penuh rasa kecewa, ia mengambil jeda panjang, sebelum menjawabnya. “Ini bukan soal siapa yang lebih banyak bekerja, Adam. Ini soal tanggung jawab. Jika sedari awal kau mau memikulnya, kau tak perlu terus menggantungkan keperawatan mereka padaku. Kita pernah membicarakan hal ini.”

“Jadi sekarang kau tak mau mengurus mereka?” potong Adam.

“Berhenti mengaburkan ucapanku,” sahut Hawa. “Aku hanya membutuhkan kehadiranmu untuk berbagi tanggung jawab. Jika bukan untukku, lakukanlah demi anak-anak kita.”

Adam menoleh ke arah langit-langit. “Kau lebih paham soal bumi. Ini bukan kehidupan yang kuinginkan, Hawa. Tempatku di Surga. Di sana semuanya sudah disediakan. Aku tak perlu bersusah payah seperti ini.”

“Aku pun dulu tidak tahu harus bagaimana,” balas Hawa, suaranya semakin bergetar menahan gejolak di dadanya. “Tapi aku belajar, karena aku ingin memastikan anak-anakku tumbuh dengan baik. Namun ketika aku mulai tahu banyak hal, aku tak melihatmu tergerak untuk mengimbanginya. Kau tak pernah berinisiatif, kau hanya menungguku memberitahumu. Ingat, mereka anak kita, bukan anakku seorang.”

Adam menatapnya tajam. “Ingat juga bahwa aku manusia pertama. Engkau berasal dari tulang rusukku. Jadi jangan lancang.”

Kalimat yang dilontarkan Adam lebih dari cukup untuk membuat air mata Hawa mengalir.

“Aku tidak sedang menyudutkanmu. Tolong lihat gambaran besarnya. Aku hanya membutuhkanmu hadir.” Ucap Hawa, dengan air mata semakin menggenang.

Adam tertawa pendek, namun terdengar pahit. “Kau bicara seolah yang paling sempurna di antara kita. Padahal semua kesulitan ini bermula darimu. Kita tak akan ada di Bumi jika kau tidak tergoda rayuan iblis untuk memakan buah khuldi.”

Hawa tertunduk, kemudian menjawab pelan. “Kau selalu lari dari masalah, bahkan tak mampu menyebut kalau buah khuldi adalah kesalahanmu juga, sehingga perlu mengarang cerita seperti itu. Padahal kita mendengarnya bersama, memakannya bersama, dan terjerat bersama dalam bujuk rayunya.”

Kata-kata itu membuat Adam murka. Amarahnya meluap tanpa kendali. “Beraninya kau menentangku. Keterlaluan!”

Ia berbalik meraih kapak, lalu melangkah keluar pondok. Tanpa menoleh lagi, ia mulai menebangi pohon gandasoli satu-persatu. Denting kapak menghantam batang kayu memecah kesunyian hutan, daun-daun runtuh, dan tanah bergemuruh.

“Apa yang sedang kau lakukan?” Hawa bertanya sambil terengah-engah.

“Aku akan kembali ke Surga, aku makhluk yang sempurna, tak sepertimu, aku tidak akan terjerumus bujuk rayu iblis. Bumi hukuman untukmu, bukan untukku.” Adam membalasnya disertai tatapan angkuh.

Hawa melihat sekelilingnya dan memberikan peringatan. “Lihatlah apa yang kau lakukan sekarang. Bahkan untuk mengejar Surga pun, kau harus menggunduli hutan. Seolah jalan kembali hanya bisa dibangun dengan menghancurkan apa yang telah Tuhan beri agar kita tetap hidup.”

Adam tak mengindahkan perkataan Hawa. Ia tetap menebangi pohon, lalu menyusun batangnya satu-persatu membentuk undakan anak tangga yang mengarah ke langit. Setelah genap dua puluh delapan hari melakukannya, Adam merasa putus asa. Tak ada apapun di ujung anak tangga paling atas, hanya tersisa gumpalan awal yang terasa semakin dekat. Namun ia tak mau menyerah, seketika ia mulai menjerit sekencang-kencangnya meminta Jibril segera membukakan pintu menuju surga, suaranya nyaring terdengar ke empat penjuru mata angin. Tapi langit tetap membisu, tak ada celah terbuka, atau cahaya yang turun.

Menyadari usahanya selama ini sia-sia, Adam semakin marah. Ia berjalan mundur dengan langkah cepat tak beraturan. Pada anak tangga ke sembilan belas ribu, ia kehilangan keseimbangan. Adam terjerembab, tubuhnya meluncur jatuh, menghantam kayu-kayu kering, hingga akhirnya tersungkur ke tanah.

Ketika ia siuman, langit telah berubah warna. Awan kelabu menggantung rendah, angin berhembus dingin menggigit tulang. Musim dingin telah tiba. Adam bangkit tertatih. Ia memandangi sekelilingnya dengan wajah pucat pasi, dan baru saat itulah ia benar-benar melihat akibat dari perbuatannya. Hutan telah lenyap. Tak ada lagi pepohonan yang menahan angin, tak ada dedaunan yang menyimpan embun, tak ada tanah gembur yang menjanjikan kehidupan, dan tidak ada lagi Hawa di sana. Bumi tampak telanjang, retak, gersang dan membeku. Di tengah hamparan tandus itu, Adam berlutut dan tertunduk lesu. Jauh dari lubuk hatinya, ia menyadari bahwa tangga yang ia bangun bukanlah jalan menuju langit, melainkan jurang yang menjauhkannya dari kehidupan.

Author

  • Andika Budiargo

    Merayakan film, mengolok Liverpool. Pengagum permanen FredelidaGM.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like