Saya Muak sama Orang-Orang dengan Mentalitas Poskolonial yang Menghina Dangdut

Tulisan terkait: 

Bawa Teman LN Jalan di Purwakarta, Saya Risih Diginiin

Yang Patut Kita Pelajari dari Ha-Kyoon

 

Prolog

“Ih, bule! Bule!”

Lalu saya memutar bola mata saya karena malas mendengar kembali kata “Bule.”

Dua tulisan saya sebelumnya memuat kekesalan saya terhadap dampak kolonialisme yang sukses besar membentuk mental inferioritas kita sendiri sebagai warga lokal, sebagai masyarakat. Saya tinggal dalam keluarga yang multirasial, dan barang tentu multikultur. Namun, hal itu tentu tidak membebaskan saya dari dosa-dosa lain terhadap satu suku tertentu. Sebutlah, Bapak saya termasuk orang yang bercandanya kadang gak tau tempat, seperti saya. Eh, beda. Saya mau bercanda atau enggak kadang emang gak tahu tempat aja 🙂

Seumur hidup, Kakek saya hanya membuat kutukan begini: “Anak-anakan aing mah euweuh anu menang kawin jeung polisi atawa tentara! Euweuh nu menang kawin jeung (urang) Jawa!” 

Maka ketika saya menyebut nama pasangan saya yang kentara sekali unsur bahasa Jawanya, beliau langsung mengambil napas panjang sambil bilang, “Sia mah siga nu teu inget ceuk Aki maneh wae! Pokokna euweuh kawin jeung Jawa!” 

Lalu, ketika Bapak saya terjebak kemacetan atau mendengar knalpot-knalpot brong pada saat musim mudik, dia otomatis akan berteriak “Yeuh! Jawa!” 

Di satu sisi, yang saya tahu dia memang dikalahkan secara cinta oleh laki-laki yang berasal dari Jawa Tengah. Sisanya, saya tidak tahu. Namun, apa pun alasannya saya rasa memang tidak pantas saja menggeneralisir suatu suku tertentu. Aib? Ya sebut saja begitu, tapi barangkali ini lah gunanya saya menulis. Mnimal menghapus dan menghentikan akar-akar rasisme keluarga Bapak saya, yang bikin mampus dan bagaikan menjilat ludah sendiri tentu saja: saya berkencan dengan seorang yang berwajah Tiongkok, bernama Cina, dan fasih berbahasa Minang.

Kombinasi sempurna untuk keluarga Bapak saya menghujatnya bukan?

 

Dangdut = Norak? Ah affah iyah?

Baru-baru ini lantas, saya terlibat satu percakapan, yang saya kurang paham sendiri konteksnya:

“Dangdut?” tanya saya waktu saya makin gak ngerti kaitan dangdut dan postingan Instagram, I mean, dangdut’s a music genre, right? 

I do really aware ada beberapa fashion style dan cara berpakaian yang bersumber pada zangreu musik, tapi “dangdut” dalam kaitannya dengan Instagram? lalu, lawan bicara saya menjawab dengan singkat.

“Dangdut = norak.”

Wow. Menarik.

Beberapa waktu yang lalu saya mengobrol dengan Aim di podcast ini. Kami membahas sedikit soal dangdut, lah.

Saya datang ke podcast itu kebetulan tak lama setelah saya menonton ulang film Mendadak Dangdut-nya Titi Kamal. Ulasan saya terkait film tersebut bisa di baca di sini ya.

Jujur saja, saya bisa jadi punya sentimen pribadi karena saya tahu betul penyebutan “dangdut = norak” dilakukan dengan sadar oleh orang yang punya privileges yang mustahil didapatkan orang lain.

Hal ini kemudian menjadi “sedikit” lebih menyakiti saya ketika:

(1) Orang yang memiliki akses pendidkan yang lebih baik, menjadian “genre” di luar kegandrungannya sebagai sesuatu yang norak, yang nilainya seolah-olah hanya bisa ditentukan oleh orang-orang dari kelas yang sama dengan dirinya (dalam konteks ini masyarakat kelas atas alias high class society) dan well-educated. Lantas, benarkah segala akses dan privileges itu pada akhirnya digunakan untuk menindas? Kemudian, meminjam kalimat Widji Thukul, saya bernyanyi: “Apa guna punya ilmu tinggi?” Sisanya, sila lanjut sendiri.

(2) Tingkatan hierarkis manusia yang diwariskan kolonial. Tentu, tanpa perbedaan ras dan suku pun, bakal selalu ada orang yang berpikir bahwa dirinya lebih baik daripada orang lain, dan parahnya, yang ngomong “dangdut = norak” berasal dari kelompok rentan secara ras juga. Saya lalu ber-istigfar di dalam hati~ Gimana, ya? Masalah utamanya, sifat-sifat seperti ini seringkali diikuti oleh beberapa sifat buruk lainnya seperti:

(1) Memunculkan perasaan superior terhadap budaya barat (yang seperti dikatakan Nawal El Sadaawi bahkan, penyebutan Barat itu berdasarkan apa? memangnya bumi ada centernya?) dan alih-alih membagikan ilmu yang dia dapatkan dari segala kemudahan aksesnya, orang-orang semacam ini justru menjadi orang yang sangat suka mengeksklusifkan diri.

(2) Sangat rajin playing victim. Seperti begini, ya. Saya menangkap kalimat “dangdut = norak” sebagai sesuatu yang intimidatif parah. Secara, dangdut kan dekat sekali kaitannya dengan lokalitas saya, masyarakat Pantura, yang selama ini dikerubungi isu-isu prostitusi, pernikahan anak di bawah umur (yang dipaksakan), pemerkosaan, dan terbatasnya akses pendidikan. Dangdut, dengan segala perubahan dan perkembangannya kemudian menjadi identitas yang melekat dengan masyarakat pesisir Pantai Utara, yang secara visual pun gak menarik-menarik banget.

Soal lirik-lirik lagu dangdut yang seksis akan kita bahas di sini.

 

Lirik Dangdut yang Lekat dengan Seksisme

Soal lirik-lirik lagu dangdut yang kerap dituding seksis, saya kira tidak bisa dibaca ahistoris. Terlebih, apabila dilepaskan dari konteks lokalitas tempat dangdut (khususnya dangdut Pantura) yang tentu saja tumbuh dengan segala realitas sosialnya sendiri.

Dangdut Pantura lahir dari masyarakat pesisir yang hidup dalam kondisi serba timpang yang tentu saja tidak akan dirasakan high-class-society of Jekardah-Big-City: akses pendidikan terbatas, ekonomi yang rapuh dan musiman, perempuan yang rawan dieksploitasi, serta ruang hidup yang nyaris selalu disebut “kumuh”, “liar”, dan “tidak beradab” oleh pusat (sebut saja Jakarta).

Dalam situasi semacam itu, seksualitas dalam dangdut sering kali bukan semata ekspresi banal atau “norak”, melainkan bahasa yang memang tersedia saja, karena ya mau bahas apa? Politik? Feminisme? Mengerti rakyatnya? Tidak semua!

Kalaupun ada yang mengerti, apa kemudian bisa diterima masyarakat lainnya? Belum tentu. Meskipun memang, sangat disayangkan tentu saja, bahasa yang muncul dalam lirik-lirik dangdut itu paling mungkin digunakan untuk merespons hidup yang keras, maskulinitas yang timpang, dan segala bentuk relasi kuasa.

Seksisme dalam lirik-lirik dangdut tidak berdiri sendiri sebagai dosa kultural saya rasa. Secara terstruktur kita semua bisa setuju bahwa lirik-lirik yang berkembang (terlebih dalam masyarakat Pantura) tentu berkelindan dengan sejarah pemiskinan struktural, subjektivikasi tubuh perempuan, dan absennya negara dalam melindungi warganya di wilayah pesisir karena hanya memikirkan Jakarta.

Maka, menyederhanakan dangdut sebagai “musik norak” di depan warga Pantura yang rajin nyinyir ini sama saja dengan memanjangkan umur logika kolonial lama: bahwa budaya kelas bawah hanya sah bila sudah dimurnikan, dirapikan, dan disetujui oleh selera kelas menengah-atas yang berpendidikan dengan segala kemewahan dan kemudahan dalam hidupnya.

Kritik terhadap seksisme dangdut tentu penting, tapi jangan lupa arahkan juga kritiknya pada struktur yang melahirkannya. Gak usah mengafiliasikan dangdut dengan ke-norak-an, coba dong berani berpikir secara intelektual untuk mengakui bahwa dangdut adalah arsip sosial, catatan tubuh, dan suara dari mereka yang sejak awal tidak pernah diberi kemewahan untuk berbicara dengan bahasa yang dianggap “pantas”. Kan bacaanmu internasyenel-dabest-western semua.

Meskipun pada akhirnya seksisme itu tidak dapat disetujui dan jelas tidak layak untuk terus-menerus dinormalisasi, gini saja berarti deh: dengan semua yang kamu punya itu,  sejauh mana kamu benar-benar terlibat dalam upaya membuka akses pendidikan yang lebih baik bagi masyarakat Pantura, ketimbang sibuk menjadi polisi grammar yang berbasis di Jakarta? Yang kerjaannya mengoreksi bahasa, selera, dan ekspresi budaya sambil duduk di rumah yang nyaman dan bebas banjir tanpa pernah menanggung konsekuensi material dari ketimpangan yang kamu komentari?

Alih-alih membongkar struktur yang membuat ketimpangan yang terus diwariskan dari generasi ke generasi, banyak orang malah lebih sering merasa “paling berbudaya” “paling modern” padahal perasaannya itu didasari oleh kesombongan mempertahankan jarak kelas.

Sedikit Ingatan Soal Dangdut dan Perubahan-Perubahannya 

Jika saya ingat-ingat, sebetulnya sejarah dangdut sendiri menunjukkan adanya konstruksi kelas dan kuasa yang terus berubah. Pada fase tertentu, dangdut dipoles agar terdengar “tertib” dan dapat diterima negara maupun kelas menengah. Let’s just say (anjay ka mana atuh let’s just say) kita mengenal figur seperti Rhoma Irama dengan lirik-lirik maskulin-religiusnya, lalu penyanyi perempuan seperti Ikke Nurjanah yang menghadirkan dangdut dengan busana tertutup, dan citra kesantunan yang aman bagi televisi nasional. Dangdut dalam fase ini diposisikan sebagai hiburan rakyat yang sudah dijinakkan dan “disesuaikan pusat”.

Namun sejarah tidak pernah berhenti di situ. Saya kemudian beranjak sedikit lebih besar dan mengingat ramai sekali pencekalan terhadap Inul Daratista dengan goyangan dan aksi panggungnya yang dinilai “berlebihan”, “tidak bermoral”, dan “merusak generasi”. Kemudian Dewi Persik mulai hadir dan semakin rajin bermain sinetron yang menampilkan juga goyangan-goyangan gak jelasnya 🙁

Saya tidak menampik apabila fase ini dinilai sebagai “kemunduran”, sebab yang pada saat itu laku ditonton di televisi kan memang tayangan seperti ini.

Dengan demikian, saya kira perdebatan soal seksisme dalam dangdut tidak bisa berhenti pada soal “betapa norak dan amoralnya goyangan penyanyi-penyanyi dangdut itu”, tapi dangdut juga harus dibaca sebagai sejarah tarik-ulur antara negara dan industri, moralitas, dan lagi-lagi relasi antar-kelasnya. Dangdut kan bukan genre musik yang bisa diperingkat seenaknya oleh si paling beradab.

Lagian serius, deh kenapa bisa begitu mudah menghormati musik-musik Korea, hanbok, atau segala sesuatu yang berbau Jepang sebagai praktik “mempertahankan tradisi” dan “berbudaya”, sementara dangdut (which is the music of my country)  yang merupakan pengalaman hidup masyarakat lokal justru diperlakukan sebagai sesuatu yang norak? Fak lah kata guel teh!

Sedih ya? Korea dan Jepang dibaca sebagai bangsa yang “maju” sehingga tradisinya dianggap elegan, sedangkan dangdut, karena melekat pada kelas bawah dan wilayah pinggiran, diposisikan sebagai sesuatu yang liyan dan norak!

Jujur saja, saya lebih setuju jika musisi Gen Z ini hari yang terkenal dengan lagunya yang sering disebut “lagu kucing birahi” merupakan dosa seksisme. Sebab dengan segala pengetahuan yang tentu bisa diakses di zaman ini, musisi-musisi muda entu malah memilih lirik yang gaung seksismenya terdengar secara lantang.

Kesimpulan 

Pada akhirnya, selama sifatmu masih merendahkan budaya lain demi terlihat “modern”, selama itu pula mental inferioritas hasil kolonialisme akan terus hidup. Kemudian, daripada sibuk menyebutnya norak, kayaknya saya malah jadi harus nanya,

“Memangnya kamu merasa paling oke?”

Sebab pada akhirnya, yang benar-benar memalukan dan norak kan bukan dangdut, tapi mental poskol dan kesombongan kelas yang merasa paling berbudaya tanpa lihat realitas yang ada dan menjadi fakta. Slebew!

Author

  • Arini Joesoef

    Menulis puisi, prosa, melukis, dan bermusik tipis-tipis. Bukunya sudah 4, As Blue As You (2022), Jayanti (2023), Notes of The Lost Sheep (2024). dan Yusuf dan Sapi Betina (2025). Suka pamer dan suka bikin pameran.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like