

Pada bagian pembukanya, buku ini memberikan sebuah petikan kisah seorang perempuan yang baru selesai melaksanakan operasi lasik, yang kemudian malah membuat hidupnya “tidak lebih baik” seperti yang ia bayangkan.
Perempuan itu mengira ia akan menjadi lebih “dicintai” karena ia merasa “lebih cantik” tanpa kacamata, tapi pasangannya justru melihatnya sama saja. Sebetulnya kompleks juga sih, tapi intinya:
“Kalau kita melakukan sesuatu hanya karena ingin dinilai “lebih” sama orang lain, kayaknya itu bakal jadi hal yang sia-sia, deh.”
Pasangan yang benar mencintai kita kan punya kecenderungan untuk tidak menuntut apa-apa, ya. Lagipula, kalau tidak merasa cukup dengan diri kita saat ini, seterusnya kita gak akan pernah merasa cukup. Terlebih, kalau “cukup”nya itu ditentukan berdasarkan penilaian orang lain. Padahal, kita tahu dan sadar bahwa kita pasti gak akan bisa terus-terusan dikelilingi orang karena circle bisa jadi berkurang dan berubah, begitupun “kecantikan” yang akan berubah standar dan trennya. Dalam hal ini, saya patut bersyukur karena dikelilingi orang-orang yang tidak pernah membuat diri saya merasa kurang. Saya lalu menyadari bahwa dikelilingi orang-orang semacam itu adalah anugerah dan privilege untuk saya.
Hadirnya buku The Art of Spending Money (pada konteks ini) membuka kesadaran itu untuk orang-orang yang mungkin tidak dapat anugerah semacam saya.
Namun secara umum, saya harus mengakui bahwa buku ini tidak dirancang untuk kaum kelas menengah-bawah seperti saya, apalagi kalau kamu kaum kelas menengah-bawah dan WNI. Hehe.
Ya memang, sih. Judulnya saja The Art of Spending Money, kalau tidak ada money-nya ya tidak ada yang bisa di-spending, kan. Membaca buku ini saya merasa diledek, dan gak papa. Sebab seperti yang saya bilang sebelumnya, buku ini memang bukan untuk semua orang.
Hal itu tentu tidak membuat saya lantas menghentikan pembacaan saya atas buku ini, dan ada beberapa hal menarik yang saya rasa memang perlu untuk saya tulis saja.
Filosofi Ikan Guppy dan Asal-Usul YOLO
Bagian paling menarik yang menyita sebagian besar perhatian saya terhadap buku ini adalah asal-usul prinsip YOLO (you only live once), yang belakangan juga santer saya dengar dan dijadikan prinsip orang-orang seusia saya masa kini, dan tentu sedikit-banyak saya rasa berdampak pada habit konsumerisme yang gak jelas itu.
The Art of Spending Money memberikan informasi dan siklus hidup ikan guppy dan ikan hiu Greenland.
Secara tampilan, ikan guppy merupakan ikan yang imut, lllucu, berwarna ngejreng, dan itu membuatnya mudah dimangsa oleh semua makhluk di habitat aslinya.
It’s everyone favorite lunch. How does a species under so much threat avoid extinction? (2025: 110)
Berdasarkan posisi yang tidak pernah aman itu, ikan guppy menjadi sangat sibuk begitu ia lahir. Dalam usia tujuh minggu, ikan guppy bahkan sudah bisa bereproduksi, dan dalam waktu tigapuluh hari, ia sudah bisa beranak. Rentang 6 bulan, induk guppy mati dimangsa atau mati karena habitat.
Di luar “takdir” dan “ya begitu lah siklusnya”, kesadaran akan hidup yang berbahaya itulah yang menjadikan ikan guppy jadi seolah-olah mendayagunakan energinya untuk berkembang biak segera setelah mereka lahir. ‘
They grow ASAP, then devote a huge portion of their resources to nourishing their young that leaves little energy left to care for themselves. (2025: 110)
Which is surprising me, inilah awal mula the ultimate YOLO life philosophy!
Lalu, siklus hidup guppy ini dibandingkan dengan hiu Greenland, yang secara pertumbuhan dan alur hidup justru “sangat berbeda” dengan ikan guppy tadi.
Saya juga baru tahu kalau misalnya hiu Greenland ini termasuk yang cukup lambat tumbuh-kembangnya. Sure! Bahkan, hiu Greenland baru mencapai kematangan seksual di usia 150 tahun, bahkan bisa lebih. Bukan telat puber seperti RK, tapi ya memang begitu timelinenya.
Usia terpanjang yang dicapai hiu Greenland juga bukan main, mereka bisa hidup sampai usia 5.000 tahun malah. Anjir teu kabayang amun jadi hiu Greenland. Misal beli kue ke Holland Bakery (yang saudaranya Ardi Bakrie itu),
“Teh, beli kue ultah sama lilinnya.”
“Oh iya. Lilinnya mau yang berapa, Teh?”
“Lilinnya yang angka 5 satu, yang angka 0 tiga, Teh. Biar 5.000.”
Di satu sisi, berarti hiu Greenland meman sebegitu pelannya untuk tumbuh dan mencapai kematangan tubuh, dan indah sekali hidupnya tidak punya pemangsa alami. Sebebas itu, kan.
There are so many risks lurking. “Don’t even bother trying to plan for the future” for guppies, but for Greenland sharks, “Your future is clear and foreseeable-plan away with confidence.” (2025: 111)
Most animals are masters at this balance, allocating resources between “invest for the future” and “live for today” as efficiently as possible. (2025: 111)
Ikan Guppy, Hiu Greenland, dan Kita Semua
Anggaplah begini. Guppy adalah masyarakat lower-middle class yang hidup dengan ketidakpastian masa depan, ancaman-ancaman yang dibuat negaranya sendiri, dan inflasi. Sedangkan hiu Greenland adalah masyarakat upper-class yang tidak pernah tersentuh krisis iklim, kenaikan pajak, dan inflasi.
Pernyataan selanjutnya kemudian, dalam kehidupan di Indonesia ini, masyarakat kita (Indonesia) tidak terbagi menjadi dua kelompok: guppy dan hiu saja.
Tapi lebih dari itu, kelas menengah-bawah akan sangat mungkin menjadi gupi yang usianya sepanjang hiu Greenland: hidup sulit, mati lebih sulit.
Potret The Grass is Always Greener on The Other Side
If you want to be proud if your sccess and display it with nice stuff, make it most visible to those whose respect and adnuration you desire the most. (2025: 32)
When you envy someone, remember that the picture you have of their life is almost always incomplete (2025: 49)
Everyone is jealous of what you’ve got, no one is jealous of how you got it (2025: 56)
A lack of envy brings another gift: freedom (2025: 131)
Buku ini dengan cukup jujur membongkar satu fakta yang (mungkin) kita sendiri tak akui: hampir semua konsumsi sosial kita lahir dari hasrat untuk dinilai. Mau makan, upload dulu! Main, upload dulu! Pacaran, upload dulu!
Kita ingin dilihat berhasil makan sesuatu yang lucu gimana pun rasanya, merasa diinginkan, dan “naik kelas”. Masalahnya, validasi selalu membutuhkan penonton, like dari followers, dan julidan haters (kalau ada). Faktanya, tidak pernah ada orang yang benar-benar peduli pada akunmu. Sekalipun iri, ya hanya iri pada hasilnya, pada benda-benda atau momen yang bisa difoto. Peduli setan, lah. Post saja apa yang menurutmu lucu untuk di-post. Orang betulan tidak akan banyak julid juga, dan jangan julid juga tapi kamunya karena seperti yang ada di buku ini, A lack of envy brings another gift: freedom. YASH!
Kepuasan Diri dan Propaganda “Harus Hidup Lebih”
Appreciating what’s in front of you rather than dwelling on what you don’t have (2025: 38)
I’m good, I’m satisfied with what I have and who I am. That;s nirvana, That’s who takes the happiness crown. (2025: 38)
Are you spending money on something because it makes people think differently of you, like you more, be more impressed with you, maybe even jealous of you or because it actually feeds your soul and makes you happy? (2025: 71)
Kepuasan diri adalah konsep yang terdengar sederhana, tapi justru saya rasa paling subversif dalam sistem in this economy te mah. Sebab saya setuju tidak ada industri yang bisa profit jika manusia benar-benar merasa cukup. Maka, sebagai makhluk yang sulit puas, kita terus didorong untuk percaya bahwa sedikit lagi, sedikit lebih mahal, sedikit lebih baru, sedikit lebih bergengsi akan membuat hidup terasa aman dan selesai. Maka, seperti yang saya katakan, buku ini memang bukan buku untuk semua orang, tapi buku ini oke juga.
Berkali-kali penulis mengajak pembacanya bertanya:
Apakah uang yang kita keluarkan benar-benar memberi makan jiwa, atau hanya memberi makan validasi dan kepuasan pura-pura saja?
Karena kalau “cukup” ditentukan sama orang lain, ya tentu saja kita gak akan pernah merasa cukup.
Kesimpulan
Dari semua kesulitan ekonomi yang bisa jadi salah negara ini, hal yang paling mungkin kita lakukan adalah ya tetap melawan untuk jam kerja yang paling adil, dan menyadari bahwa banyak dari kita adalah guppy yang dipaksa bertahan hidup lebih lama dari yang seharusnya.
Meskipun sulit sekali, tapi menyadari batas-batas struktural yang membingkai pilihan kita dan tetap berusaha bernapas di dalamnya adalah yang terbaik yang bisa kita lakukan sekarang.