Zugzwang

Asfiksi

 

kita sadar pada bara

menarik lalu mencipta

di pucuk sebatang tabah

kemudian cemburu

memangkas senyap perlahan

 

ada uap mengepung udara

mengendap sisa sengketa

lantas merabahi rongga dada

masihkah ia bernama setia

 

kita akhirnya karam

dan namamu berdenyut

selisih satu ketukan

dari tarikan napas pinjaman

lalu kau hentikan

 

​Gresik 15 Februari 2026

 

 

Domain O

 

Dua bulatan

terbelah garis lipat

satu lingkar membesar

serupa merah

kita sibuk

menebak jumlah

 

Maujud serta bayangan

dua sisi dalam satu ruang

latar kuning

seluruhnya mata

rajin bertaruh

atas ketimpangan

di bawah kaki penindih

 

Balak disembunyikan

dalam kepalan tangan

adu bintik nasib

saling kunci jalan

siapa luput, ia mati

 

Kartu-kartu terbanting

menggetarkan papan kayu

angka mati di ujung baris

tersisa sisa asbak

dan tawa dingin pemenang

 

Permainan

di atas meja

tiada mengenal iba

 

Gresik, 13 Februari 2026

 

 

Liminalitas

 

Kebisingan menghuni tempurung kepala saat ia menderapkan langkah. Di luar sana, orang-orang sibuk mengeja dunia masing-masing. Langkah kaki sebenarnya telah menjauh dari masa silam, meninggalkan jejak-jejak retak di atas trotoar waktu. Namun, jauh di kedalaman batin, ada telaga tenang tempat ia menyembunyikan rahasia paling arkais.

 

​”Telah jauh langkahku dari masa lalu, namun ingatanku masih bunga lotus di atas permukaan danau, menahan gelombang agar tetap tegak menjaga kelopaknya.”

 

Musim enggan berkompromi. Waktu kini bukan lagi sekadar angka, melainkan pahat kian tekun mengukir kerutan di sudut mata. Tiada lagi kiasan rambut memutih; kini kepala lebih menyerupai ladang rontok dilanda kemarau. Sementara nun jauh di hulu, ia seolah sengaja membiarkan diri hanyut, melepas kaitan dengan muasal demi menjadi asing bagi cermin sendiri.

 

​Gresik, 15 Februari 2026

 

 

Zugzwang

 

Dua langkah fianchetto, senyap di sela bayang-bayang. Sang ratu tekun menjaga pion di garis depan, merawat teritorial dalam middle-game genting. Sementara sang raja ialah jantung kehilangan castling, terpaku di pusat, kehilangan mata angin. Lalu di luar lingkar, mata-mata mulai bekerja; membaca ulang notasi usai petak-petak hitam putih mengaburkan langkah dalam gambit sia-sia.

 

​Di sudut lain, en passant menjadi sabetan tak kasatmata bagi mereka melangkah terlalu pongah. Barisan menteri dan kuda terjebak dalam pinning mengunci gerak, membuat setiap rencana berakhir pada kebuntuan tak terperi. Tak ada lagi ruang untuk pertukaran perwira; hanya ada keheningan di atas meja kayu mulai retak oleh beban ambisi melampaui logika.

 

Seluruh strategi melambat, sekadar penundaan terhadap endgame tak terelakkan. Jam catur berdetak, menghitung mundur sisa-sisa napas kekuasaan sesak oleh asap pengkhianatan. Kelak, ketika kotak-kotak itu tak lagi mampu menampung ego, sejarah mencatat bahwa kekalahan terbesar bukanlah saat raja tumbang, melainkan saat papan itu sendiri memilih lebur menjadi abu.

 

​Gresik, 15 Februari 2026

 

Fientje de Feniks 

 

Mijnheer, telanlah jelaga Batavia ini. Meester Cornelis hanya gundukan atap merah tersedak amis kanal. Langit membungkus kota serupa kain kafan lembap. Aku menyaksikan trem terakhir memuntahkan pekik besi, membelah lengang, beradu jerit biola tua dari balik tembok-tembok putih angkuh. Lampu gas berkedip ragu. Porselen retak. Napas saudagar kalah. Segala nasib kini terkunci dalam sekali kocok dadu gila.

 

Ciumlah, Mijnheer. Wangi mawar layu kerah bajumu beradu amis keringat kuli panggul Sunda Kelapa. Tak ada harmoni. Hanya tekstur kasar batu jalanan pahatan paksa. Urat leher penarik sado menegang—tambang kapal penahan badai—menarik beban sejarah tak kunjung usai. Di bawah pohon asam, air kali hitam menyimpan tarian hantu. Kota selalu dijajah sepi ini menanti pagi menyeka air mata di pipinya. Harum kayu jati baru dipel hanyalah tipu daya sebelum uap laut menelan sisa keberadaanku.

 

Aku, Fientje de Feniks, perempuan lahir dari abu, hangus berkali-kali. Lihatlah tiang layar pelabuhan: tulang belulang raksasa menusuk cakrawala, membawa aroma mesiu dan rempah berdarah. Jantungku berderit di ambang pintu kayu rapuh. Aku menanti tangan kekar itu—tanganmu, Mijnheer—mencekik napas terakhirku demi selembar kehormatan palsu. Jika esok jasadku mengapung, keruh, di kanal tanpa nama, bacalah arang ini sebagai satu-satunya ruang tempatku pernah benar-benar bernapas.

 

​Gresik, 15 Februari 2026

Lahir di Gresik, Jawa Timur, 24 Februari 1985. Karyanya terhimpun dalam berbagai antologi puisi kolaboratif: Rapsodia dan Elegi Cinta (2021), Melodia Aksara Rindu (2022) bersama penyair Malaysia, serta antologi lintas empat negara Serenade Musim (2025).Menghadirkan karya dalam bentuk musikalisasi puisi melalui kanal YouTube @SholihulMubarokOfficial. Saat inictengah mempersiapkan buku puisi terbarunya berjudul Dalam Semesta Matamu (2026).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!