

: Z.D
I
aku berdiri di kota
yang gemar melingsirkan hujan
saat suara rintik
terdengar dari jendela
aku sering mereka-reka
adegan:
kau berdiri seberang daratan itu
menunggu
mengenakan pakaian paling trendy
kepala bertudung kain biru
mempersembahkan senyuman
yang menyelamatkanku
dari kesepian akhir zaman
II
Kita memang belum berjumpa
Tapi cinta telah tumpah
Ke dada
Kau tak perlu merasa aneh
Cinta bekerja dengan cara
Yang paling tidak kita mengerti
III
aku benci hujan berhenti
reka adegan yang kuciptakan
pecah terserak ke jalanan
kau dan aku
masih dibelah wilayah
sialnya,
saku celana belum bisa membeli jarak
seandainya
avatar memang ada
aku ingin kita jadi
pengendali bumi
lalu kita bertemu
di lorong yang diciptakan sendiri
melegendalah kisah kasih ini
seperti Oma dan Shu
yang diabadikan menjadi sebuah kota
Bogor, 2025
lewat tengah malam
sepotong bulan
memamerkan diri di langit
mungkin saat ini
kamu sedang tertidur
dan bermimpi
baik-baiklah dalam mimpimu
dan biarkan aku menyusup ke sana
sebab di dunia nyata
kita belum bisa berjumpa
waktu menyibukkanku mencari kerja
siapa tahu di mimpimu
kita bisa saling berkata cinta
berpura-pura tinggal serumah
aku kepala keluarga
kamu rekan setia
datangnya pagi akan kucegah
agar kita bisa berlama-lama
menjadi keluarga
tanpa perlu bersusah-payah
mencari harta
tanpa perlu takut terluka
Bogor, 2024
hari itu mendung betah menggantung
sepanjang hari
hujan tak runtuh
hanya dingin penuh
dalam gumpalan kabut
kau mengingat-ngingat lagi
mimpi-mimpi
yang sudah pecah berkeping-keping
di usia sembilan belas
dirimu gagal jadi buruh pabrik
pada usia dua puluh lima
kau menyadari tak akan
jadi penyair terkenal
genap di usia tiga puluh
gelap mencuri terang
dari kepalamu
di dadamu
suara guntur menderu-deru
kau belum mati
tapi nafas kehidupan
telah berhenti
Bogor, 2024
hari ini kembali hujan
aku berjalan
di tengah genang dan tegang
sepasang lengan menebar jala
Sia-sia
hari ini kembali hujan
dan aku masih dicintai
kegagalan dengan ugal-ugalan
Bogor, 2023
Jalanan di pagi buta menjajakan angan dan melelang mimpi yang belum tentu laku di pasar loak. kau mengamati itu lalu matamu memaling ke buku rekening yang susah payah kau upayakan untuk membeli cita-cita yang cuma dijual di pasar modern. Sialnya, kau tergoda dan membeli mimpi yang belum tentu laku di pasar loak.
Bogor, 2022
Lahir dan besar di Bogor. Menyukai kegiatan mendaki gunung, pecinta sastra, pecinta Barcelona, hampir-hampir cinta kamu juga.
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!