Tanpa sastra kau hanya binatang yang pintar–Pramoedya A Toer

 

Sekolah-sekolah kita telah lama memiliki persoalan serius sebagaimana yang ditulis As Laksana: telah gagal menjadikan para siswanya menjadi anak-anak yang gemar membaca dan piawai mengungkapkan gagasan dalam tulisan. Atau jika kita mau membuatnya sesuai dengan temanya; sastra belum mendapatkan maqom khusus di sekolah-sekolah kita kecuali dalam acara-acara seremonial belaka. Entah itu sebagai gelaran Bulan Bahasa atau sekadar lomba Baca Puisi belaka.

Mengampu mata pelajaran Menulis Kreatif di SMA Al-Muhajirin dalam setahun terakhir ini merupakan pengalaman menarik sekaligus mencemaskan dalam hidup saya. Menarik sebab dapat melihat dan terlibat langsung dalam satu bagian kecil dari sistem besar pendidikan kita—yang konon angka minat baca siswanya menyedihkan. Mencemaskan sebab saya khawatir bahwa apa yang diutarakan As Laksana, jangan-jangan tidak akan pernah ada jalan keluarnya. Mengingat hasil survei Perpustakaan Nasional di 12 provinsi dan 38 kabupaten/kota pada 2015 yang menyimpulkan bahwa: 90 persen penduduk Indonesia gemar menonton televisi dan tidak suka membaca.

Agak sulit menceritakan apa dan bagaimana mata pelajaran Menulis Kreatif ini dapat menjawab sedikit kegelisahan As Laksana. Namun bagian yang paling menarik dari pandangan As Laksana, yang juga sastrawan ini adalah ia memilih mengatakan “anak-anak yang tidak pandai” bukan “anak-anak yang tidak menulis”. Sebab itulah yang dapat kita lihat saat ini di internet. Kita bisa melihat bagaimana anak-anak muda menggunakan internet, atau beradu argumen di kolom-kolom komentar di situs-situs berita. Anda bisa lihat sendiri bagaimana yang dikatakan As Laksana ternyata bukan isapan jempol. Kuantitas tulisan (termasuk twit dan status facebook) di internet  yang datang dari tangan anak-anak muda memang sudah tidak bisa dihitung, tapi kualitasnya?

Kita tidak bisa menutup mata, bahwa sistem pendidikan kita dari hulu ke hilirnya hampir melupakan satu-satunya keterampilan fundamental dalam dunia akademik sekaligus olah rasa dalam kesenian literatur; menumbuhkan minat dan apresiasi sastra—dalam hal ini membaca dan menulis.

Sementara Finlandia pada 2001 mengejutkan dunia ketika siswa-siswanya yang masih berusia 15 tahun berhasil mencatatkan skor tertinggi di penyelenggaraan pertama PISA (Programme for International Student Assessment) yang meliputi penilaian keterampilan berpikir kritis di bidang matematika, sains, dan membaca. Sekali lagi, membaca. Lalu di manakah posisi Indonesia hampir lebih dari satu dekade ini? Hampir selalu berada pada peringkat bawah.

 

Persoalan Menulis dan Membaca

Di awal-awal mengajar berat rasanya mendengar rengekan siswa tentang pelajaran ini. Dari yang mengeluhkan tugas mengarang, sampai yang merasa tidak punya kepentingan sedikit pun untuk membaca sastra—yang bukan bagian dari buku paket.

Jika mau sedikit egois dan ingin menyalahkan tentu saja kita bisa melacak dari mana akar rengekan ini bermula, tradisi sastra, khususnya menulis-membaca sudah lama redup digantikan televisi, kemudian internet, dan sialnya sekolah-sekolah kita seperti tidak menyadari itu.

Praktis tugas mengajar ini ternyata lebih berat dari kelihatannya, menjadikan kedua kegiatan yang sekilas menyebalkan ini menjadi menarik bukanlah pekerjaan ringan. Dalam hal seperti inilah program-program Menulis Kreatif dituntut untuk bekerja lebih keras dan kreatif. Alih-alih sekadar menugaskan para siswa menulis dan membaca saja.

Para siswa di awal-awal diminta untuk menuliskan diary, isinya bebas, mereka bisa mengisinya dengan catatan-catatan perasaan mereka atau curhat, lagu kesukaan, puisi, mimpi, harapan, cita-cita atau apa saja yang mereka suka. Sebagai guru saya hanya meminta buku-buku tersebut dikumpulkan setiap jam pelajaran berakhir dan langsung menilainya. Tidak ada koreksi, tidak ada coretan selain “A” dan tulisan “terima kasih sudah berbagi”.

Tentu saja tidak terus menerus seperti ini. Cukup satu semester saja, untuk menujukkan bahwa menulis itu mudah dan baik untuk mereka. Jika saatnya tepat tugas menulis ini akan terus meningkat.

Jika menulis telah menjadi kebiasaan, maka sudah pasti siswa memerlukan suplemen atau input pengetahuan menulis. Hal tersebut bisa didapat dari membaca. Kemudian kami membuat semacam “Kontrak Membaca”. Setiap siswa menulis janji buku apa yang akan dibaca, kemudian guru dan murid menandatanganiya. Keliahatan main-main, tapi memang inilah pointnya. Menjadikan membaca seperti bermain-main saja. Dan sebagai bukti apakah murid tersebut membaca atau tidak setiap selesai membaca mereka diminta menulis resensi buku dalam lima paragraf.

Buku-buku tersebut mereka pilih sendiri. Awalnya tentu saya khawatir dengan kecenderungan mereka memilih novel-novel teenlit. Namun di sinilah ujiannya. Urusan membaca ini tidak bisa dipaksakan, dan guru musti menahan diri mencampuri urusan ini. Guru musti membiarkan mereka memilihnya sendiri. dan sebagai gantinya kita menyiapkan diri sebagai partner diskusi mereka.

Pelan-pelan orientasi membaca anak-anak ini tumbuh membaik. Jika di kelas satu teenlit, pada kelas dua ternyata orientasi membaca mereka berubah haluan. Ada yang memilih bacaan-bacaan sastra, atau buku yang lebih serius, rumit, dan berat. Di kelas tiga ada yang baca Republik, Plato dan The Grand Design, Stephen Hawking. Hal ini menunjukkan bagaimana tingkat penguasaan mereka dalam memahami teks terus menerus menanjak.

Efeknya semakin banyak bacaan yang mereka selesaikan, kemampuan menulis pun ikut membaik. hal itu terlihat dari kekayaan kosa kata dan struktur tulisan yang lebih teratur. Ringkasnya kontrak membaca ini benar-benar meningkatkan kemampuan literasi mereka secara organik.

Setelah mendorong para siswa untuk lebih banyak membaca dan terbiasa menulis, sekolah mengadakan usaha-usaha publikasi dari karya para santri. Dari wadah yang bersifat lokal (majalah dalam pesantren), regional (perlombaan tingkat daerah), maupun nasional (buku berlabel ISBN).

Dari kegiatan-kegiatan tersebut para siswa belajar mengekpresikan diri (menulis diary), mengasah empati (membaca buku), insyaallah akan membantu mereka membangun kepribadian baik. Sehingga nantinya semua harapan-harapan baik dari generasi penerus bangsa ini dapat terwujud.

Salah satu kewajiban utama negara selaku penyelenggara pendidikan ialah menjamin setiap orang mempunyai kesempatan memperoleh pendidikan yang bermutu. Demi hal seperti inilah pemerintah telah melakukan banyak hal dan kita musti tetap aktif mengawasi dan berpartisipasi penuh.

Bayangkan jika hal tersebut dapat terselenggara dengan baik maka timbal baliknya adalah di negara kita akan tumbuh populasi orang-orang pintar, terampil, dan tentu saja berguna. kemudian,  untuk membuat semua hal ini mungkin adalah dengan cara setiap pihak; sekolah, pemerintah, swasta, dan masyarakat memainkan perannya masing-masing sesuai kapasitas dan kemampuannya dalam berkolaborasi.

Sebelum Anies Baswedan jadi politisi dan menyebalkan pernah mengatakan: Pada akhirnya kerja mendidik (sebagaimana) adalah proses menumbuhkan, bukan membangun. Sebagai petani yang baik seorang guru perlu mengenal segala macam bibit (anak didik) dan tanah (kearifan lokal lingkungan sekolah), ulet menata waktu (menyesuaikan materi sesuai perkembangan kognitif siswa), dan bersabar dengan proses (selalu berbahagia dengan setiap langkah).

Kini memasuki tahun kedua mengampu mata pelajaran ini, anehnya saya tetap dihantui kecemasan As Laksana di atas. Sebab barangkali sampai lima tahun ke depan kita akan melihat sekolah-sekolah yang gagal menjadikan siswa-siswanya menjadi anak-anak yang gemar membaca dan piawai menulis. Bukan saja karena angka literasi siswanya tidak kunjung menukik. Namun karena ada hal lain yang secara langsung maupun tidak bersinggungan.

Lihatlah guru-guru di sekolah, mahasiswa perguruan tinggi kita, dunia hiburan, panggung politik. Guru-guru yang tidak membaca kecuali berita-berita pendek di grup whatsapp. Mahasiswa salin-tempel alias copy-paste yang terus ada dan ajaibnya jumlah mereka terus berlipat ganda. Politisi dengan jargonnya yang tidak pintar. Hoaks yang berputar-putar tidak ada hentinya. Sampai saat ini, masalah-masalah ini seolah masih tidak punya jalan keluar.

Menjadikan pelajaran menulis kreatif sebagai mata pelajaran reguler, atau menggalakkan program literasi (dalam skala nasional sekalipun) memang ikhtiar yang bagus. Tapi kita tahu itu tidak cukup dan praktiknya seringkali tidak jelas dan cuma upaya meraih publikasi saja. Setidaknya saya pribadi melihatnya begitu.

Selama saya tidak bisa melihat upaya yang lebih serius secara struktural (pemerintah dan lembaga pendidikan) maupun kultural, saya akan tetap cemas, walaupun lebih tepatnya merasa waspada. Apakah saya cuma over-thinking saja? Entahlah.

Profil Penulis

Ahmad Farid
Ahmad FaridMuda dan tak berdaya. Hiks~
Ketua kelas Nyimpang, pustakawan di @pustakaki, aktif di Forum Taman Baca Masyarakat, Gusdurian Purwakarta dan Sanggar Sastra Purwakarta.