

Kala pagi,
halaman tua itu menyapu lelaki
sebelum matahari dari ufuk timur
benar-benar hidup.
Daun tua kering berhamburan
jatuh lagi, dan lagi.
Seolah pusaran waktu bergurau
pada tiap pekerjaan
yang tak pernah selesai.
Depan rumahnya kini
pulang setahun sekali
merayakan masa ke masa
anak-anak yang dulu berlari
dari titik-titik rekaman klasik.
Waktu termakan waktu,
bahkan ada kalanya
menunggu getaran tawa
mengirim kabar
melalui goresan jari.
Memutih rambutnya
usang matanya
larut dalam pikirannya
riuh dalam tutur katanya.
Namun ia masih
terbayang ingat
rumah yang dibangun bersama
dan dinding terpikat bekas makna
nama-nama yang pernah berlalu bersama.
Orang-orang menyebutnya tua.
Padahal yang menua hanya rangkanya.
Selebihnya?
Kenangan di kepalanya masih bertaut,
lebih jauh dari sehelai benang duka.
Jambi, 26 Juni 2026
Sekilas keliru.
Aku meratap
Aku merenung
Aku menangis
demi sekadar tanya:
Aku mati atau hidup?
Tunggu.
Aku tak tahu pasti.
Aku siapa?
Oh …
Aku hanya benda mati
mungkin
yang berpura-pura hidup
dalam naskah ini.
Iya!
Aku; gelas adalah rupaku.
Di rak dapur,
gelas memandang
cat yang hampir
luput dalam waktu.
ibu tak pernah membuangnya.
Padahal gelas baru
datang berhamburan silih berganti,
lebih bening,
lebih bagus dipandang.
Setiap pagi,
gelas itu abadi dalam pilihan.
Yang mengepul ditemani kopi,
singkat obrolan,
dan yang selalu berulang
dalam kesibukan.
Aku pernah bertanya,
mengapa tidak diganti saja?
Ibu hanya tersenyum dan tertawa.
Barangkali ada hal-hal
yang tak bertahan karena kuat.
Melainkan karena telah terlalu lama
menjadi bagian dari hidup seseorang.
Kenangan itu
seperti getah pada batang pohon;
waktu boleh mengeringkannya,
tetapi bekasnya tetap tinggal.
Ia mungkin memudar,
tetapi tidak pernah berhenti melekat.
Jambi, 26 Juni 2026
Pukul 3 pagi.
Tersampai salam
dari gemuruh angin timur.
Telinga merajuk
seperti nona Jambi
yang tak sengaja tersapa
oleh nyaring bel berdering.
Saraf-saraf mulai berdiskusi
tentang kalender baru
yang terulang samar
dalam bayang basah.
Kepala dua terbangun
dari hati yang bercerita:
Rumah ini masih sama.
Jam dinding masih menyapa.
Lampu teras masih berkata.
Tak ada yang berubah,
setidaknya begitu kelihatannya.
Namun ruang tamu di sudut kursi
tak pernah lagi beranjak.
Tak ada riuh suara
yang memanggil dari dapur.
Tak ada tawa yang memantul
dari dinding ke dinding.
Hanya ada bunyi televisi
yang menyala lebih lama
untuk menemani sepi.
Kadang aku merasa
seseorang akan muncul
dari pintu depan
dan bertanya
kabarku seperti biasa.
Tetapi malam terus berjalan,
dan harapan kecil itu
selalu pulang
dengan tangan kosong.
Lalu aku mengerti.
Yang sunyi bukan hati.
Melainkan rumah
yang masih mengingat
orang yang pernah
membuatnya hidup.
Jambi, 26 Juni 2026
Asal Jambi, lahir di Kerinci tahun 2007. Saat ini menekuni profesi sebagai penyair pemula. Instagram @hailaqhari
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!