Wisuda, Lalu Apa?

Hari itu hari Senin, dan kau mungkin tak benar-benar peduli hari apa sebenarnya, sebab panasnya sendiri terasa seperti makhluk setengah sadar yang baru saja bangun dari tidur siang panjang, malas bergerak, malas menyengat, dan cukup untuk membuat tengkukmu lengket oleh keringat tipis. Ya, kampus masih ramai, semacam sisa-sisa euforia yang belum benar-benar dibersihkan setelah musim wisuda. Orang-orang datang dan pergi dengan wajah yang tampak lebih rapi dari biasanya, seolah hidup mereka sedang disusun ulang agar terlihat layak difoto saja.

Kau berhenti di depan gerbang fakultas. Selama ini kau termasuk golongan yang berjalan lurus, menatap ke depan, dan menganggap segala yang terlalu ramai sebagai sesuatu yang bisa dilewati tanpa perlu dipikirkan. Tapi entah kenapa hari itu langkahmu seperti ditarik oleh sesuatu yang tak terlihat.

Di samping papan pengumuman yang catnya mulai mengelupas seperti kulit lama yang enggan rontok, berdiri deretan karangan bunga. Besar-besar. Berisik. Mencolok. Merah yang terlalu merah, kuning yang terlalu terang, biru yang hampir menyakitkan mata, dan ungu yang seperti sengaja dipilih agar tampak paling berbeda. Sepertinya warna-warna itu tidak ingin sekadar dilihat, tapi dipaksa untuk terlihat saja. Kau mendekat dan tulisan-tulisan di atasnya seperti saling berebut perhatian.

Selamat atas kelulusannya.

Selamat menempuh dunia baru.

Bangga atas pencapaianmu.

Beberapa kau baca dengan sedikit lebih puitis, lebih dramatis, atau lebih terdengar dalam.

Kalimat-kalimatnya seperti diambil dari pidato atau caption yang terlalu lama dipikirkan dan dihapus-ketik lagi saja. Kau berdiri cukup lama di sana sampai seorang mahasiswa yang lewat menatapmu dengan ekspresi yang setengah curiga atau kasihan. Barangkali ia mengira kau sedang membaca pengumuman penting. Padahal tidak. Kau hanya membaca bunga.

Aneh, ya?

Dulu kau sering melewati hal seperti ini tanpa rasa apa-apa. Bahkan kadang kau menjadikannya bahan candaan. Jika ada karangan bunga yang terlalu besar, terlalu mencolok, terlalu ingin dilihat, kau akan berkata pada temanmu,

“Ini mah bukan ucapan selamat, ini pengumuman nasional.”

Mereka tertawa. Kau juga. Tapi hari itu tidak ada yang lucu.

Di tengah-tengahnya, para sarjana baru berdiri dengan wajah yang seperti dipoles kebahagiaan. Toga dikenakan dengan rapi, senyum ditahan agar tidak terlalu berlebihan di kamera. Ponsel-ponsel berbunyi tanpa henti, mengambil gambar dari sudut yang berbeda-beda, seolah satu momen tidak cukup untuk membuktikan bahwa momen itu benar-benar terjadi.

Ada yang berfoto sendiri, dengan keluarga, atau beramai-ramai. Kemudian setelahnya, semua foto itu akan berpindah ke layar-layar kecil. Instagram. WhatsApp. TikTok.

Kau tidak mengatakan itu salah. Empat tahun bukan waktu yang pendek, jadi berhak saja dirayakan.

Justru itu yang mengganggumu. Bukan bunganya, fotonya, atau orang-orangnya. Ada perasaan aneh yang muncul ketika semuanya berkumpul dalam satu bingkai yang terlalu rapi seperti barisan militer.

Kalau kau pikirkan lebih lama, kelulusan itu bukan akhir. Ia bahkan belum bisa disebut setengah jalan. Ia lebih mirip pintu yang baru saja terbuka, tanpa petunjuk apa yang ada di baliknya.

Kau pernah melihat seseorang berdiri di depan karangan bunganya sendiri. Ia memandangi namanya yang ditulis besar, rapi, seolah itu adalah bukti bahwa ia telah menjadi “seseorang”. Wajahnya senang, ya. Senang, tapi juga bingung. Seperti orang yang baru saja menerima hadiah, tapi tidak tahu cara membukanya. Entah kenapa, ingatan itu menempel.

Saat itu pula, pelan-pelan muncul pertanyaan yang sederhana, “Setelah ini mau apa?”

Kampus selama ini terasa seperti jam pabrik. Ada jadwal, aturan, dan nilai yang memberi label apakah kau berhasil atau gagal. Semuanya jelas, bahkan ketika terasa berat. Di luar itu? Tidak ada silabus. Dunia nyata lebih mirip jalan panjang tanpa papan petunjuk.

Kau pernah duduk di sebuah warung kopi dengan seorang alumni. Kopinya sudah dingin, tapi ia tetap mengaduknya.

“Dulu waktu wisuda aku pikir semuanya selesai,” katanya.

Kau bertanya, “Terus?”

Ia tertawa kecil

“Ternyata justru mulai.”

Ia bercerita tentang lamaran kerja yang tak kunjung dibalas, CV yang dikirim tanpa kabar, hari-hari yang diisi dengan menunggu sesuatu yang tidak jelas.

“Yang lucu,” katanya lagi, “Waktu aku wisuda, karangan bunga di rumah sampai tiga.”

“Tiga?”

“Iya. Tapi yang aku butuhkan waktu itu bukan bunga.”

“Apa? Orang dalam?”

Kalian tertawa, tapi tawa itu cepat habis waktu kau menjawab “Arah.”

Kau kembali ke halaman fakultas. Beberapa bunga mulai layu di pinggirannya. Matahari yang tadi malas-malasan kini mulai menunjukkan niatnya.

Di dekatmu, seorang ibu merapikan toga anaknya dengan tangan yang tampak hati-hati, seolah kain itu lebih dari sekadar pakaian. Ayahnya berdiri agak jauh, memegang ponsel dengan posisi yang terlalu serius untuk sekadar mengambil gambar. Bangga? Tentu saja. <ereka berhak untuk itu.

Tapi kau tidak bisa berhenti memikirkan hal lain.

“Kuliah itu bukan sekadar mengumpulkan pengetahuan, tapi belajar melihat dunia dengan lebih jernih.”

Kalimat yang sederhana, tapi tidak sederhana sama sekali, sebab melihat dengan jernih berarti juga melihat hal-hal yang tidak nyaman. Ketidakadilan yang dianggap biasa, dan dunia di luar sana penuh dengan pertanyaan yang tidak punya pilihan jawaban.

Ada petani yang gagal panen, pedagang yang kehilangan pembeli. Ada mahasiswa lain yang hampir berhenti karena biaya. Tak satu pun dari itu selesai dengan karangan bunga.

Kau akhirnya berjalan pergi. Di belakangmu, suara tawa masih ada. Kamera masih berbunyi. Orang-orang masih berpose dan semuanya tetap berjalan seperti seharusnya. Perayaan memang perlu. Tapi di dalam kepalamu, ada harapan kecil yang tidak bisa kau abaikan. Semoga setelah bunga-bunga itu layu. Setelah foto-foto itu tenggelam.

Setelah ucapan selamat berhenti datang. Mereka tidak berhenti di sana. Semoga mereka ingat bahwa gelar bukan garis akhir. Bahwa ilmu bukan sekadar hiasan di CV. Bahwa dunia tidak sedang menunggu mereka untuk sekadar datang membawa teori, tapi lebih sulit dari itu, sebabpada akhirnya, dunia tidak peduli berapa banyak bunga yang kau terima saat lulus. Dunia hanya menunggu,

“Apa yang kau lakukan setelahnya?”

Author

  • Indra Setya Permana

    Lahir di Pasaka, 21 Agustus 2003. Hobi menulis sejak tahu ia suka membaca. Menulis untuk memamerkan kebodohan dan menjadikan pembaca sebagai guru serta kawan belajar yang akan meluruskan bengkoknya, membetulkan kelirunya, juga melengkapi kurangnya; dan mohon doa untuk terus melanjutkan mengikat ilmu dan merekam jejak pemahaman agar kelak Allah menambahkan pada catatan amalnya pahala para pembaca yang mendapat manfaat dari karyanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
grandpashabet | romabet giriş | romabet | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet | grandpashabet | jojobet giriş | casino api | betnano | ultrabet | ultrabet | hiltonbet giriş | hiltonbet | malatya web tasarım | betasus | betasus giriş | betasus | grandpashabet | grandpashabet giriş | jokerbet | grandpashabet | grandpashabet giriş | roketbet | roketbet giriş | grandpashabet | royalbet | royalbet giriş | yakabet | yakabet giriş | timebet | timebet giriş | galabet | galabet giriş | elexbet, elexbet giriş | Elexbet | Elexbet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | grandpashabet | grandpashabet | grandpashabet giriş | perabet | perabet giriş | grandpashabet | grandpashabet giriş | roketbet | roketbet giriş | royalbet | royalbet giriş | roketbet | grandpashabet | royalbet | galabet | galabet giriş | galabet | romabet | romabet giriş | galabet | galabet giriş | romabet güncel giriş | how to create invoices | how to create an invoice | how to pronounce | how to pronounce nguyen | how to pronounce pho | hiltonbet | hiltonbet giriş |