

Coming from a small village in Indonesia, I grew up in a culture where people mostly associate academia with only ‘fruitful’ activity to oneself–which probably applies to many places around the world either.
In the community I grew up in, one might find utterances such as,
“Would your degree make you seem like an ‘important’ figure?” or
“Would your degree present you a huge financial success?”
It is to the point where I feel like I am growing into an opportunist individual–undeniably so, and anytime–or at least most of the time–people find out that one is going into academia without a thought of ‘materially enriching’ themselves, they would automatically assume that one is just doing it for the love of it (a polite or demure alternative way of saying that it is useless). It can be worse if you are a woman because some mouths may blab that a marriage would be a much better choice–not that no man would get the same question at all, but hopefully you are able to see my point.
Please don’t get me wrong, I love the warmth of my hometown in Indonesia (I think many would love to come back after visiting once), but this has been bugging my mind the whole time. My head lays a question in the back of my mind, ‘If academia is focused to earn something for oneself only, then, wouldn’t it narrow the purpose of learning?’
I have been studying abroad for months now, and here is what I learn so far in the process of searching an answer to my question: the most difficult part in academia may not be in trying to educate yourself (although it undoubtedly can be a huge chunk of it as I have piles of unread course materials while writing this essay), but rather staying curious of what you have learnt while keeping up with areas beyond yourself. I have been in classrooms where people no longer weigh the significance of the text before going deeper into it. And you could imagine the way I sit there quietly, trying to hold my jaw from dropping out of unknowingness.
Their hunger for ANY knowledge is unmatched. Meanwhile, Indonesians would still argue on X app about whether research related to Taylor Swift should be considered as ‘significant’ or not.
One would not have to say ‘Aha! This would benefit ME or MY research’ or ‘Oh! This sounds super significant’ before devouring the plate of knowledge served.
Moreover, if leaving my hometown as a teenager to pursue high school and undergraduate degree had made me feel like ‘a small fish in a big pond’ for years, leaving my home country for the hope of embracing a higher academia has been waking me up to a reality that I have never even been a fish in the first place.
I have not been a fish because to be a fish I need to breathe in the water–and breathing in the water means acknowledging that the water is not mine exclusively. Any water I breathe would be available for many other fish to have, so it should have never been simply about me.
I also admit that I had previously experienced –what I presumably understand as–falling out of love and rekindling thirst to knowledge back and forth a couple of times in my undergraduate study.
However, this new difficulty is no longer simply trying to tempt me to ‘fall out of love and rekindle the passion of studying’ or any sort. I feel like I am learning that I might have never been in ‘love’ in the first place, and I am not sure that ‘love’ is something that necessarily has to be there in academia.
For me at least, I realise that it may not have been love, but a crave for something unexplainable. I hope that it is not too bizarre to say one does not have to be ‘personally in love’ or have a goal that benefits ‘personal endeavour’ to crave for a particular knowledge. This criticises an assumption that ‘one is only doing it for the love of it’ if no huge material success seems to lay in sight.
What if I am not in love at all with academia? What if I also do not seem to have ‘fruits’ that I can enjoy myself later, but–still am hoping that–with academia, I would be able to throw away the narrow perception that it ‘has to be’ about me and fruits I can enjoy myself?
It may sound reckless to spend years for something that would seem empty to yourself, but wouldn’t recklessness be better than nothing? Yes, regret might soon await, but what if it is there with the gift of selflessness?
You can take this writing as a cliché reflection. I might still agree with that. I no longer have an urge to explain that my point is ‘right’ or ‘true.’ This ‘water’ can be yours if you want them, or not at all if you prefer not.
What do you think? Would spending years in the pursuit of understanding selflessness be a ‘useless’ idea?
Alih bahasa: Arini Joesoef
Sebagai seseorang yang berasal dari sebuah desa kecil di Indonesia, saya tumbuh dalam kultur yang nyaris selalu memaknai kuliah (atau menjadi akademisi) adalah aktivitas yang cenderung tidak penting dan hanya bermanfaat bagi diri sendiri saja, dan saya rasa, pemaknaan semacam ini juga terjadi di banyak tempat lain di dunia.
Di lingkungan tempat saya dibesarkan, pertanyaan-pertanyaan seperti,
“Emangnya gelarmu nanti membuatmu jadi presiden?” atau
“Emang kuliah bikin kamu tajir melintir?” adalah sesuatu yang sangat biasa didengar.
Pada momen seperti itulah, saya merasa dibentuk menjadi manusia yang oportunistis, dan saya tidak menyangkalnya.
Setiap kali seseorang memilih jalan sebagai akademisi tanpa ambisi untuk “memperkaya diri” secara material, orang-orang akan buru-buru menyimpulkan bahwa ia melakukannya “demi kecintaannya pada ilmu.”
Terdengar manis, tapi maknanya cuma ingin bilang “percuma” saja.
Yang lebih parah, jika yang memilih jalan itu adalah perempuan, situasinya bisa lebih melelahkan lagi. Akan ada mulut-mulut yang berkata bahwa pernikahan barangkali pilihan yang lebih masuk akal. Bukan berarti laki-laki tidak pernah menerima komentar serupa, tetapi ya you know lah arah pembicaraan saya.
Jangan salah paham. Saya mencintai kampung halaman saya di Indonesia, dan saya yakin setiap orang yang datang berkunjung ke sana akan ingin kembali lagi suatu hari nanti. Tetapi kegelisahan ini terus tinggal di kepala saya: jika seorang hanya dipahami sebagai alat untuk memperoleh sesuatu bagi diri sendiri, bukankah itu mempersempit makna belajar?
Sudah beberapa bulan saya tinggal dan belajar di luar negeri, dan sejauh ini, saya memahami bahwa kesulitan terbesar menjadi seorang akademisi ternyata bukan sekadar mendidik diri sendiri (meskipun tentu saja itu juga sudah cukup melelahkan mengingat tumpukan bacaan yang bahkan saat ini masih belum saya sentuh). Kesulitan terbesar justru adalah mempertahankan ke-kepo-an pada pengetahuan yang bahkan (saya rasa) gak ada hubungannya sama disiplin ilmu dan penelitian saya.
Saya pernah masuk ke satu kelas, dan saya kaget karena di kelas itu, orang-orangnya gak peduli sebuah teks itu penting atau tidak buat mereka, yang penting adalah mereka tetap mendiskusikannya.
Mereka begitu “lapar” terhadap SEMUA bentuk pengetahuan, layak atau tidak, dianggap penting atau tidak, pokoknya mereka harus tahu dulu!
Sementara itu, di Indonesia, orang masih sibuk berdebat di X tentang “Emang penelitian tentang Taylor Swift itu penting, ya?”
Di kelas-kelas seperti yang tadi itu, gak ada tuh yang ngomong
“Nah! Yang kaya gini nih yang bermanfaat buatku!” atau “Oh, ini sih penting banget buat risetku.” sebelum melahap pengetahuan yang ada di muka mereka. Pokoknya, penting atau tidak, “Aku mau pelajarin dulu!”
Meninggalkan kampung halaman sejak remaja demi mengejar pendidikan membuat saya seperti ikan cupang di lautan, tapi meninggalkan Indonesia untuk menempuh pendidikan yang lebih tinggi ternyata membuat saya menyadari sesuatu yang lebih menyakitkan,
Jangan-jangan selama ini, jadi ikan cupang aja belum.
Sebab untuk menjadi ikan, saya harus bisa bernapas di dalam air, dan bernapas di dalam air berarti sadar bahwa air itu bukan cuma punya saya sendiri. Air yang saya hirup juga tempat buat ikan-ikan lain. Jadi, sejak awal semuanya memang tidak pernah cuma tentang saya.
Saya juga mengakui bahwa sebelumnya, saya merasa seperti putus-nyambung, cinta-gak cinta-kadang benci sama ilmu pengetahuan dan pendidikan. Saya bahkan gak pernah merasa se-cinta itu sama pengetahuan, dan saya juga gak yakin saya butuh merasa “cinta” sama pengetahuan.
Saya mikir lagi, mungkin yang saya rasakan selama ini bukan cinta, melainkan ya kepo saja sama sesuatu yang saya belum tahu. Saya harap gak aneh kalau saya ngomong gini:
Mungkin, orang bisa saja dapat pengetahuan tanpa harus benar-benar “mencintainya”, atau tanpa pula berharap pengetahuan itu akan menguntungkan dirinya sendiri. Persis seperti orang-orang ber-privilege yang hidupnya sudah enak tanpa harus bersusah payah seperti yang lain. Mungkin, di situlah dumelan saya terhadap anggapan bahwa seseorang yang memilih pendidikan tanpa ambisi pasti “hanya melakukannya demi cinta.”
Ya tapi kalau saya saja sebenarnya gak se-cinta itu gimana?
Gimana kalau nanti pada akhirnya, saya juga gak bisa metik apa yang saya tanam sekarang?
Saya mulai mikir, ah tapi gak rugi, kok. Toh, saya tetap berharap bahwa melalui pengetahuan dan pendidikan, setidaknya, saya tahu bahwa dunia ini bukan tentang saya saja.
Mungkin iya, kelihatannya sia-sia banget menghabiskan bertahun-tahun untuk sesuatu yang gak ada manfaatnya, tapi setidaknya, saya merasa masih lebih baik daripada tidak belajar sama sekali.
Ya, kalau nanti menyesal juga gakpapa, lah. Setidaknya, saya bisa dapat kesadaran baru tadi 😊
Oh iya, anggap saja tulisan ini sebagai refleksi yang klise, saya setuju kok. Saya sudah tidak berhasrat untuk membuktikan bahwa pandangan saya adalah sesuatu yang “benar” juga.
Suka-suka, lah. Intinya, saya sudah punya jawaban untuk orang yang bilang “Ngapain capek-capek kuliah?”
Mahasiswi Sastra dan Budaya Kontemporer di Loughborough, UK. Kadang nulis puisi dalam Bahasa Indonesia, kadang juga Bahasa Inggris. Pecinta tanda pisah (–).
Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.
Gack dulu, dech
Ayooo Berangkat!