(Wawancara ini diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Dedi Sahara, sumber: the Paris Review, interview by Peter H. Stone)

Gabriel Márquez diwawancarai di studionya yang terletak tepat di belakang rumahnya di San Angel Inn, sebuah bangunan tua dan indah, dipenuhi dengan bunga berwarna-warni yang spektakuler di Meksiko. Studio ini berjarak tak terlalu jauh dari rumah utamanya. Sebuah bangunan yang memanjang rendah, pada awalnya dirancang sebagai ruangan untuk menerima tamu. Di dalam, di salah satu ujungnya, ada sofa, dua kursi santai, dan replika bar—kulkas putih kecil dengan persediaan air mineral di atasnya. 

Fitur yang paling mencolok di ruangan itu adalah sebuah foto besar di atas sofa García Márquez; berdiri mengenakan mantel tanpa lengan, berlatar pemandangan hijau yang tampak seperti Anthony Quinn.

García Márquez duduk di depan meja kerjanya di ujung studio. Ia datang menyambut saya, berjalan cepat dengan langkah yang ringan. Ia merupakan pria yang kokoh, nampak seperti petarung kelas menengah unggulan—bertelanjang dada, tapi mungkin sedikit kurus di bagian kaki. Ia berpakaian santai dengan celana koduroi dan sweter turtleneck serta sepatu kulit berwarna hitam. Rambutnya cokelat gelap dan keriting, ia mempunyai kumis yang cukup lebat.

Wawancara berlangsung selama dua jam selama tiga pertemuan di sore hari. Meskipun bahasa Inggris-nya cukup baik, García Márquez lebih banyak menggunakan bahasa Spanyol dan kedua putranya menerjemahkannya. Saat Márquez berbicara, tubuhnya sering kali tak bisa diam. Tangannya sering membuat gerakan kecil tapi untuk menentukan atau menegaskan sesuatu, atau untuk mengekspresikangagasannya. Ia bergerak bergantian antara mencondongkan tubuhnya ke depan ke arah pendengarnya, dan duduk agak jauh ke belakang dengan kaki menyilang saat sedang berbicara reflektif.

PEWAWANCARA (P): Bagaimana sikap Anda dalam menggunakan tape recorder?

Gabriel Garcia Márquez (GGM): Persoalannya, saat Anda mengetahui bahwa wawancara itu sedang direkam, sikap Anda akan langsung berubah. Dalam hal ini, biasanya saya mengambil posisi defensif. Sebagai seorang jurnalis, saya kira belum terbiasa dengan penggunaan tape recorder untuk sebuah wawancara. Mungkin cara terbaik dengan memulai percakapan yang panjang tanpa harus membuat catatan apapun. Kemudian setelah itu, ia harus mengingat kembali percakapan dan menuliskannya lagi sebagai kesan apa yang ia rasakan, tanpa harus menggunakan kata-kata yang sebenarnya diucapkan. Cara lain yang mungkin berguna adalah membuat catatan lalu berusaha menafsirkannya dengan loyal untuk orang yang diwawancarai. Hal yang paling menjengkelkan dari tape recorder dalam sesi wawancara, karena yang terekam bukan hanya jawaban dari orang yang diwawancarai tapi juga pertanyaan-pertanyaan dan komentar bodoh kita. Itu sebabnya ketika ada tape recorder, saya sadar bahwa saya sedang diwawancarai; ketika tidak ada tape recorder, saya berbicara dengan sangat santai.

P: Anda membuat saya merasa sedikit bersalah menggunakannya, tapi saya pikir untuk jenis wawancara mungkin kita sangat membutuhkannya.

GGM: Intinya, semua perkataaan yang saya ucapkan hanya akan membuat Anda bersikap defensif.

P: Jadi Anda belum pernah menggunakan tape recorder untuk sebuah wawancara?

GGM: Sebagai wartawan, saya tidak pernah menggunakannya. Saya memiliki tape recorder yang bagus, tapi hanya digunakan untuk mendengarkan musik. Karena sebagai seorang wartawan, saya tidak pernah melakukan sebuah wawancara. Saya hanya mencatatnya atau melaporkannya, dalam hal mewawancarai saya tidak pernah membuat sebuah pertanyaan atau pun jawaban.

P: Saya dengar tentang salah satu wawancara yang sangat terkenal dengan seorang pelaut yang terdampar?

GGM: Itu bukan sebuah pertanyaan maupun jawaban. Pelaut hanya akan memberitahu saya perihal petualangannya dan saya akan menuliskan itu dengan berusaha menggunakan kata-katanya sendiri sebagai orang pertama, seolah-olah ia merupakan orang yang menuliskannya. Ketika karya tersebut dipublikasikan sebagai cerita bersambung di koran, satu bagian setiap harinya selama dua minggu, itu langsung ditandatangani oleh pelautnya, bukan oleh saya. Barulah setelah dua puluh tahun tulisan itu diterbitkan ulang dan orang-orang tahu bahwa saya yang menuliskannya. Tak ada seorang editor yang menyadari bahwa semua itu bagus setelah saya menulis novel One Hundred Years of Solitude (Seratus Tahun Kesunyian).

P: Karena kita telah mulai membicarakan jurnalisme, bagaimana rasanya menjadi seorang jurnalis lagi, setelah begitu lama menulis novel? Apakah Anda merasakan suatu perbedaan atau pandangan yang berbeda?

GGM: Saya selalu percaya bahwa profesi saya yang sebenarnya adalah seorang wartawan. Apa yang sebelumnya tidak saya sukai tentang jurnalisme, yakni kondisi kerjanya. Selain itu, saya harus mengondisikan ide-ide saya untuk kepentingan koran tersebut. Saat ini, setelah saya menjadi seorang novelis, serta setelah mapan dalam hal keuangan, saya bisa bersungguh-sungguh memilih tema yang menurut saya menarik dan sesuai dengan gagasan saya. Dalam kasus apa pun, saya sangat menikmati kesempatan ini untuk menuliskan karya besar jurnalistik.

P: Seperti apa sebuah karya besar dalam jurnalistik bagi Anda?

GGM: Hiroshima karya John Hersey itu karya yang luar biasa.

P: Apakah ada cerita untuk hari ini terutama yang sangat ingin Anda tuliskan?

GGM: Ada banyak, dan beberapa sebetulnya telah saya tuliskan. Saya telah menulis tentang Portugal, Kuba, Angola, dan Vietnam. Saya ingin sekali menulis tentang Polandia. Saya kira jika saya dapat menjelaskan dengan baik tentang peristiwa yang saat ini terjadi, itu akan menjadi cerita yang penting. Tapi saat ini Polandia sangat dingin; saya seorang wartawan yang menyukai kenyamanan.

P: Menurut Anda apakah novel dapat melakukan hal-hal tertentu yang jurnalisme tidak dapat lakukan?

GGM: Tidak ada. Saya tidak pernah berpikir ada suatu perbedaan. Sumber yang sama, bahan yang sama, sumber daya dan bahasa yang sama. The Journal of Plague Year karya Daniel Defoe adalah novel yang sangat bagus dan juga Hiroshima merupakan karya terbesar jurnalistik.

P: Apakah wartawan dan novelis memiliki tanggung jawab yang berbeda dalam menyeimbangkan imajinasi dan kebenaran faktual?

GGM: Dalam kerja jurnalisme, (jika ada) kesalahan dalam satu fakta itu merupakan prasangka yang keliru. Sebaliknya, dalam fiksi sebuah fakta tunggal yang berlaku dapat memberikan legitimasi untuk seluruh pekerjaannya. Itulah perbedaannya, dan itu terletak pada komitmen penulisnya. Seorang novelis bisa melakukan apapun yang diinginkannya sejauh ia dapat membuat orang mempercayainya.

P: Dalam sebuah wawancara beberapa tahun silam, sepertinya Anda tampak kagum menjadi seorang wartawan lagi?

GGM: Saat ini, saya mengalami kesulitan untuk menulis ketimbang sebelumnya, baik novel atau pun tulisan jurnalistik. Ketika saya bekerja di salah satu surat kabar, saya tidak pernah fokus untuk setiap kata yang saya tuliskan, sedangkan sekarang kebalikannya. Saat saya bekerja untuk El Espectador di Bogotá, saya diberi tugas untuk menulis tiga cerita dalam seminggu, dua atau tiga catatan editorial setiap hari, dan juga saya menulis review film. Di malam harinya, setelah semua orang sudah pulang, saya tetap tinggal untuk menulis novel. Saya menyukai suara bising mesin Linotype, yang terdengar seperti suara hujan. Bila mesin itu berhenti berputar hingga yang tersisa hanya keheningan, saya tidak dapat bekerja. Sekarang, output-nya relatif kecil. Di hari kerja yang baik, bekerja dari jam sembilan pagi sampai jam dua atau tiga sore, paling saya hanya dapat menulis sebuah paragraf singkat dalam empat atau lima baris, yang biasanya saya robek keesokan harinya.

P: Apakah perubahan tersebut berasal dari karya-karya Anda yang telah banyak mendapatkan pujian atau berhubungan dengan jenis komitmen politik?

GGM: Dari keduanya. Saya kira bahwa gagasan saya untuk menulis lebih banyak ketimbang yang pernah dibayangkan orang-orang telah membuat saya memiliki tanggung jawab tertentu dalam sastra dan politik. Bahkan ada juga kebanggaan bahwa saya tidak ingin mengecewakan apa yang telah saya lakukan sebelumnya.

P: Bagaimana Anda mulai menulis?

GGM: Dengan menggambar. Dengan menggambar kartun. Di rumah dan di sekolah, sebelum saya bisa membaca atau menulis saya gunakan waktu saya untuk menggambar komik. Lucunya, saya sekarang menyadari bahwa saat saya masih SMA saya memiliki reputasi sebagai penulis, meskipun sebenarnya saya tidak pernah menulis sesuatu. Jika ada sebuah pamflet atau surat permohonan yang tersebar, saya merupakan satu-satunya orang yang diduga sebagai penulisnya.

Ketika saya masuk kuliah kebetulan saya memiliki latar belakang sastra yang baik yang secara umum, jauh di atas rata-rata teman-teman saya. Di Universitas di Bogotá, saya mempunyai teman baru dan beberapa kenalan, yang kemudian memperkenalkan saya kepada para penulis kontemporer. Suatu malam seorang teman meminjami saya kumpulan cerpen karya Franz Kafka. Setelah itu saya kembali ke tempat saya menginap serta mulai membaca Metamorfosis. Kalimat pertama hampir membuat saya terjatuh dari tempat tidur. Saya sangat tercengang. Ketika saya membaca baris pertama yang berbunyi, “Gregor Samsa pagi itu terbangun dari mimpinya yang gelisah, di atas tempat tidurnya ia mendapati dirinya telah menjadi serangga raksasa…”. Saat saya membaca baris itu saya berpikir bahwa siapa pun diperbolehkan menulis hal-hal semacam itu. Jika saja saya tahu, saya akan mulai menuliskannya sejak dulu.

Saya pun langsung menulis cerpen. Sebuah cerita pendek yang cenderung intelektual karena saya menuliskannya berdasarkan pengalaman saya dan belum menemukan hubungan antara sastra dan kehidupan. Cerpen-cerpen tersebut diterbitkan di kolom sastra El Espectador, Bogota, dan meraih kesuksesan pada masanya—mungkin karena di Kolumbia waktu itu, tak ada yang menulis cerpen intelektual. Yang ditulis pada umumnya mengenai kehidupan di pedesaan atau kehidupan sosial. Saat saya menulis cerpen-cerpen pertama saya, banyak yang menduga bahwa cerpen-cerpen tersebut banyak dipengaruhi oleh Joyce.

P: Apa Anda juga membaca Joyce pada waktu itu?

GGM: Saya belum pernah membaca Joyce sehingga saya mulai membaca Ulysses. Itu pun saya baca dalam versi bahasa Spanyol. Kemudian saya membaca Ulysses dalam bahasa Inggris dan terjemahan Perancis yang cukup baik, hingga baru saya sadari bahwa terjemahan asli Spanyol sangat buruk. Tapi saya mendapatkan sesuatu yang sangat berguna di masa-masa saya belajar menulis teknik monolog interior. Kemudian saya membaca Virginia Woolf, dan saya menyukainya karena tekniknya lebih baik dari Joyce. Meskipun kemudian baru saya sadari bahwa orang yang menemukan teknik monolog interior ini adalah seorang penulis tak dikenal dari Lazarillo de Tormes.

P: Dapatkah Anda menyebutkan beberapa nama yang berpengaruh bagi Anda?

GGM: Orang-orang yang benar-benar membantu saya untuk menyingkirkan sikap intelektual pada cerpen-cerpen saya adalah penulis-penulis American Lost Generation. Saya sadar bahwa kesusastraan mereka memiliki sesuatu yang tidak saya miliki dalam cerpen-cerpen saya, yakni hubungannya dengan kehidupan. Sampai suatu ketika terjadilah suatu peristiwa yang sangat penting hubungannya dengan sikap saya ini. Peristiwa itu adalah Bogotazo, pada 9 April 1948 saat seorang pemimpin politik, Gaitan, ditembak dan segerombolan massa mengamuk di jalanan. Saya sedang berada di penginapan dan saat mendengar beritanya ketika saya hendak menyantap makan siang. Saya berlari ke tempat kejadian tersebut, tapi Gaitan baru saja diangkut oleh sebuah taksi dan dilarikan ke rumah sakit. Dalam perjalanan kembali ke penginapan, orang-orang sudah ramai berdemonstrasi di jalanan, menjarah pertokoan dan membakar gedung. Saya bergabung bersama mereka. Siang dan sore itu, saya sadar akan negri seperti apa yang sedang saya tinggali, dan seberapa minimnya hubungan cerpen-cerpen saya dengan semua hal itu. Sampai akhirnya saya pun terpaksa kembali ke Baranquilladi Caribbean, di mana saya menghabiskan masa kecil saya, saya sadar bahwa kehidupan seperti itulah yang pernah saya hidupi, ketahui, dan ingin saya tuliskan.

Sekitar tahun 1950 atau ’51-an terjadi peristiwa lain yang sangat mempengaruhi sikap saya dalam kesusastraan. Saat itu ibu meminta saya untuk menemaninya ke Aracataca, tempat saya dilahirkan, untuk menjual rumah di mana saya menghabiskan masa kecil saya. Setelah sampai di sana, pada awalnya cukup mengejutkan saya, yang waktu itu menapaki usia 22 tahun sejak 8 tahun kepergian saya dari rumah tersebut. Tak ada yang benar-benar berubah, tapi saya merasa tidak lagi benar-benar mengenali desa itu, saya mengalaminya seakan-akan saya membacanya. Seakan-akan segala sesuatu yang saya lihat ini sudah saya tuliskan sebelumnya, dan hal yang harus saya lakukan adalah duduk untuk menuliskan apa yang sedang saya alami dan apa yang mampu saya baca. Sebab secara praktis segalanya berubah menjadi sastra; rumah, orang-orang, dan kenangan.

Saya tidak yakin apakah saya pernah membaca Faulkner atau tidak, tapi saat ini saya tahu bahwa hanya dengan teknik Faulkner yang memungkinkan saya dapat menuliskan apa yang sedang saya lihat. Atmosfer, kebobrokan, panas di desa itu yang kurang lebih sama dengan apa yang telah saya rasakan dalam Fauklner. Itu wilayah penghasil pisang terbesar yang perkebunannya dihuni oleh orang-orang Amerika dari korporasi buah, menampilkan jenis suasana yang sama yang pernah saya temukan dalam penulis Deep South. Beberapa kritikus mengatakan perihal pengaruh Fauklner, tetapi saya melihatnya hanya sebagai kebetulan saja: saya hanya menemukan suatu bahan yang harus ditangani dengan cara yang sama dengan Fauklner.

Dari perjalanan saya ke desa, tiba-tiba muncul kembali keinginan untuk menuliskan Leaf Storm, novel pertama saya. Apa yang sesungguhnya terjadi dengan saya dalam perjalanan ke Aracataca bahwa saya menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi di masa kecil saya itu, sesungguhnya memiliki nilai sastra yang baik yang baru saya sadari sekarang. Saat saya menulis Leaf Storm, saya menyadari bahwa saya ingin menjadi seorang pengarang dan bahwa tak seorang pun dapat menghentikan saya, dan satu-satunya yang bisa saya lakukan adalah terus berusaha menjadi penulis terbaik di dunia. Itu pada tahun 1953, sampai pada tahun 1967 saya telah mendapatkan royalti pertama saya setelah menuliskan lima dari delapan buku saya.

Profil Penulis

Dedi Sahara
Dedi Sahara
mahasiswa sastra Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Bagian dari kelompok belajar Lingkar Studi Filsafat (LSF) Nahdliyyin dan Lingkar Studi Psikoanalisa. Menulis puisi, esai, dan menerjemahkan karya sastra atau artikel ilmiah.