Proses Produksi Film Sandekala: Film karya Sineas Lokal yang Tembus Festival Nasional dan Internasional!

Kabar membanggakan datang dari para sineas muda Purwakarta, film pendek Sandekala yang diproduksi oleh komunitas film independen asal Purwakarta yaitu Dream Creative Space terpilih sebagai Official Selection Festival Film Horor Pacitan, sebuah festival film horor yang diprakarsai oleh Garin Nugroho bersama jejaring Jogja-NETPAC Asian Film Festival, Ruang Film Pacitan, dan Pemerintah Kabupaten Pacitan.

Tak hanya berhenti di tingkat nasional, film Sandekala melejit lebih tinggi ke tingkat internasional setelah lolos tahap pertama kurasi di dua ajang berbeda, yaitu Lift-off Global Network 2026 di Inggris dan Vision Film Festival di Italia.

Melalui Vikbot, sutradara dari film Sandekala, kami mencoba menggali informasi lewat wawancara. Berikut petikannya:

Assalamualaikum Kang Vikbot!

Waalaikumsalam Minpang!

Nah, pertama-tama saya jujur belum nonton filmnya. Jadi film pendeknya itu bercerita tentang apa?

Filmnya sendiri bercerita tentang sebuah rekaman behind the scene sekumpulan kru film yang sedang melakukan proses syuting di salah satu daerah di Purwakarta. Saat proses syuting berlangsung, kru mulai mengalami gangguan yang tak bisa dijelaskan. Gangguan ini ternyata berkaitan dengan mitos dan pantrangan yang ada di daerah tersebut dan juga Nyai Ronggeng, sosok penari dari legenda lokal yang merasa terusik oleh kehadiran mereka.

Kalau behind the scene-nya sendiri, apakah pengambilan gambarnya bergaya found footage seperti film The Blair Witch Project gitu?

Nah iya betul, kita ingin mengeksplorasi horor yang lebih, entah itu dari cerita maupun pengalaman sinematik found footage yang berkesan lebih terasa real.

Kalau lokasi syutingnya di mana, tuh?

Untuk lokasi syuting sendiri kita di Ujung Aspal, Wanayasa. Lokasi tersebut juga lokasi syuting Sandekala yang pertama, dan ada beberapa hal yang cukup menarik. Dari cerita-cerita warga setempat tuh ada beberapa hal yang hampir sama kaya yang di buat di film Sandekala yang pertama, seperti orang hilang, pantrangan, dan sosok fiksi ‘nyai’ yang kita buat pun mereka juga bilang bahwa ada sosok seperti itu di sana yang bernama Nyai Ronggeng, dan cerita-cerita itu kami kembangkan, lalu kami pakai lagi di film Sandekala 3 ini.

Berarti Kang Vikbot belajar film sejak kapan?

Saya belajar film sewaktu sekolah SMK, selebihnya otodidak.

Wih, keren loh otodidak gitu. Banyak trial and error-nya dong kalau otodidak mah.

Ya, lumayan lah.

Sewaktu otodidak nih, akses Akang ke alat-alat produksi filmnya gimana?

Kita biasanya kolektifan sama temen-temen yang lain sih, untuk alat-alat, dan kalo gak ada ya biasanya sewa.

Berarti Akang pecinta film garis keras dong. Apa nih film favoritnya? Atau film apa yang membuat Kang Vikbot jatuh cinta sama film?

Gak, gak garis keras juga haha. Film favorit sih kalo luar The Shawshank Redemption. Kalo film Indonesia yang cukup jadi core memori sih Rumah Dara.

Widih, bagus banget emang tuh Shawshank Redemption. Skor di Rotten Tomatonya sempurna. Terus adegan buang sisa galian tembok lewat celana itu dipake di banyak film. Rumah Dara edun, sih.

Asli, character development, naratifnya, kek lagi gak nonton film itu. Untuk film Indonesia Rumah Dara pada masa itu edun, di tengah gempuran film-film horor yang jual adegan porno sih itu bagus, ya.

Kalau Dream Creative punya-nya Kang Vikbot?

Betul sekali.

Ceritanya bisa tembus nasional gitu gimana Kang? Ikut Festival film ya?

Iya, kalo film pendek biasanya kita distribusiin buat festival-festival, kalo beberapa mini series yang pernah kita bikin baru buat publish di medsos.

Kerjasama dengan pihak mana aja nih Kang dalam proses pembuatan Film Sandekala ini?

Waktu itu kalo untuk lokasi kita dibantu sama Pokdarwis, dan ketika screening terbatas pertama kali kita dibantu Ekraf untuk fasilitas tempatnya, dan ada juga beberapa temen-temen yang bantu support kita ketika produksi

Pas Nasional diputar di festival film mana, Kang?

Kemarin kita masuk festival film horror indonesia yang di selenggarain di pacitan

Kalau yang internasional itu festival film apa namanya dan cerita masuknya gimana tuh?

Kita kemarin ada masuk selection di Festival Vision di Italia, dan juga Lift off Global Network UK yang sekarang sedang tayang screen online di Vimeo dan juga bisa di-vote buat nanti masuk nominasi Season Awards-nya Lift off Global.

Kalau untuk masuknya sih, kita coba buat submit-submit aja ke beberapa festival yang sedang open submisi, dan Dreams sendiri kebetulan untuk kedepannya selain festival-festival nasional. Kami juga bakalan terus memperluas distribusi karya-karya kita ke festival-festival internasional. Jadi, dua selection yang didapetin Sandekala kemarin sih sebuah awal yang cukup membakar semangat lah ya, dan kami juga masih nunggu beberapa notifikasi lagi dari dari festival-festival luar untuk Sandekala ini.

Wah, keren-keren. Kalau mau vote buat dukung ke website mana tuh?

https://liftoff.network/lift-off-sessions-2026-volume-1/  kita ada di kategori New Voices.

Kalau filmografi nih, Kang, udah bikin berapa film?

Kalau yang saya sutradarain ada 3 film pendek and 2 webseries.

Wah, sudah banyak juga nih.

Sutradara yang jadi panutan siapa nih, kang?

Wah siapa ya? kayaknya Angga Sasongko.

Kalau ada pembaca Nyimpang yang pengen belajar bikin film ke Kang Vikbot atau gabung komunitas film di Purwakarta gitu ada gak ya?

Kalau ada yang ingin belajar bareng, bisa langsung kontak ke dreams atau bisa juga ke saya pribadi, kami sangat sangat terbuka kok untuk kolaborasi atau kerjasama dengan siapa pun.

Terima kasih Mas Vikbot atas kesempatan wawancara dan segala keramahannya. Semoga karirnya semakin menyala, Filmnya tambah banyak, banyak yang nawarin pendanaan untuk bikin film.

Amin! Sukses juga buat Nyimpang.

Author

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You might also like
cratosroyalbet | primebahis | casibom | vaycasino |