Wanita yang Kencing Sambil Berdiri

Aku mengenal Padma sudah cukup lama, seorang wanita yang hidup seperti batu berjalan, bahkan sebelum keadaannya menjadi seperti sekarang, ia harus menjalani peran ganda antara menjadi ibu dan seorang vigilante.

Bukan, bukan vigilante bertopeng layaknya dalam film-film, seperti seseorang yang bangun dan berkeliaran di tengah malam untuk menegakkan keadilan. Ia tidak memakai topeng seperti Daredevil ataupun kostum Spider-Man, atau dalam konteks Padma, Spider-Woman, yang aku yakin jika ia memakai kostum seperti karakter tersebut, akan membuatku tidak sanggup berbicara lama-lama dengannya tanpa pulang dan memaksa keadilan untuk tegak juga di bagian bawah tubuhku.

Untuk Padma sendiri, kecuali memakai topeng dan berkeliaran di tengah malam, ia memang menjalankan semua pekerjaan vigilante seperti di film-film. Hal itu termasuk begadang sampai pagi dan membela hak orang banyak. Bahkan perihal begadang, dapat kukatakan jam kerjanya jauh lebih banyak daripada Batman, sebab pagi hari, Batman bisa jadi sudah tertidur setelah kelelahan melawan penjahat semalaman, Padma masih akan terjaga, duduk di depan laptop dengan jari tak berhenti mengetik, mengetik, dan mengetik.

Di sisi lain, semangatnya dalam menuntut kebenaran dan bayaran atas setiap naskahnya, secara tak langsung bertabrakan dengan posisinya sebagai seorang single parent.

Mengurus anak yang baru lahir dan tidak punya pilihan untuk libur selain dengan menghabiskan sisa tabungan dari sebuah pekerjaan lepas membuat Padma harus melakukan double job, menyusui anak sambil mencari uang untuk susunya, mengganti popok sambil berpikir dari mana akan dapat uang untuk popok itu sendiri.

Aku beberapa kali sempat menawari bantuan, yang disambut olehnya dengan jari tengah terangkat di depan wajahku, menegaskan bahwa ia tak perlu bantuan dari orang lain. Menegaskan bahwa ia sanggup menjalani hidupnya yang porak-poranda meskipun harus memotong uang makannya sendiri, serta mencari sampo dan sabun mandi dengan harga yang lebih murah untuknya, atau di titik pengorbanan yang lebih ekstrem, menjadikan sampo sachet-nya berperan ganda, turut menjalankan peran sabun dalam ritual mandi.

Tulisan-tulisan Padma sendiri membahas tentang banyak hal, dari yang terkecil hingga terbesar, yang paling sederhana hingga paling rumit, dari yang menguntungkan hingga membahayakan. Penggusuran tanah paksa, pembongkaran pemukiman warga desa, patronase preman pasar yang meresahkan pedagang, hingga yang paling sering, pembelaan kasus pemerkosaan, terkhusus ketika korbannya malah dituduh balik menghasut dan merayu pelaku.

“Kalau benar perempuan-perempuan itu merayu pelaku hingga berakhir digilir tiga orang, tidak akan ada lonte yang berani pasang harga tinggi untuk ditiduri!” ucapnya suatu hari saat kami duduk berdua di ruang tamu.

Kami berbisik agar tak membangunkan Naura. Padma mengaku siap mematahkan leherku jika bayi yang sudah setengah mati ia tidurkan itu terbangun karena suaraku. Percakapan yang terjadi pada malam musim panas tiga tahun lalu, membuatku dan Padma harus merobek beberapa potongan kardus mi untuk dijadikan kipas.

“Bisa jadi, apa motif yang membuat kemungkinannya tidak ada?”

“Tak perlu motif, aku percaya setiap wanita punya harga diri, pun jika memang tak ada, mereka pasti tahu diri mereka harus dihargai berapa.”

“Maksudnya?”

“Yah mereka pasti tahu, berapa yang harus orang-orang bayar untuk diri mereka, baik uang ataupun kelayakan, kalau tak ada uang dan kelayakan, yang paling masuk akal hanya dirampok paksa, gratis, dan di bagian itu, tidak semua perempuan bisa melawan.”

“Menurutmu setiap perempuan punya kesadaran itu?”

“Kuharap.”

Padma adalah wanita yang tajam. Pikiran, tatapan, dan wajahnya hanya membawa satu kesan bagi orang-orang yang mengenalnya: menusuk, dalam artian dikotomis.

Apalagi untuk laki-laki, kau tidak punya pilihan dalam berhubungan dengan Padma selain terus-terusan tertusuk di hati hingga menjadi musuh, atau terus-terusan tertikam rasa kagum hingga jatuh cinta. Seringnya, lelaki yang menjalin “terjebak” dalam hubungan oleh Padma, merasakan keduanya, entah secara bersamaan atau berurutan.


Mungkin itulah yang juga dirasakan oleh Rendi, lelaki yang memutuskan menikahinya empat tahun lalu. Sebelum setahun setelahnya aku mendengar kabar bahwa Rendi menceraikan Padma, sebulan setelah wanita itu melahirkan Naura.

“Rwendi itwu bwukan gwentwlemwan swepwertwi dwi pwikwirwan awnwak-awnwak kwampwus dwulwu,” ucap Padma dengan mulut setengah penuh, mengunyah dua buah bakso sekaligus, bakso yang ia titip karena saat itu merasa akan demam dan mau makan yang hangat-hangat. Saat itu musim hujan, dua tahun lalu, kami mengobrol sore sambil menonton Naura yang mulai belajar berjalan, berpegangan pada tepi kursi sambil melangkah dengan kaki kecil yang sesekali masih bergetar.

“Kunyah dulu!”

“Kubilang, Rendi itu bukan gentleman seperti yang dipipikirkan anak-anak kampus dulu.” Padma akhirnya kembali berucap setelah mendorong kunyahan tadi ke ujung tenggorokan dengan kuah bakso.

“Kenapa kau bilang begitu?”

“Dia itu pengecut, meninggalkan anak dan istrinya karena tak bisa mendominasi rumah?”

“Mendominasi rumah?”

“Dia merasa tak cukup jantan buatku,”

“Dari mana kau tahu?”

“Dia sendiri yang bilang, katanya, ‘aku tak tahan harga diriku diinjak-injak terus di rumah’.'”

“Itu bisa jadi kamu yang terlalu keras memang.”

“Eh, kalau aku tidak keras, mau bertahan hidup bagaimana? Dia itu sudah terbiasa hidup pakai uang bapaknya, giliran nyari uang sendiri kalang kabut. Bayangkan! Bisa-bisanya penghasilan penulis lepas sepertiku lebih besar dari omset bulanan perusahaannya, belum lagi kantornya setelah itu jadi banyak utang dan nunggak gaji karyawan, syukur-syukur bukan kantornya yang kuliput kemarin.”

“Mungkin dia juga lagi tertekan karena banyak gagal.”

“Begitulah laki-laki, selalu merasa bisa menyelesaikan masalah, giliran gagal di tengah jalan, langsung putar balik, kabur.”

“Menurutmu semua laki-laki seperti itu?”

“Sepertinya.”

Aku sendiri tidak heran dengan jalan pemikirannya, Padma memang selalu seperti itu. Sejak aku mengenalnya saat kuliah, ia selalu menjadi benteng kokoh, teguh, dan kuat. Selain itu, ia juga pragmatis, selalu fokus terhadap solusi, dan tidak ragu mengambil keputusan ekstrem, baik secara logika, maupun perasaan.

Meskipun sudah mengetahui itu sejak dulu. Motif dari karakter Padma yang ini baru bisa kupahami di pertemuan kami saat ini, tahun ketiga semenjak perceraianya, tahun ketiga semenjak Naura ada di hidupnya.

“Kau tahu, kenapa aku tak rujuk dengan Rendi?”

“Dia meminta, kan?”

“Iya, kutolak.”

“Kenapa?”

“Ya, kan tadi ini mau cerita.”

“Ya, jangan marah-marah dong.”

“Kau tahu?”

“Tidak, kenapa memang?”

“Aku tak percaya padanya.”

“Bahwa dia akan lari lagi karena tertekan?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Aku sudah tidak percaya lagi akan ada yang peduli.”

“Maksudnya?”

Padma menghela napas, berat, hembusannya seperti membawa beban yang bisa membuat sensor timbangan bergerak ke angka satu kilo.

“Aku sudah tidak percaya, kalau aku bisa hidup di dunia ini dengan orang yang peduli padaku, laki-laki atau perempuan sama saja, semua akan lari kalau sudah merasa terancam.”

Aku terdiam sejenak, mencoba mencerna kalimat berkonteks putus asa yang baru pertama kali kudengar keluar dari mulut wanita itu. Memastikan bahwa aku tidak sedang berkhayal.

“Lah, tapi aku peduli padamu.”

“Kau pernah merasa terancam?”

“Sering” ucapku bercanda, Padma hanya tertawa kecil sambil memukul bahuku dengan tangan dikepal, agak terlalu keras sehingga aku harus sedikit meringis di tengah tawa yang sebenarnya kubuat-buat.

“Lalu Naura? Kau peduli padanya, kan? Bagaimana mungkin kau lari darinya, dan bagaimana mungkin juga kau akan merasa terancam dengannya?” aku melanjutkan, mencoba menyelaraskan penghakiman Padma secara general, termasuk pada dirinya sendiri.

Wanita itu hanya tersenyum, menatapku dalam sebelum kembali berucap.

“Itu pertanyaan bagus.”

“Tidak usah ulur waktu dengan pujian, kau tidak bisa jawab, kan?”

“Bisa, aku.”

“Coba.”

“Untuk menghindari itu, aku harus terus jadi kuat dan keras, agar tidak merasa terancam dan bisa terus bersamanya.”

“Kalau akhirnya dia yang merasa terancam?”

“Kalau seandainya begitu, setidaknya saat itu ia sudah cukup dewasa untuk mengerti hukum dunia, setidaknya saat itu, meskipun pergi dariku, ia sudah cukup kuat untuk berdiri dengan kaki sendiri.”

Percakapan kami hari ini diiringi oleh angin sepoi-sepoi yang berhembus dari jendela, membawa hawa dingin juga hangat di saat bersamaan, menandakan masa pergantian musim, percakapan yang seketika disela oleh Naura, yang tiba-tiba datang dan merengek di paha ibunya, menunjuk-nunjuk pantat pertanda popoknya sudah jebol dan harus diganti.

“Eh tunggu-tunggu, pegang dulu dia, aku juga lagi pengen kencing.” Padma mengangkat anak itu dengan nada panik, menyerahkan Naura padaku yang sigap menyambut.

“Tahan dulu, bentar, kok.”

Naura mulai menangis, melihat ibunya yang malah pergi menjauh di saat popoknya mulai genting. Diikuti dengan tubuhnya yang mengamuk, mencoba meraih sang ibu yang tengah berlari kecil ke WC, menahan kencing.

“Sabar, ya, Nak.” ucap Padma saat menuju toilet.

Ia melangkah masuk, menaikkan sedikit dasternya lalu menurunkan sesuatu dari selangkangan yang, menurut perkiraanku, itu adalah celana dalam hingga ke bawah lutut, mencondongkan badannya ke kloset, lalu currrr. Kencing sambil berdiri. Semuanya itu terjadi dengan pintu WC yang tidak sempat lagi Padma tutup, membuatku harus menyaksikan setiap detail kejadian tersebut dengan jelas.

Tak sampai berapa detik sebelum ia kembali dari WC, dan mengambil Naura yang amukannya mulai tak terkendali oleh gendonganku.

Wow, tadi itu…”

“Harus punya skill begitu kalau kau hidup sebagai single parent.” ucapnya sambil berlalu. Membawa Naura segera untuk mengganti popok.

Pulang dari pertemuan dengan Padma, aku langsung berbaring di kasur, memikirkan rangkaian percakapan tadi. Tentang Rendi, Padma, dan Naura. Ada sedikit perasaan lucu yang muncul saat membayangkannya, yang membuat bibirku sedikit menyunggingkan senyum, namun rasa iba yang datang setelahnya menahan senyumku dari menjadi terlalu lebar.

Rangkaian percakapan tentang kepedulian, keterancaman, tentang bagaimana prinsip keadilan Padma dan penilaiannya terhadap manusia.

Aku sendiri tidak percaya dan tidak akan setuju dengan semua kemungkinan Padma terhadap Naura, tapi ia berpikir adil, dan bersiap dengan konsekuensi keadilannya, membuatku seperti tertusuk oleh pikiran wanita itu, mungkin tersinggung, mungkin juga kagum.

“Apakah semua orang bisa berpikir seperti itu?”

Aku bertanya pada langit-langit kamar, menuntut jawaban yang aku tahu tak mungkin ia berikan.

“Semoga.” aku menjawab sendiri.

Akhirnya, dengan suara di pikiranku sendiri yang entah mengapa terasa seperti suara Padma.

Aku membetulkan posisi berbaring, memeluk bantal guling, bayangan tentang Padma di toilet tadi kembali terbayang. Memaksaku untuk kembali bangkit, mengambil HP di atas meja, bersiap untuk menegakkan keadilan yang kembali dituntut oleh tubuh bagian bawah.

Sedang menempuh pendidikan Sastra Arab di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Menyukai buku filsafat, sastra, dan psikologi. Bermimpi untuk melanjutkan pendidikan hingga tamat magister di negeri para nabi. Instagram @kokosemma__

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!