Wanita Bertelapak Kaki Besar Sebelah

Awalnya aku pun tak mengerti. Aku rasa ini semua tiba-tiba terjadi, menyusuri besi ini. Yang kuingat hanya arah, barat.

Langkah pertamaku bermula di perlintasan rel Margomulyo, tepat di belakang pom bensin yang baunya pesing bercampur debu dan deru truk tronton yang mengular tak ada habisnya. Sebelum itu sebenarnya kakiku telah lebih dulu lelah menelan jalanan Surabaya. Dari Wiyung melintas menuju utara, membelah Darmo Permai yang terasa asing meski kerap kulewati sebelumnya. 

Kota ini ingin kutinggalkan sedikit demi sedikit, dengan harapan setiap langkah menjauhkan aku dari sesuatu yang terus mengendap di kepala, tak sudi kusebut, dan menolak untuk pergi. Mual terus-terusan ketika sunyi tiba-tiba menghampiriku. Tak jelas, tak bisa dijelaskan.

Surabaya adalah sebuah susunan yang membangun otakku menjadi bangunan penuh kenangan. Di dalamnya, ruang-ruang terisi penuh, nyaris tanpa celah, dipenuhi oleh kejadian-kejadian yang mau tak mau harus terjadi. Tak ada lagi tempat kosong untuk bernapas, setiap sudut menyimpan sesuatu yang menunggu diingat, meski aku tak pernah meminta ingatan itu menetap. Baik buruknya kenangan adalah sebuah takdir yang tak bisa dielakkan. Ada kalanya aku menolak takdir, menghardik kenyataan, dan lupa bahwa Tuhan memang ada.

Barangkali sebab itulah aku memilih menyusuri jalan panjang dan lurus. Cukup mengikuti besi panjang keras, dingin dan tak mudah berbelok dengan tiba-tiba. Tak seperti mereka-mereka yang membelot berpaling dengan mudahnya. 

Tak ada sedikitpun yang kini menjadi pemberat untuk meninggalkan Surabaya. Sebagai penulis pun tak ada alasan yang mengharuskanku tetap di kota ini. Sudah terlalu sempit kota ini. Dari megahnya Tunjungan hingga sempitnya gang-gang Ketandan tak luput dari karya-karyaku. Menulis tentang kegelisahan, atau mungkin menulis tentang kegagalan.

Perjalanan panjang ini pun mungkin akan mendapatkan lebih banyak ruang untuk berkarya. Pikirku seperti itu. Pikiran seseorang yang bahkan tak paham untuk apa dia berjalan.

Benar, aku seorang penulis. Namun hari ini makna profesi itu terasa kian ambigu. Di Dukcapil pun, pilihan profesi penulis tak tersedia—kalah pamor dibandingkan tukang cukur yang jelas diakui dan dapat tercantum dalam KTP. Namun, aku masih dengan bangga mengenalkan profesi ini kepada orang-orang yang baru kukenal. Ada jeda singkat setiap kali kata itu keluar dari mulutku, seolah mereka menimbang pekerjaan semacam itu masih layak dipercaya atau tidak. Tentu saja aku tak merasa perlu menjelaskan lebih jauh.  

Selain itu memang hidupku ditopang oleh penghasilan dari menulis, tak banyak pastinya, tapi memang itulah satu-satunya pundi-pundi untukku. Jadi tak ada alasan yang menggugurkan status profesiku ini.

Setelah berjalan sekitar satu jam, sampai lah aku di stasiun Kandangan. Ada percabangan rel disini, jalur utama menuju barat, dan ada jalur ke arah utara menuju stasiun Indro di Gresik. Aku berdiri sebentar untuk memastikan arah.

Sejak awal aku memang tak pernah pandai membelot, tak akrab dengan belokan, benci pada ketidaksetiaan, atau segala bentuk berpaling yang mengharuskan seseorang meninggalkan garis awalnya. Maka tanpa banyak pertimbangan, dan dengan kebencian pada belokan, aku melanjutkan langkahku ke depan. Tetap lurus. Setia. 

Setiap langkah ku tulis rapi pada ingatan. Berapa kali dalam satu jam kereta lewat menuju barat, berapa kali menuju timur. Hingga sampailah aku di stasiun paling ujung barat Surabaya, Stasiun Benowo. 

Aroma kurang sedap bergelantungan mengikuti arah angin, yang seperti sengaja mengarah ke selatan. Tepat sekali, sebelah utara sekitar satu kilometer gunung sampah berdiri dengan sombongnya. 

Aroma-aroma busuk itu seakan dengan sengaja menebeng angin menuju ku yang berada di sebelah selatan. Angin yang biasanya ragu berputar-putar tanpa keputusan, hari ini tampak yakin. Ia tahu ke mana harus pergi, dan tahu siapa yang akan menerimanya.

Tak apa. Walau tidak enak untuk dihirup, aku menghargai segala sesuatu yang memiliki tujuan pasti. Bahkan sesuatu yang lahir dari pembusukan pun suatu waktu akan bergerak dengan arah yang jelas. Termasuk aroma busuk itu. 

Tapi apakah keyakinanku ini memupuskan keyakinanku sebelumnya? 

Orang membelot, belok, atau tidak setia pun juga punya tujuan yang berubah di tengah jalan, dan ketika ada kesempatan mereka memanfaatkannya dengan baik. Seperti aroma busuk yang mengarah padaku, ketika ada angin yang terlihat kuat ia menungganginya. Ya, mungkin mereka sama. Sama apa ya?

Sama-sama busuk mungkin.

Ah tidak, aku tak pantas menghardik orang lain. 

Aku selalu tertawa dalam hati ketika berhasil mengelaborasi dua kemungkinan yang berbeda. Bahkan beberapa waktu aku tak bisa menahannya, aku tiba-tiba tertawa sendiri dengan keras.

Aku tak merasa kepanasan, walaupun kita tahu matahari Surabaya begitu panas ketika siang hari. Nyaris tak merasakan panas. Padahal ketika mulai menapakkan kaki di rel Margomulyo matahari bertengger gagah tepat di atas kepala. Kembali lagi, tak jelas dan tak bisa dijelaskan. 

*

Sial, kenapa dia datang lagi. Kepalaku seketika berputar seperti diterjang puting beliung. Kerap datang ketika aku luput dari fokus. Bajingan itu, ah tak apa kali ini aku menghardik. Ini memang sangat menjengkelkan.

Dia datang sekelebat memotong dari kiri ke kanan tepat di depan arah langkahku. Selalu tak jelas bentuknya, namun aku tahu itu merupakan sesuatu yang sama. Mungkin jin, setan, atau mahkluk astral lainnya. Karena datang bersama terik matahari, ia serupa fatamorgana, ada tapi tak nyata, tapi ada terlihat, tapi tak ada. Tak jelas dan tak bisa dijelaskan.

Setiap ia datang kepalaku terasa nyeri, dan perutku mual seraya mengingat lagi wanita bertelapak kaki besar sebelah itu. Iya, ukuran telapak kaki kanannya lebih besar. Selisihnya lumayan terlihat dari kaki kirinya. Setiap ia membeli sepatu selalu kebingungan memilih ukuran yang paling nyaman di pakai, nyaman di kanan dan masih bisa ditoleransi kaki kiri. Sungguh ribet. Untung aku tak jadi hidup lama dengannya. Yang pasti kepalaku nyeri, perutku mual hebat ketika mengingatnya.

Kejadian setelah subuh itu penyebab pastinya. Menjijikkan. Dengan tak sengaja aku melihatnya bercumbu dengan pria tua yang ku anggap buruk rupa. Dengan jambang yang bentuknya sudah tak karuan, badannya besar kekar, tapi tetap saja di mataku ia buruk rupa. 

Ah, aku membayangkan pasti bau mulutnya tak karuan, jambangnya yg tak terawat pasti berbau apek! Namun wanita itu mencumbunya dengan mambabi buta, beda ketika bercumbu denganku yang terlihat gelisah.

Selalu merasa mual, pusing, dan menghadirkan kesakitan lainnya ketika teringat wanita itu. Tapi sampai saat ini tak mau ku sebut dia sebagai penyebab aku meninggalkan Surabaya. Aku tak sepayah itu, tak sudi merendah untuknya.

Aku tetap melangkah ke depan dengan kepala yang terasa kian berat. Tak lagi peduli apa atau siapa yang mengikutiku dari belakang, entah dia, entah setan, atau bahkan pria tua berwajah buruk rupa itu. Yang kutahu, semua bayangan itu pada akhirnya akan memudar, terkikis oleh jarak dan waktu yang terus berjalan.

*

Hingga akhirnya aku tiba di Stasiun Cerme, stasiun kecil di Gresik bagian selatan. Aku tahu persis tempat ini, aku sangat akrab dengan jalur rel utara Jawa. Ya, rel yang kulalui ini adalah jalur utara, membentang di sepanjang pantura Pulau Jawa, melewati kota-kota seperti Lamongan, Babat, Bojonegoro, Cepu, Semarang, Cirebon, hingga Jakarta. 

Ada banyak wajah yang kujumpai, mungkin ratusan, bahkan ribuan. Namun tak ada satu pun yang benar-benar memandangku dengan pasti. Kulihat mereka hanya melirik dengan ujung ekor mata. Tak jadi masalah bagiku. Hingga akhirnya, ketika aku berhenti sejenak dan duduk di dekat Stasiun Cerme, ada seorang wanita yang lumayan mirip dengan Wanita bertelapak kaki besar sebelah, sosok yang selalu membuatku mual. Aku tahu persis dia akan menghampiriku. Seketika aku memalingkan wajah, seakan memberi isyarat bahwa aku tak menginginkan interaksi apa pun dengannya.

“Mengapa kau di sini?”

Sepertinya dia menghiraukan aku yang acuh terhadap kedatangnya. Ia tetap memaksa ngobrol denganku.

“Kau dari mana? Mengapa di sini?” pertanyaannya meluncur ringan saja.

“Kau kini tak bisa bicara?”

Aku benar-benar yakin belum pernah mengenal wanita ini. Walaupun wajahnya mirip wanita bertelapak kaki besar sebelah, aku sangat yakin bahwa ini bukan dia.

Tetapi mengapa dia berlagak mengenalku?

Mengapa dia tampak peduli padaku?

“Wanita itu kemana?”

Pertanyaannya semakin membuatku bingung. Dia berlagak seperti benar-benar mengenalku. Aku semakin kesal dengan keadaan ini.

Aku tetap teguh, tak ku respons sedikit pun pertanyaan-pertanyaan itu. Tak ada alasan pasti, namun aku ingin melakukannya saja. Tak jelas memang, dan tak bisa dijelaskan.

Aku lebih memilih untuk memejamkan mata. Sangat dalam. Hingga aku merasa terjun di kegelapan. Semakin keras ku pejamkan telingaku mati tak mendengarkan, sunyi. Sunyi tapi bukan sepi, seperti kedap suara. 

Hilang begitu saja. Saat mata ku buka kembali wanita itu hilang begitu saja.

Apakah dia bisa menghilang, atau dia ikut tenggelam pada kegelapanku tadi?

Ah tak penting, toh aku tak mengenalnya.

Sepertinya sudah lumayan panjang rel kereta yang kutapaki. Sepanjang itu aku tak merasakan panas matahari.

Apakah ini malam?

Sepertinya bukan.

Orang-orang lalu-lalang. Terang benderang. Tak ada kegelapan. Langit hitam, tapi aku tak yakin itu mendung, tapi aku tetap yakin ini siang. Tak jelas, dan tak bisa dijelaskan.

 

Sarjana sastra yang hilang arah. Menjadi guru Bahasa tetapi dibuat hilang arah oleh pemerintah. Lahir di kota yang katanya kaya dengan minyaknya, tapi UMR tak cukup untuk membeli Dr. Martens baru. Didewasakan oleh gang-gang sempit Jojoran di Surabaya, dari berharap jadi kaya hingga gagal jadi kaya. Mari bersua di Instagram @anggaditiyak. Hidup JKW!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

You might also like
Yuk Berkawan

Bareng-bareng kita berkarya dan saling berbagi info nongkrong di grup whatsap kami.

Promo Gack dulu, dech Ayooo Berangkat!